Hai Wanita Jangan Manja, Malu Sama Mama Papua - WENAS KOBOGAU

WENAS KOBOGAU

Percikan Bunga Api Untuk West Papua

test banner

Breaking

Post Top Ad

Responsive Ads Here

Post Top Ad

Responsive Ads Here

Rabu, 16 Maret 2016

Hai Wanita Jangan Manja, Malu Sama Mama Papua

Mama yang mengangkut barang dengan noken (Afif/detikTravel)
Mama (sebutan familiar bagi wanita yang sudah menikah) di Papua bakal bikin traveler geleng-geleng kepala. Sehari-hari, aktivitas mereka tak kalah berat dari para pria. Bahkan, sanggup berjalan kaki berjam-jam memikul barang seberat puluhan kilogram.

Ketika sedang berada di Ugimba, desa terakhir sebelum menuju Puncak Carstensz pekan lalu, saya berkesempatan mengenal kehidupan suku Moni lebih dekat. Termasuk, melihat kegiatan sehari-hari mereka.

Satu hal yang mencuri perhatian, adalah para mama. Tugas untuk berkebun, seperti menanam kol, ubi dan sayur mayur lainnya menjadi rutinitas mereka. Selain juga yang pastinya, mengurus anak.

"Mama-mama ini tiap pagi memasak lalu berkebun. Mereka menanam dan merawat sayur-mayur. Kemudian, mama-mama juga harus mengurus anak. Berat itu pekerjaannya," tutur Malama, salah satu pria yang dituakan di Ugimba yang mendampingi tim Ekspedisi Jurnalis ke Carstensz 2015 kepada saya.

Saya sebenarnya, ingin langsung mengobrol kepada para mama. Namun sayang, hanya sedikit mama-mama di sana yang bisa berbahasa Indonesia sehingga Malama-lah yang menjadi narasumber saya.

Memasuki siang hari, para mama biasanya mengambil air ke sungai. Kemudian kembali mnerawat anak, kembali berkebun atau memilah makanan yang akan disantap untuk malam hari. Yang menarik, ketika mengambil sayuran atau air ke sungai, peralatan mereka cuma satu yakni noken. Tas yang terbuat dari serat kulit kayu.

"Mereka ambil sayur, ambil air, semua pakai noken. Noken itu ditaruh di dahi yang sudah dikasih baju atau kain (bentuknya menyerupai bantalan-red) supaya tidak terlalu sakit dan membekas. Sekali angkut barang itu, bisa 20 kilo," papar Malama.

Benar kata Malama, para mama memang kuat membawa barang-barang menggunakan noken. Ukuran noken yang besar pun bisa memuat berbagai barang. Termasuk, untuk menggendong anak hingga menaruh babi!

Sebelum sampai di Ugimba, yaitu di Desa Sugapa, saya juga sempat melihat beberapa mama yang menggenakan noken. Bedanya, di sana mereka justru menggunakan noken untuk mengangkut barang-barang yang lebih berat seperti kayu hingga batu-batu kali.

"Para mama itu kuat, kuat angkut banyak barang. Kalau kami yang lelaki itu banyaknya ke hutan untuk berburu dan mama yang mengurus sisanya," kata Malama.

Sebenarnya, bukan semenjak para wanita jadi mama melakukan hal-hal seperti itu. Mereka melakukannya sejak dari remaja. Bahkan, mereka pun sanggup menjadi porter untuk mengangkut barang-barang para pendaki yang mau ke Puncak Carstensz.

Mama-mama yang kuat tersebut, jadi cerita berharga yang saya dapat dari Bumi Cendrawasih ini. Mereka siap membanting tulang sekaligus membesarkan anak. Mereka tidak kalah dengan suaminya, yang juga seharian masuk ke hutan belantara untuk berburu demi mencari makan. Jadi siapa bilang, kalau wanita itu harus manja...

(shf/shf) 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Post Top Ad

Responsive Ads Here