Lenin dan Partai Garda Depan Revolusioner - WENAS KOBOGAU

WENAS KOBOGAU

Percikan Bunga Api Untuk West Papua

test banner

Breaking

Post Top Ad

Responsive Ads Here

Post Top Ad

Responsive Ads Here

Senin, 29 Februari 2016

Lenin dan Partai Garda Depan Revolusioner

Untuk memperingati hari kelahiran Lenin 145 tahun yang lalu, pada 22 April 1870, kami sajikan sebuah artikel dari Pandu Jakasurya yang mengupas salah satu gagasan utama Lenin mengenai partai garda depan revolusioner.
Salah satu gagasan besar VI Lenin adalah gagasan tentang partai garda depan revolusioner (revolutionary vanguard party, RVP). Keampuhan RVP terbukti dalam Revolusi Oktober 1917, ketika di bawah pimpinan Partai Bolshevik kelas buruh dan tani Rusia berhasil merebut kekuasaan dan rezim borjuis Pemerintahan Sementara dan mendirikan negara buruh yang kemudian termashyur dengan nama Uni Soviet. Tapi RVP juga mengalami distorsi  Stalinis (=diputarbalikkan oleh kaum Stalinis) dan fitnah para pembela Kapitalisme. Distorsi dan fitnah itu sedemikian rupa, sehingga bagi sebagian orang RVP tidak lain dari elitisme revolusioner melalui kediktatoran partai.
Dalam perjuangan kelas di bawah Kapitalisme, kelas buruh perlu memiliki partai politiknya sendiri. Bukan semata-mata sebagai partai yang “mewakili” mereka – melalui pemilu – dalam kancah politik parlementer seperti partai-partai buruh atau partai-partai sosdem di negeri-negeri kapitalis maju. Lebih dari itu, partai politik ini mengemban amanat untuk memimpin kelas buruh secara militan dalam perjuangan revolusioner menggulingkan Kapitalisme dan membangun Sosialisme. Itulah RVP!

Lenin menegaskan bahwa RVP terdiri dari “kaum revolusioner profesional”, yakni kaum buruh yang memiliki kesadaran kelas yang paling maju serta orang-orang dari kelas lain yang telah mengkomitmenkan hidup mereka pada perjuangan revolusioner menggulingkan Kapitalisme dan mendirikan Sosialisme. Secara khusus mereka dididik dan dilatih seturut dengan “teori dan praksis revolusioner proletariat,” yakni Marxisme. Ditempa dengan disiplin baja, mereka terlibat dalam pertempuran-pertempuran langsung melawan negara kapitalis, dan berada di front terdepan dalam membangun gerakan Sosialis. Mereka menghidupi kombinasi unik dari demokrasi (kebebasan berpendapat: berdiskusi dan berdebat hingga pengambilan keputusan) dan kesatuan aksi (dalam rangka melaksanakan keputusan bersama). Mereka menjalankan suatu gaya kepemimpinan yang diberi wewenang untuk bertindak lugas dalam keadaan-keadaan darurat, namun tunduk dan bertanggungjawab kepada Kongres. Kombinasi unik ini dikenal dengan nama Sentralisme-demokratik.   

Gagasan besar Lenin ini berakar kuat dalam keyakinan Marxis: kelas buruh adalah pembebas diri sendiri. Pembebasan kelas buruh, yang terdiri dari penggulingan Kapitalisme dan pembangunan Sosialisme, adalah proses sekaligus hasil dari aksi sadar dari kelas buruh itu sendiri. (Jadi, bukan sebagai anugerah dari kelas penguasa, bukan pula hasil perjuangan segelintir orang hebat yang rela berkurban jiwa-raga demi rakyat yang tertindas! Bagi kaum Marxis jelas: kelas penguasa tidak akan membagi apalagi menyerahkan kekuasaan yang menjadi basis sosial hak-hak istimewanya kepada kelas buruh. Kaum Marxis juga tidak mempercayai Mesianisme).

Pada saat yang sama, gagasan besar Lenin juga berakar kuat dalam realisme Marxis: kesadaran kelas proletariat tidak merata, sementara kelas penguasa terus berusaha melumpuhkan mereka melalui instrumen ideologis (agama, filsafat, pendidikan, hiburan, dsb.) dan instrumen kekerasan (negara dengan alat-alat kekerasannya: sistem hukum, aparat hukum, dan tentara).

Keyakinan dan realisme Marxis ini mengharuskan adanya sebuah partai proletariat yang bisa bergerak dengan lincah untuk (1) melawan represi kelas penguasa kapitalis; (2) membangkitkan kesadaran kelas proletariat; (3) mengupayakan agar “teori dan praksis revolusioner proletariat” menjadi milik kelas proletariat; (4) serta mengorganisir dan memobilisir massa proletariat dalam  perjuangan memenangkan reforma dan revolusi. Dalam konteks Rusia di awal Abad XX, dengan rezim Tsaris yang sangat represif, kebutuhan akan sebuah partai garda depan revolusioner tidaklah bisa ditawar-tawar lagi.
Dalam What is to be Done? (Apa yang Harus Dilakukan? [1903]), Lenin meringkaskan gagasan besarnya sebagai berikut:
           
Pertama, tidak ada gerakan revolusioner bisa bertahan tanpa sebuah organisasi yang stabil dari para pemimpin yang mempertahankan kesinambungan;

Kedua, semakin luas massa rakyat tertarik secara spontan ke dalam perjuangan, yang membentuk basis dari gerakan dan berpartisipasi di dalamnya, kebutuhan akan organisasi macam itu semakin mendesak, dan organisasi tersebut harus semakin solid (karena jauh lebih mudah bagi segala macam demagogi untuk membelokkan seksi-seksi massa yang lebih terbelakang);

Ketiga, bahwa organisasi macam itu terutama harus terdiri dari orang-orang yang secara profesional terlibat dalam aktivitas revolusioner;

Keempat, bahwa dalam sebuah negara otokratik, semakin kita membatasi keanggotaan organisasi macam itu pada orang-orang yang terlibat secara profesional dalam aktivitas revolusioner dan telah dilatih secara profesional dalam seni melawan polisi politik, akan semakin sulit organisasi itu dikalahkan; dan

Kelima, semakin besar jumlah orang dari kelas buruh dan dari kelas-kelas sosial lain yang akan mampu bergabung dengan gerakan dan melakukan pekerjaan aktif di dalamnya.

Di jantung hati gagasan besar Lenin tentang RVP terletak kebenaran sederhana: kaum revolusioner, baik dari kelas buruh maupun dari kelas-kelas lain yang mengkomitmenkan diri pada penggulingan Kapitalisme dan pembangunan Sosialisme, harus berhimpun di dalam sebuah organisasi tunggal. Tujuannya: memusatkan dan mengkoordinasikan segala upaya pembebasan proletariat.

Organ perjuangan kita, Militan, berpegang pada gagasan besar Lenin ini. Sungguh, kita sedang membangun sebuah partai seturut dengan tradisi Bolshevik yang sejati. ***

Sumber :www.militanindonesia.org

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Post Top Ad

Responsive Ads Here