Imperialisme Budaya - WENAS KOBOGAU

WENAS KOBOGAU

Percikan Bunga Api Untuk West Papua

test banner

Breaking

Post Top Ad

Responsive Ads Here

Post Top Ad

Responsive Ads Here

Sabtu, 05 Maret 2016

Imperialisme Budaya

Ilustrasi Imperialisme Budaya (foto. http://kotakita.weebly.com/)
Oleh Wenas Kobogau #

Imperialisme budaya memiliki berbagai tujuan. Tujuan ekonomi berupa ekspor komoditi hiburan ( entertainment) . Tujuan politik menguasai pasar untuk komoditi budaya dan membangun hegemoni degan cara merusak atau memandulkan kesadaran rakyat dengan cara pengembangan individualisme. Akibatnya, sumber terpenting pemupikan (akumulasi) modal dan laba secara global ( menggantikan ekspor produk manufaktur) dan kemudian memisahkan rakyat dari akar budaya dan solidaritas tradisionalnya yang digusur oleh media yang memciptakan terjadinya perubahan kebutuhan melalui kampanye besar-besaran.

Imperialisme bubaya memdorong terbentuknya pemahaman bahwa perbedaan strata social dianggkap oleh warga sebagai bagian dari hirarki dalam gaya hidup, ras, maupun citra atau derajat bukan sebagai akibat dari ketidak adilan. Ekpolitasi budaya dan politik melalui hiburan dan iklan meyebabkan generasi muda sebagai kelompok sasaran, karenan sangat rentan terhadap propaganda komersial yang ditempeli mark “ modernitas”. Generasi muda dianggap mewakili komsumen utama dari pasar ekspor budaya (Negara lain). Mereka memiliki kecenderungan yang tinggi untuk menerima propaganda individualistik-konsumeristik. Media masa memanipulasi “ sifat pemberontak” yang dimiliki oleh para pemuda dengan cara menggunakan “ bahasa kaum muda” dan menyalurkan ( konalisasip) ketidakpuasan mereka ke arah pembentukan waktak konsumtif yang luar biasa dengan mengunakan produk media asing untuk mengarahkn hidup secara konsumtif. Imperialisme budaya difokuskan kepada generasi muda sebagai pasar, dan dengan alasan politik, yaitu untuk mencega ancaman politis yang dapat mendorong pemberontakan individu menjadi perlawanan politis untuk melawan bentuk-bentuk pengendalian dan pengawasan terhadap ekonomi dan budaya.

Imperialisme budaya menggantikan peran manufaktur sebagai salah satu sumber kekayaan dan kekuatan kapitalis internasional media masa telah dijadikan bagian integral dari system poitik dan control sisial global , selain itu juga menjdi sember utama perolehan laba. Di antara 400 orang Amerika serikat yang terkaya, persentase perolehan kekayaan dari media masa meningkat dari 9,5% pada tahun 1982 menjadi 18% pada tahun 1989, dan di tahun 2016 berapa banyak orang kaya yang berada di Amerika Serikata dari hasil media masa. Kini hamper seorang dari lima orang terkaya di Amerika Utara memperoleh kekayaan dari media masa. Sejaka meningkatnya ekspolitasi, ketidak-adilan, dan kemiskinan di dunia ketiga, komunikasi massa yang dikendalikan oleh batar beroperasi untuk memgubah massa yang kritis menjadi massa yang pasif.

Meningkatnya penetrasi media masa ke masyarakat miskin, peningkatan investasi dan laba di perusahan-perusahan di bidan komoditi budaya, dan membanjirnya penyajian tontonan kepada warga yang miskin tentang petualangan dan komsumsi individual yang seoleh-olah dialami dan dinikmatinya sendiri dengan jelas menujukkan wujud nyata ancaman imperialism-kolonialisme budaya dewasa ini.

Televisi satelit dan media masa Indonesia,AS, Eropa dan Amerika Latin mencegah atau menghindari penayangan dan publikasikan setiap kritik mengenai kondisi politik-ekonomi penduduk asli dan akibat-akibat yang ditimbukan oleh imperialism budaya baru yang secara temporet ,mengakibatkan disorientasi dan kemandulan mobilisasi jutan rakyat miskin Amerika Latin.

Imperialisme dan politik bahasa (dari ipmerialisme budaya) mengembangkan dua strategi yaitu mengadapi kaum muda dan membangun hegemoni. Di satu pihak, memanipulasi (memlintir pengertian) bahasa politk kaum muda, dan di lain pihak mengurangi dan mematikan  kepekaan khalayak ramai terhadap pembantaian yang di lakukan oleh kekuatan Barat. Media masa Barat dan Indonesia secara sistematik “merampas” ide dasar kaum muda, menguras habis isinya yang asli dan mengisinya dengan materi reaksioner, misalnya, media masa meyebut politisi yang bermaksud membangun kembali kapitalisme dan memdorong terwujudnya ketidak adilan sebagai “reformis” atau “revolusioner” , sedangkan lawannya diberi cap “konservatif”.

Imperialisme budaya berupa memciptakan kekacauan atau kehancuran ideology dan disorientasi politik dengan cara memutar balikkan arti bahasa politik. Banyak sekali orang-orang yang progresif mengalami disorintasi karena manipulasi ideologi.

Pengikisan dan penghancuran kepekaan masyarakat anatara lain, melalui pembuatan “video gems” tentang invasi brutal terhadap irak, yang membuat pembantaian massal yang dilakukan oleh Negara-negara barat menjadi kegiatan-kegiatan yang bersifat hobi yang menghibur dan dapat di terima oleh masyarakat. Menganggap “sepele” kejahatan terhadap pri kemanusiaan dan membuata masyarakat tidak lagi peka terhadap kepercayaan tradisionalnya, yaitu memciptakan penderitaan bagi sesama adalah sikap dan tindakan yang salah.

Norma budaya baru memperliahatkan pribadi lebih tinggi dari pada publik, individu lebih tinggi dari pada masyarakat, sensasi dan kekerasan lebih menojol dari pada perjuangan sehari-hari dan realitas social semuanya secara tepat menempatkan nilai-nilai egosentris yang meremekan gerakan kolektif yang berupa budaya cirtra, pengalaman sesaat, kenikmatan seksual, dan bekerja tanpa tenggang rasa yang sangat berlawanan dengan nilai-nilai perhatian/atensi, komitmen, berbagi rasa persahabatan, dan solidaritas.

Amerikanisasi atau Westernisasi budaya mengandung arti memfokuskan perhatian masyarakat kepada selebritis, hal-hal yang bersifat pribadi dan gossip pribadi bukan pada kedalaman sisial, hal-hal substantif  dalam ekonomi dan kondisi manusia. Imperialisme budaya mengalihkan perhatian rakyat dari hubungan kekuasaan dan mengikis his bentuk kolektif gerakan masyrakat.

Imperialisme budaya menjauhkan dari kenyataan bahwa rakyat memiliki pengalaman pribadi mengenai kesengsaraan dan ekspolitasi oleh bank multinasional barat, kekejaman train oleh polisi dan militer yang didukung oleh AS. Kenyataan sehari-hari tersebut yang tidak dapat diubah oleh media yang “ menjual” mimpi atau kayalan.

“ Rekonversi” adalah penghalusan (euphemism) untuk mengatakan “ kembali mundur” kea bad 19 yang menghapus semua tunjangan social bagi para buruh. “ Restrukturalisasi” brarti kembali kepada spesialisasi di bidang bahasa mentah atau transfer penghasilan dari produksi kea rah spekulasi. “Deregulasi” berarti pengalihan kekuasan untuk mengatur perekonomian dari Negara dengan kesejaterahan nasonal kepada perbankan internasional, yang tak lain adalah elit kekuatan multinasional “Penyesuaian struktural” di Amerika Latin berarti pengalihan (transfer) sumber daya kepada investor dan penyusutan pembayaran (upah) kepada buruh.

Keretbatasan imperialism budaya dalam menipu dan “mempesona” rakyat dapat dilihat dari program televise yang menyajikan kemewaan sangat kontras dengan “ dapur yang tidak mengpulkan asap” .Khayalan yang romatis dan sensual yang dijual oleh media masa rontok sirna oleh kenestapan dan jerit kelaparan anak-anak. Pesona (iming-iming) fantasi kemewahan yang dijual oleh media masa disapa bersih oleh proses pemiskinan yang berkepanjangan dan kebobrokan yang luas. Contohnya dalam pertempuran di jalan-jalan, Coca-coca malahan dijadikan bom Molotov dengan sasaran pasukan pepbela penguasa kapitalistik. Janji kemewahan hidup menjadi pelecehan oleh mereka yang secara konsisten menolak. Janji-janji palsu imperialism budaya menjadi objek olok-olok yang getir dari waktu ke waktu dan dari satu tempat ke tempat lain.

Lawan Imperialisme Budaya dengan melestarikan budayamu sendiri kawan-kawan , jangan muda terpengaru dengan media nasional dan internasonal yang mana mau menghilangkan budaya teradisonal  untuk memperkaya kapitalis.

Wenas K ’’ Budaya adalah senjata pemusnah Kapitalisme”


Penulis Adalah Anggota AMP KK Bandung Jawa Barat

 ----------------------------------------------------------------------------
Refrensi

Hinu Endro Sayono ,Imperialisme Budaya : Peran Strategis Birikrat Yang Korupsi ( disadur dari Prof. Dr. James Petrus)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Post Top Ad

Responsive Ads Here