Gerhana Matahari Jaman Suharto - WENAS KOBOGAU

WENAS KOBOGAU

Percikan Bunga Api Untuk West Papua

test banner

Breaking

Post Top Ad

Responsive Ads Here

Post Top Ad

Responsive Ads Here

Selasa, 08 Maret 2016

Gerhana Matahari Jaman Suharto

sumber foto : Detik

Tak ada yang menarik bila mengenang Gerhana Matahari di masa Orde Baru, bulan Juni 1983. Saat itu fenomena alam yang biasa menjadi luar biasa karena sentuhan kekuasaan.
Suharto dididik dalam alam pikir Jawa, kekuasaan cara Jawa inilah yang kemudian dijadikan caranya bertindak dan menafsirkan kendali atas masyarakatnya. Gerhana Matahari dalam penafsiran kultur Jawa dianggap sebagai sebuah anomali alam, dalam dunia wiracirata dunia wayang Jawa terjadi karena Batara Kala marah pada Dewa Matahari, Surya. Ia menelan Matahari untuk beberapa saat dan menjadikan dunia kelam, lalu datanglah Batara Guru untuk menyelesaikan.
Saat kekelaman itu, dunia buruk bawah tanah bermunculan, orang orang harus masuk dalam rumah karena hawa buruk yang timbul. Pemerintahan Suharto bahkan secara resmi mempropagandakan agar rakyat tak melihat langsung matahari karena ditakutkan akan buta mendadak. Dalam alam cerita Jawa memang ketika dewa-dewa langit dianggap berperang maka orang biasa dilarang menyaksikan, sesungguhnya ini alam tafsiran elitis untuk membentuk mitos masyarakat, bahwa ketika elite bertempur rakyat harus menjaga jarak, artinya disini : Suharto menciptakan mitos agar rakyat berjarak dengan elite, dengan kaum pejabat yang memang ditafsirkan seperti alam langit di kalangan rakyat jelata.
Orde Baru Suharto adalah Orde Pejabat, ukuran kendali kekuasaan adalah indikator paling utama keberhasilan pejabat dalam evaluasi pembangunan, ketika Suharto mengataken "Jangan langsung melihat ke arah Matahari yang terhampar bayangan bulan" maka rakyat mematuhinya, semua Gubernur memberiken instruksi yang juga tidak masuk akal sehat, seperti kendaraan tidak boleh berhenti sehingga rakyat tidak boleh memandang sinar matahari yang sedang diliputi gerhana, kepercayaan bercampur dengan perintah penguasa menghasilkan rakyat yang ketakutan memukul kentongan dan ngumpet di kolong tempat tidur. Inilah cara Suharto melihat bagaimana bawahannya memiliki kendali atas rakyatnya, walaupun perintahnya irasional, seperti ketika seluruh genteng genteng, pagar sampai tiang tiang berwarna kuning sama dengan warna Golkar, sampai ada ungkapan guyon "gigi-pun harus kuning" ketika Suharto mencoa mengendalikan politik rakyat melawan kebangkitan PDI di Jawa Tengah.
Namun di jaman Suharto, seperti juga ekonominya yang terdiri dari dua hal : Ekonomi Regulasi yang terhormat dan Ekonomi malam selundupan dan korupsi, maka begitu juga alam sosialnya yang terdiri dari hal : Alam Sosial yang Irasional seperti menciptakan mitos gerhana matahari namun juga memunculkan di muka publik pengetahua yang detil dan dingin, di TVRI yang menyiarkan secara langsung Gerhana Matahari 1983, tampil seorang ilmuwan perempuan cantik menjelaskan fenomena Gerhana Matahari secara ilmiah, dalam panggung inilah Pemerintahan Suharto juga bekerja masuk ke alam modern-nya.
Jaman Suharto adalah jaman yang unik, ketika kekuasaan didukung oleh mitos dan ketakutan seperti Gerhana Matahari 1983.

Ditulis : Anton Dwisunu Hanung Nugrahanto, 9 Maret 2016, 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Post Top Ad

Responsive Ads Here