Fidel Castro: Kuba Tidak Butuh Kado Apapun Dari Amerika Serikat - WENAS KOBOGAU

WENAS KOBOGAU

Percikan Bunga Api Untuk West Papua

test banner

Breaking

Post Top Ad

Responsive Ads Here

Post Top Ad

Responsive Ads Here

Selasa, 29 Maret 2016

Fidel Castro: Kuba Tidak Butuh Kado Apapun Dari Amerika Serikat

Kunjungan Presiden Amerika Serikat (AS) Barack Obama ke Kuba, Minggu (20/3) lalu, menjadi perbincangan hangat banyak orang di berbagai belahan dunia. Tidak sedikit yang menilai, Kuba di bawah Raul Castro sudah melunak di hadapan AS.
Tetapi anggapan itu segera ditepis oleh pemimpin revolusi Kuba, Fidel Castro. Melalui  artikel berjudul El hermano Obama, yang dimuat oleh Cuba Debate, Senin (28/3), Fidel memberikan bantahan.
“Kuba tidak butuh kado apapun dari  Imperialis,” tulis pemimpin revolusioner yang sudah berusia 89 tahun itu.
Menurut Fidel, tidak seorang boleh terilusi bahwa rakyat yang hidup negeri yang mulia dan berdikari akan menyerahkan hak-hak dan kekayaan rohani yang dimenangkan melalui kemajuan pendidikan, ilmu pengetahuan, dan kebudayaan di bawah revolusi.
Dia juga menambahkan, Kuba dapat memproduksi makanan dan kebutuhan material yang dibutuhkan untuk menghidupi dan mencerdaskan rakyatnya.
Lebih lanjut, Fidel mengaku tercengang ketika Obama mengatakan, “lupakan masa lalu, lihatlah masa depan”. Mendengar pidato Obama itu, Fidel mengaku seperti mendapat “serangan jantung”.
Betapa tidak, di mata Fidel, pernyataan Obama itu seolah mau menutupi kejahatan imperialisme AS di masa lalu. Mulai dari embargo yang berlangsung 60 tahun, serangan tentara bayaran melalui invasi teluk Babi, pengeboman pesawat komersil Kuba, dan banyak kejahatan lainnya.
Lebih jauh, Fidel juga menyarankan Obama agar jangan mengumbar teori mengenai politik Kuba.
Fidel juga menyinggung soal bagaimana revolusi Kuba berhasil menggulung praktek rasialisme di negeri. Ini sekaligus sindiran terhadap Amerika Serikat yang belum terbebas dari penyakit rasialisme.
“Penduduk asli tidak ada dalam pikiran Obama. Dia tidak tahu diskriminasi rasial tersapu oleh Revolusi. Bahwa pensiuan dan gaji yang adil untuk seluruh Kuba (tanpa memandang ras) sudah berlaku ketika Obama masih berumur 10 tahun,” tulis Fidel.
Memang, kunjungan Obama ke Kuba pekan lalu itu merupakan peristiwa bersejarah. Terutama dalam kerangka normalisasi diplomatik kedua negara.
Sayangnya, masih banyak persoalan yang mengganjal normalisasi tersebut, seperti soal embargo ekonomi yang belum dicabut, kebijakan imigrasi AS yang merugikan Kuba, penjara Guantanamo, dan strategi jangka panjang AS yang masih terus mendorong perubahan rezim di Kuba.
Soal faktor yang menghambat normalisasi Kuba-AS, kami sarankan anda membaca artikel ini.
Raymond Samuel


Sumber Artikel: www.berdikarionline.com

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Post Top Ad

Responsive Ads Here