Berta Cáceres, Aktivis Masyarakat Adat Honduras, Dibunuh Di Rumahnya - WENAS KOBOGAU

Breaking

WENAS KOBOGAU

Percikan Bunga Api Untuk West Papua

test banner

Post Top Ad

Responsive Ads Here

Post Top Ad

Responsive Ads Here

Sabtu, 05 Maret 2016

Berta Cáceres, Aktivis Masyarakat Adat Honduras, Dibunuh Di Rumahnya



Berta Cáceres, seorang aktivis lingkungan dan masyarakat adat di Honduras, dibunuh oleh dua orang penyerang di rumahnya di La Ezperanza, provinsi Intibuca, Honduras, Kamis (3/3/2016).  
Pihak keluarga yakin, pembunuhan itu terkait dengan aktivitas perjuangan Berta membela hak-hak masyarakat adat dan menentang korporasi yang merusak lingkungan.
“Aku tidak ragu untuk mengatakan bahwa dia dibunuh karena perjuangannya. Dan polisi serta orang-orang bendungan harus bertanggung jawab. Saya yakin itu,” kata ibu kandung Berta yang sudah berusia 84 tahun kepada radio Globo.
Anak perempuan Berta, Berta Isabel Zuñiga Caceres, menuding perusahaan yang berada di balik proyek bendungan Rio Blanco dan pemerintah Honduras sebagai pihak yang harus bertanggung jawab atas pembunuhan Berta.
Pembunuhan aktivis memang marak di Honduras. Menurut Global Witness, Honduras merupakan negara paling mematikan bagi para pejuang hak azasi manusia dan lingkungan. Antara 2010-2014, sudah ada 101 pejuang lingkungan yang dibunuh di negeri yang dijuluki “Republik Pisang” ini.
Pembunuhan Berta menuai kecaman banyak orang. Di Tegucigalpa, ribuan orang melepas jenazah Berta. Mereka menuntut investigasi independen atas pembunuhan Berta.
“Berta Cáceres adalah aktivis masyarakat adat terkemuka di Honduras. Dia menghabiskan hidupnya untuk membela hak-hak masyarakat adat, khususnya hak atas tanah dan sumber daya alam,” kata Karen Spring, kawan seperjuangannya.
Aktor terkemuka yang baru saja memenangkan penghargaan Oscar 2016, Leonardo DiCaprio, juga menulis di akun twitternya: “Kabar duka luar biasa dari Honduras. Kita sungguh menghormati seluruh sumbangan yang berani dari (perjuanngan) Caceres.”
Berta lahir dan besar di tengah kekerasan yang melanda Amerika Tengah tahun 1980-an. Ibunya, seorang bidan dan aktivis sosial, mengajarinya kepedulian terhadap kaum yang tertindas ketika usianya masih muda.
Saat kuliah, Berta menjadi aktivis mahasiswa. Di situ dia mulai bersentuhan dengan persoalan-persoalan rakyat di sekitarnya, terutama masyarakat adat.
Tahun 1993, dia turut mendirikan Majelis Nasional Organisasi Masyarakat Adat (COPINH). Organisasi ini berjuang membela hak-hak masyarakat adat dari penebang kayu illegal dan korporasi yang merampas tanah adat.
Berta menjadi tokoh penting dalam perjuangan masyarakat adat Lenca menentang proyek bendungan Agua Zarca, sebuah proyek kontroversial di Rio Blanco, karena merusak sungai dan kehidupan masyarakat sekitar.
Tahun 2009, dia menjadi tokoh penting di balik perlawanan menentang kudeta militer yang menggulingkan Presiden resmi Manuel Zelaya.
Tahun 2015, karena perjuangannya dalam membela lingkungan dan hak-hak masyarakat adat, Berta meraih penghargaan Goldman Environment Prize.
Namun, perjuangan Berta tidak gampang. Dia kerap mendapatkan ancaman pembunuhan dan penculikan. Namun, semua itu tidak mengendurkan semangat juangnya.
Hingga, pada Kamis dini hari lalu, ancaman itu benar-benar terbukti. Dua orang penyerang datang ke rumahnya dan melepaskan tembakan. Empat peluru telah merenggut nyawanya.
Selamat jalan, Pejuang!
Raymond Samuel


Sumber Artikel: http://www.berdikarionline.com

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Post Top Ad

Responsive Ads Here