Intelektual Kapitalis - WENAS KOBOGAU

WENAS KOBOGAU

Percikan Bunga Api Untuk West Papua

test banner

Breaking

Post Top Ad

Responsive Ads Here

Post Top Ad

Responsive Ads Here

Minggu, 13 Maret 2016

Intelektual Kapitalis

The-Intellectual-Capital-of-MADE-MEN
Entah kenapa kalau ada orang Indonesia yang memuja ‘berhala kapitalis’ rasanya pengen gw tanggepin atau sekedar komen deh… Well ini kan jaman ‘demokrasi’ yah jadi boleh dong gw sotoy-sotoy-an dikit nanggepin hal-hal yang dikemukakan orang lain hehehehehe :)
Hari ini gw baca sebuah artikel yang bagus, beneran deh.. judulnya “Tafsir Realitas atas hari Kebangkitan Nasional” artikel selengkapnya bisa dilihat disini sebetulnya artikel tersebut merupakan sebuah artikel tanggapan dari artikel yang berjudul “Revolusi Mental, Banalitas Akut, dan Kebangkitan Nasional” selengkapya bisa dilihat disini nah tetapi ada beberapa poin yang gw tidak bisa sepemahaman dari artikel yang berjudul “Tafsir Realitas atas hari Kebangkitan Nasional” tersebut.
Di awal baca artikel itu ada beberapa poin yang setuju sama kakak penulisnya, tapi pas baca bagian kapital, private sector dan lain-lain agak gemes juga, hehehe. Pendidikan, pergaulan, dan lingkungan hidup memang mempengaruhi pembentukan opini maupun pola pikir seseorang. Kakak penulis itu ‘keren’ sih ya dia calon kandidat PhD dari sebuah universitas ternama di luar negeri, jadi ga heran kalau kaka itu pro sama Kapitalis, yang heran mah kalau dia sudah menempuh studi di luar negeri tapi masih tetap memperjuangkan ekonomi kerakyatan seperti pak Hatta. *cieee pak Hatta*
Kembali ke soal poin tidak setuju dalam artikel. Poin pertama tentu saja soal ilmu filsafat yang meurut penulis sudah tidak laku dan tidak perlu ada di pasaran karena adanya kemajuan teknologi. Well, kakak penulis itu salah banget, kalau memang tidak laku dipasaran maka sudah tidak ada lagi toh fakultas filsafat di Indonesia maupun di luar negeri. Tidak akan ada Saul Kripke dari Princeton University yang menjadi semacam penerjemah informal dari karya-karya filsafat Ludwig Wittgenstein. Selain itu mungkin tidak akan ada kajian-kajian studi kelompok anak muda soal filsafat, ada loh kelompok ‘Warung Filsafat’ atau biasa disingkat “WAFAT” di wilayah Tanggerang. Itu isinya sekelompok anak muda kog, dan salah satu teman saya aktif menjadi pegiat di kelompok diskusi filsafat WAFAT tersebut.
Dan yah kalau ilmu filsafat itu tidak perlu sepertinya kakak penulis salah lagi tuh, karena filsafat merupaka awal dan ilmu induk (mother science) dari politik dengan seluruh cabang dan bagiannya.  Gimana mau menyerap secara utuh ilmu politik kalau tidak mengetahui filsafat, gw nulis ini bukan berarti menganjurkan seluruh anak muda seantero Indonesia belajar filsafat, tapi kalau anak muda, pelajar, atau mahasiswa FISIP pastilah mendapatkan mata kuliah filsafat dasar, karena pasti mereka-mereka itu tahu fungsi dan manfaat belajar filsafat terlepas orang itu suka atau boring, beda lagi ya kalau orang itu passionnya Arsitektur, Sastra.
Poin kedua, mengenai hal-hal apa saja yang membuat perbedaan begitu besar antara kemajuan Amerika dan Indonesia, yang bandingannya seperti surga dan neraka. Gw tidak bisa menghakimi seseorang hanya karena dia sangat pro atau pemuja pihak Barat, mulai dari sistem kebijakan, ideologi, bahkan sampai kebudayaan, dan hal itu mah bukan masuk kategori aneh jika orang itu ternyata menempuh studi di luar negeri *bahkan sampai mengecilkan budaya sendiri* *miris*. Bukankah hal yang terlalu mengagungkan Barat itu disebut mental Inlander?! beranggapan apa-apa yang dari Barat itu hebat, keren, super…meskipun tidak cocok bahkan tidak baik jika di aplikasikan di Indonesia. Well, gw setuju sama si kakak penulis kalau saat ini kita tidak hanya dijajah soal budaya, tapi globalisasi dan kapitalisnya si kakak lah yang sedang membelit Indonesia.
Poin tiga, ini seru banget nih, karena di awal kakak penulis mengomentari soal artikel banalitas namun ternyata dia mengambil contoh seputar artikel konspiratif yang si kaka sebutkan juga dalam artikelnya, artikel konspiratif yang dimaksud kakak penulis membahas soal isu pelemahan KPK adalah isu untuk membuka pintu gerbang neoliberalisme ke Indonesia karena nantinya ini akan jadi alasan untuk melakukan privatisasi atas BUMN. Artikel itu sebetulnya ditulis oleh sebuah lembaga think thank yang direktur eksekutifnya adalah alumni kampus gw (UNAS) dan artikel tersebut di publish ulang dalam situs Selasar.com. Kakak penulis beranggapan bahwa inti dari artikel konspiratif adalah pemerintah pasti jika diberi kekuasaan dalam mengurus masyarakat pasti tidak dapat diandalkan dan tidak dapat dipercaya, bahkan jangan dipercaya karena pemerintah itu diisi oleh orang-orang berkepentingan
Well, tidak dipungkiri pemerintah yang terdiri dari koalisi parpol ya isinya pasti ada ‘interest group’ dan nyatanya Indonesia juga pernah mengalami masa-masa awal Kapitalis tapi dengan topeng “pasar diawasi” negara/pemerintah yaitu pada masa Orde Baru. Soeharto beranggapan bahwa ‘Kapitalisme negara’, negara mengontrol mekanisme pasar agar rakyat bisa bernafas. Tapi tanpa sadar disinilah awal gempuran penjajahan moderen Indonesia. Rezim-rezim setelah Orba lebih parah lagi karena mereka menjadi ‘pemuja berhala kapitalis’. Mengagungkan daulat pasar, dimana semua kebutuhan harus dibeli dengan harga tinggi oleh rakyat kecil. Contoh empiris masa kini deh, (gausah jauh-jauh sejarah kolonial, ratu adil, feodal apalah itu…) Pada penentuan harga BBM yang merujuk pada mekanisme pasar, kan sarap tuh sistem ‘langgam kapitalis’ karena hal itu akan menjadi harga minyak di Indonesia labil. Akibat empirisnya? kehidupan ekonomi rakyat jadi hancur tujuh turunan jungkir balik karena harus mengejar harga-harga kebutuhan pokok yang naik harga. Dengan pesimistis hal yang dipegang negara akan jadi diktator, tetapi menyerahkan pada kapital-liberal justru membuatnya tambah hancur. Menganggap bahwa Kapitalisme, privatisasi akan memajukan jika di terapkan di Indonesia nyatanya tidak, lain soal kalau di Amerika/Eropa, lah.. wong perusahaan-perusahaan multinasional itu kan hampir semua ciptaan Amerika, Eropa, *yah kalau Asia punya China dan Jepang lah*. Jadi tentu saja dengan sistem kapitalis-liberal negara-negara pemilik perusahaan akan maju ekonominya, dan negara yang tidak memilik perusahaan seperti Indonesia hanya jadi buruh, keren-keren buruh berdasi. Kapitalisme merupakan anak kandung Neoliberalis, kedua hal itu sudah terbukti ujungnya akan menyebabkan keterpurukan ekonomi. Fakta empiris historis maupun fakta empiris masa kini telah mengungkapkan bahwa implementasi pilar-pilar neoliberals-kapitalis telah berhasil membuahkan persoalan-persoalan mendasar bagi perekonomian negara-negara di berbagai belahan dunia. Kemiskinan, pengangguran, kesenjanga menjadi warna dominan yang melekat dalam implementasi neoliberalis-kapitalis. Secara ekonomi, kapitalis – neoliberal menyebabkan rakyat tersingkir dan jadi korban brutal pasar bebas. Secara sosial rakyat menjadi gelandangan karena tak terpenuhi hak-haknya, secara budaya rakyat dimiskinkan, direndahkan martabatnya, dilucuti identitasnya dan dijebol akar kulturnya yang otentik.
Maka dari itu sistem ekonomi kerakyatan, meskipun tidak hits dan sudah dicetuskan lama oleh Bung Hatta *ciee pak Hatta* tapi hal itu yang paling relevan ka… Mau bukti empiris? UMKM (Usaha Mikro Kecil dan Menengah) sangat bisa menjadi kekuatan utama Indonesia dalam menghadapi globalisasi yang bentuk nyatanya berupa integrasi ekonomi ASEAN. 98% Produk Domestik Bruto Indonesia disumbangkan oleh sektor UMKM *data Koperasi Indonesia*. Adalah gila jika pasar Indonesia dilepas tanpa adanya regulasi, maka peran negara disini adalah perlu untuk menyiapkan regulasi agar UMKM berkembang bahkan gw optimis kog ka bisa mengungguli pesaing, tapi kalo mau tetep mendewakan kapitalis-liberal UMKM akan mati tergerus. So, jadi menurut gw ka, bukanlah orang oon kalau tidak setuju dengan kapitalis. Kan masyarakat itu diharapkan tercipta kemakmuran. Kapitalisme kan menganut private enterprise yaitu penonjolan individu, kan ga bener banget kalau ada sekelompok ‘elite’ lebih kaya daripada suatu negara itu sendiri yang juga masyarakat di negara itu hidup miskin. Itulah mengapa perlu belajar sejarah atau baca buku karangan Henry Makow, Dr John Coleman atau Victor Marsden, jadi segala hal yang mengkritisi Barat tidak di anggap Konspirasi. Teori Konspirasi itu sengaja diciptakan untuk mematikan nalar manusia tahu… Hal-hal buruk atau mengkritisi Barat di bilang Konspirasilah, atau lebih parah budaya atau pemikiran lokal dianggep ga bangetlah. Dan terus soal kolaborasi sinergis antara lembaga publik dan privat ala ala Uni Eropa gitu ya sama pihak MNCs, nah setau gw sekarang masyarakat Eropa malahan udah sadar kalau gada gunanya ikut keanggotaan Uni Eropa, Inggris yang paling vokal mau keluar dari Uni Eropa.
Prinsip-prinsip dasar -kapitalis- neoliberalis terdiri dari berbagai wujud seperti liberalisasi, privatisasi, dan deregulasi. Neoliberalisme juga menjadi landasan dari integrasi ekonomi regional baik ASEAN maupun Uni Eropa. So, kalau kakak penulis mikirnya privatisasi itu masih andalan yah bahaya ka. Contoh nyata Iran ka, mereka tetap kokoh meskipun di embargo oleh Amerika, bahkan Khomeini berani serta mampu untuk melakukan nasionalisai perusahaan asing dan Ekonomi Iran berkembang, bahkan maju dan dapat mengembangkan nuklir *ditakui oleh Israel* tanpa mengorbankan masyarakatnya seperti Korea Utara.  
Mengutip potongan gagasan Edward W Said tentang intelektual kapitalis organik aktif, kalangan yang berhubungan langsung dengan kelas atau perusahaan-perusahaan yang memanfaatkan mereka untuk berbagai kepentingan serta untuk memperbesar kekuasaan dan kontrol. Pengusaha kapitalis yang menciptakan di sekelilingnya teknisi industri, spesialis ekonomi, penggagas kultur baru, pencetus hukum baru dan sebagainya. Intelektual kapitalis organik aktif, mereka yang senantiasa berupaya mengubah pikiran dan memperluas pasar. Ia aktif dan selalu bergerak dan berbuat. Namun ada juga segelintir manusia berbakat dan dibekali moral filsuf raja. Mereka membangun kesadaran ummat manusia. Pekerjaan intelektual inilah yang mempertahankan Negara dengan kewaspadaan, selalu sadar akan tugasnya untuk tidak membiarkan kebenaran diselewengkan atau menerima ide berbahaya yang dapat menguasai seluruh kehidupan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Post Top Ad

Responsive Ads Here