Kata Adalah Senjata - WENAS KOBOGAU

WENAS KOBOGAU

Percikan Bunga Api Untuk West Papua

test banner

Breaking

Post Top Ad

Responsive Ads Here

Post Top Ad

Responsive Ads Here

Senin, 07 Maret 2016

Kata Adalah Senjata

(Subcomandante Marcos, 12 Oktober 1995)
Hari itu adalah hari yang sama seperti hari-hari sebelumnya di tahun 1983.
Setidaknya bagi sekelompok orang berpakaian adat, bermata cokelat namun berwajah hitam -karena topeng yang menutupinya- di rimbunnya hutan Lancandon, Chiapas, Meksiko. Dengan AK-47 dan senapan kayu yang tergantung dibahu masing-masing, hari itu sama seperti hari-hari sebelumnya ketika mereka membentuk pasukan gerilya masyarakat adat Chiapas.

Hari yang sama, karena perjuangan berlandaskan ideologi Zapatista itu masih berlangsung. Menentang pendudukan pemerintah Meksiko atas lahan-lahan adat yang telah mereka tinggali selama berabad-abad dan terberangusnya hukum adat oleh “revolusi ekonomi” neoliberal pemerintah.

Saat-saat dimana amisnya darah dan tangisan anak kecil yang kehilangan orangtuanya menjadi keniscayaan dalam sebuah kata ‘perjuangan’.
Namun satu-hari-yang-sebenarnya-sangat-biasa-seperti-hari-hari-sebelumnya-di-tahun-1983 itu ternyata bukanlah hari yang biasa saja.
Pekatnya hutan Lancandon yang terasa mistis dikala malam, serta dinginnya angin gunung yang menusuk kulit seakan tak mampu mengusik keteguhan seorang lelaki paruh baya, berperawakan tinggi besar dan bermata biru untuk datang menghadiri perayaan maut. Maut yang bisa saja menyergapnya tiba-tiba di tengah kegelapan malam.

Ya, hari itu sangat berbeda.
Gelapnya hutan Lancandon bahkan tak mampu menyembunyikan isyarat intelektualitas dan gurat idealisme laki-laki tersebut.

Idealisme yang menuntunnya untuk pergi meninggalkan gelar profesor yang disandangnya, untuk berbaur dan ikut berjuang dengan para tubuh-pendek-berwajah-hitam-bersenjatakan-laras-panjang di hutan-hutan dataran tinggi Chiapas.
The Bravery
Subcomandante Marcos dengan beberapa anggota paramiliter EZLN
Namun bukan amunisi yang berada didalam ranselnya kala itu.
Bukan sepucuk pistol Glock dengan peluru tajam didalamnya.
Bukan pula celoteh-celoteh Marx akan ketiadaan kelas di masyarakat.
Yang ada hanyalah tumpukan novel dan puisi dari para begawan sastra Amerika Latin yang penuh dengan kata-kata realisme magis Garcia Marquez, hingga karya-karya Octavio Paz yang menganggap revolusi kata adalah revolusi dunia.
Dan semenjak itu, sejarah politik revolusioner Amerika Selatan tidak akan pernah sama lagi dengan sebelumnya.

Tak akan pernah sama lagi, sejak munculnya seorang ber-balaclava hitam, bertopi tentara, dengan cangklong yang tak pernah berhenti mengepulkan asap.
Ia ganti rentetan suara magazin peluru kaum Zapatista dengan runtutan kata dalam komunike-komunikenya.

Ia simpan laras-laras panjang pasukannya dan menulis cerita lucu tentang seekor kumbang kecil berkacamata dan menghisap pipa bernama Durito.
Ia menamai dirinya dengan sebutan
Subcomandante Marcos.
Bagi Marcos, jalan sebuah perjuangan bukan hanya pertempuran mempertaruhkan nyawa, bukan hanya darah yang memuncrat dimana-mana, dan bukan pula peluru-peluru tajam serta ledakan mortir belaka yang hanya menimbulkan tangis dan dendam tak berkesudahan.

Ada yang lebih tajam dari sekadar sebutir peluru.
Lebih mematikan dibandingkan racun.
Lebih cepat dari sebutir peluru tajam.
Lebih dari itu,
Baginya kata adalah senjata.
Kata adalah senjata.
“Adalah kata-kata
yang memberi bentuk pada sesuatu yang masuk
dan keluar dari diri kita.
Adalah kata-kata yang menjadi jembatan untuk menyeberang ke tempat lain
Ketika kita diam, kita akan tetap sendirian.
Berbicara kita membangun persahabatan dengan yang lain.
Para penguasa menggunakan kata-kata untuk menata imperium diam.
Kita menggunakan kata-kata untuk memperbaharui diri kita…
Inilah senjata kita saudara-saudaraku.”
(Subcomandante Marcos, 12 Oktober 1995)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Post Top Ad

Responsive Ads Here