Kapolda Papua Adalah Aktor Di Balik Pemebakan Di Puncak Jaya Papua - WENAS KOBOGAU

WENAS KOBOGAU

Percikan Bunga Api Untuk West Papua

test banner

Breaking

Post Top Ad

Responsive Ads Here

Post Top Ad

Responsive Ads Here

Sabtu, 19 Maret 2016

Kapolda Papua Adalah Aktor Di Balik Pemebakan Di Puncak Jaya Papua

Ilustrasi Penembakan di west Papua (Foto.WK)
Kekerasan demi kekerasan yang dilakukan Oleh Aparat Militer Indonesia TNI dan POLRI di Papua sudah seperti makan dan minum.

Pernyataan yang dilontarkan oleh Kapolda Papua Irjen Pol Paulus Waterpauw mengatakan sejak tahun 2009, data mencatat jumlah korban tewas yang diakibatkan serangan-serangan Tentara Pembebasan Nasonal Papua Barat (TPNPB-OPM)  ini mencapai 111 orang yang dirilis oleh HarianPapua.com .Kamis (17/3) tidak benar .
Jika Kita mau menlihat berapa banyak orang papua yang tidak berdosa di tembak mati oleh militer Indonesia .  seperti “Paniai Berdarah” yang menewaskan empat siswa pada 8/4/2014 lalu.

Rekaman video setelah peristiwa “Paniai Berdarah” yang menewaskan empat siswa Oleh Gabungan Militer Indonesia TNI/POLRi .

Video yang direkam oleh seorang warga setelah peristiwa penembakan yang terjadi pada tanggal 8 Desember tahun lalu di Enarotali, Paniai. Video ini juga memuat kesaksian beberapa korban.
Pada 28 September 2015 sekitar pukul 19.00 Waktu Papua Barat, aparat kepolisian Indonesia telah menembak mati Kalep Zera Bagau (18), pelajar Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Petra, Timika, Papua dan menembak Efrando I.S.Sabarofek (17) yang juga siswa SMK Petra, Timika, Papua hingga korban dalam kondisi kritis dan sedang dirawat di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Timika, Papua.
Masih banyka korban kekerasan militer di papua sejak papua di masuka kedalam NKRI pada tanggal 1 Mei 1963 hinga saat ini 2016.
Mengapa sampai saya katank penembakan di Puncak Jaya Papua aktornya Kapolda Papua Irjen Pol Paulus Waterpauw, karna menlihat bebrapa isu menegnai perjuangan Papua Merdeka yang sudah menduniai sehingga Militer Indonesia dengan sengaja melakukan penembakan kepada 4 warga sipil dengan tujuang kriminalisasi perjuangan papua merdeka yang diperjuangkan oleh Militer West Papua Tentara Nasional Pembebasan Papua Barat (TPNPB-OPM) dan pada diplomasi di tingkat Internasional.

Kapolda Sengaja membangun permusuhan antar orang papua dengan pedatang dari luar papua di papua agar tidak mendukung perjuangan papua merdeka .

Perjuangan papua merdeka mulai banyak partisipasi makanya kapolda papua sengaja melakukan penembakan di puncak jaya , apalagi ada pernyataan dari Sidang ke-31 Dewan Hak Asasi Manusia (HAM) di Geneva berlangsung sejak 29 Februari hingga 24 Maret mendatang. Berbagai issu HAM di berbagai negara anggota PBB disampaikan dalam sidang ini. Salah satunya, isu HAM di Papua yang disampaikan oleh Kepulauan Solomon.

Dalam sesi pleno 15 Maret, Barrett Salato yang menjadi ketua delegasi Kepulauan Solomon di sidang tersebut menyampaikan beberapa isu HAM di Papua yang menjadi perhatian bukan saja Kepulauan Solomon, namun juga Melanesia Spearhead Groups (MSG) dan Pacific Islands Forum (PIF).(www.tabloidjubi.com).
Menurut Ketua Umum Badan Pelayan Pusat Persekutuan Gereja-gereja Baptis Papua, Socratez Sofyan Yoman bahwa penembakan tersebut tidak murni dilakukan OPM.
Penembakan terhadap warga sipil tidak dapat dibenarkan dan tidak diterima atas nama dan alasan apapun. Penembakan empat orang karyawan tersebut adalah kejahatan kemanusiaan dan pelanggaran Hak Asasi Manusia.
Fakta  selama ini menurut yang melakukan penembakan dan pembunuhan terhadap warga sipil di pegunungan itu bukan OPM. Kalaupun pelakunya benar dari OPM, itu OPM yang dibina oleh aparat keamanan selama ini.
“Mereka (OPM binaan-red) pernah dan sering bilang saya, mereka dikasih peluru dan dikasih beras dan rokok dan disuruh bikin asap.
“Saya pikir juga aparat keamaan ikut terlibat dengan beberapa tujuan diantaranya, kriminalisasi perjuangan Papua Merdeka yang sudah ada di ULMWP yang mendapat dukungan komunitas Internasional dan untuk menghadapi tekanan dari Pemerintah Kepulauan Salomon dalam Sidang  Dewan HAM PBB pada 15 Maret 2016 di Jenewa,.
Dirinya meyakini bahwa hal tersebut untuk menjadikan Papua Daerah Operasi Militer (DOM) Jilid II. Tujuan lain adalah untuk mendapat kepercayaan penuh kepada aparat keamanan untuk melaksanakan pembangunan jalan di Papua(www.tabloidjubi.com).
Atau Mungkin karna kedatangan Menteri Kordinator Politik, Hukum dan Ham (Menkopolhukam) Luhut B. Pandjaitan berkunjung ke kampus Universitas Cenderawasih (Uncen) Jayapura. Membuat papua darurat Operasi Militer hanya melindunggi perjalanan Luhut. Sampai menewaskan 4 orang karyawan PT Moderen diantaranya Yohanis Tiku atau Anis, Andreas Demena  (Operator Dozer), Daud Demetow Demena (Helper Dozer) dan David Demena (Operator Excavator) .

W L Api Porletariat



Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Post Top Ad

Responsive Ads Here