Kaum Marxis, Petani dan Demokrasi - WENAS KOBOGAU

Breaking

WENAS KOBOGAU

Percikan Bunga Api Untuk West Papua

test banner

Post Top Ad

Responsive Ads Here

Post Top Ad

Responsive Ads Here

Selasa, 01 Maret 2016

Kaum Marxis, Petani dan Demokrasi

lenin
Lenin
Ternyata tidak ada sama sekali watak sosialis di dalam tuntutan mereka untuk menghapuskan kejahatan-kejahatan ini, karena mereka sama sekali tidak menjelaskan pengambilalihan dan eksploitasinya, dan penghapusannya pun sama sekali tidak akan mempengaruhi penindasan terhadap tenaga kerja oleh modal. Padahal, penghapusannya itu justru akan membebaskan penindasan dari sampah jaman pertengahan yang telah membuatnya semakin menjadi-jadi ini, dan sekaligus akan memudahkan perjuangan buruh secara langsung melawan modal, sehingga karena alasan itulah, sebagai suatu tuntutan yang demokratis, juga akan mendapatkan dukungan yang paling penuh semangat dari para pekerja.

Pada umumnya, persoalan pembayaran dan pajak itu merupakan salah satu persoalan yang hanya dapat diberi arti oleh kaum borjuis kecil. Meskipun demikian, di Rusia, pembayaran yang dilakukan oleh para petani itu, dalam banyak hal, hanyalah merupakan sisa-sisa dari jaman perhambaan atau budak pengolah tanah. Yang seperti itu, misalnya, dapat berupa uang pembayaran untuk menebus tanah, yang harus segera dihapuskan tanpa syarat. Yang seperti itu, misalnya, juga dapat berupa uang pembayaran untuk pajak, yang hanya para petani dan rakyat kecil di kota yang membayarnya. Sedangkan mereka yang disebut “orang baik-baik” justru dibebaskan dari kewajiban membayar pajak. Sehingga kaum Sosial Demokrat akan selalu mendukung tuntutan untuk menghapuskan sisa-sisa hubungan dari jaman pertengahan ini, yang telah menyebabkan kemandekan ekonomi dan politik. Hal yang sama dapat dikatakan tentang kemiskinan tanah. Saya telah memberikan bukti secara panjang lebar tentang watak borjuis dari ratap tangis yang dibuat-buat dalam hal ini. Akan tetapi, tidak disangsikan lagi bahwa Reformasi petani, misalnya, yang membolehkan pemotong-motongan tanah [92], secara positif jelas telah merampok para petani untuk keuntungan para tuan tanah, dengan memberikan pelayanan kepada kekuatan yang luar biasa reaksionernya ini, baik secara langsung (dengan merampas tanah dari para petani) maupun secara tidak langsung (dengan cara yang cerdik, yaitu dengan membatasi jatah tanahnya). Sehingga kaum Sosial Demokrat pun dengan cara yang paling keras akan mendesak untuk segera mengembalikan kepada para petani semua tanah yang dirampas dari mereka itu dan sekaligus juga menghapuskan sama sekali kepemilikan atas tanah itu — yang telah menjadi benteng dari tradisi dan institusi feodal selama ini. Persoalan yang belakangan ini, dan yang bertepatan dengan nasionalisasi tanah ini, sama sekali tidak mengandung ciri sosialis, karena hubungan pertaniannya yang bersifat kapitalis dan yang sudah terbentuk di negeri kita itu, dalam hal ini, hanya akan berkembang subur secara lebih cepat dan lebih melimpah saja, sehingga hal ini menjadi luar biasa penting artinya dari sudut pandang demokratis sebagai satu-satunya langkah yang mampu memutuskan sama sekali dari kekuasaan kaum bangsawan yang juga tuan tanah itu. Yang terakhir, sudah barang tentu, hanya Tuan-Tuan Yuzhakov dan V. V. saja, yang dapat berbicara tentang tidak adanya hak bagi para petani itulah yang menjadi sebab dari pengambilalihan dan eksploitasi yang mereka alami itu. Mengenai penindasan terhadap kaum tani oleh penguasa, hal itu tidak hanya merupakan fakta yang tak dapat disangkal lagi, tetapi juga merupakan sesuatu yang lebih dari sekedar penindasan. Karena penguasa justru memperlakukan para petani itu sebagai “rakyat jembel yang hina-dina,” sehingga dianggap wajar apabila mereka menjadi kawula yang harus menderita di bawah kaum bangsawan yang juga tuan tanah itu, sehingga hak-hak sipil pun hanya dapat diberikan sebagai kemurahan hati yang istimewa (seperti migrasi, [4] misalnya), dan yang akan dapat disuruh-suruh oleh siapa pun yang sedang menjadi pejabat, sehingga, seolah-olah, mereka itu penghuni tempat penampungan orang gelandangan. Karena itu, kaum Sosial Demokrat secara terus terang menghubungkan dirinya dengan tuntutan untuk memulihkan hak-hak sipil para petani ini sepenuhnya, untuk menghapus sama sekali semua hak-hak istimewa kaum bangsawan, juga untuk menghapus sama sekali pengawasan oleh kaum birokrat terhadap para petani, dan untuk mengembalikan hak para petani untuk mengurus dirinya sendiri.

Pada umumnya, kaum komunis Rusia, sebagai penganut Marxisme, haruslah melebihi siapa pun lainnya yang menyebut dirinya sebagai orang SOSIAL DEMOKRAT, sehingga dalam kegiatannya haruslah tidak pernah melupakan tentang amat sangat pentingnya DEMOKRASI.

Di Rusia, sisa-sisa lembaga semi feodal dari jaman pertengahan itu masih saja luar biasa kuatnya (apabila dibandingkan dengan Eropa Barat), dan menjadi beban penindas kaum proletariat maupun rakyat pada umumnya, serta menghambat pertumbuhan pikiran politik di semua kelas dan tingkat kehidupan, sehingga orang tidak dapat berbuat lain kecuali mendesakkan arti penting yang luar biasa berupa perjuangan kaum buruh itu untuk melawan semua lembaga feodal, absolutisme, sistem kelas sosial, dan birokrasi. Kaum buruh, dengan rincian yang paling besar, harus menunjukkan betapa mengerikan reaksionernya kekuatan dari lembaga-lembaga ini, betapa intensifnya mereka penindasan terhadap tenaga kerja oleh modal, betapa hinanya tekanan yang mereka kenakan pada rakyat pekerja, betapa kuatnya mereka mempertahankan modal itu dalam bentuknya di jaman pertengahan, yang, sementara tidak mencukupi tuntutan bentuk industri modern dalam hubungannya dengan eksplotiasi tenaga kerja, ternyata juga menambah beratnya eksploitasi ini dengan menempatkan kesulitan-kesulitan yang mengerikan untuk merintangi perjuangan guna mencapai emansipasi. Dengan demikian, para pekerja harus tahu bahwa apabila pilar-pilar reaksi ini [6] digulingkan, maka jelas tidak akan mungkin sama sekali bagi mereka untuk melancarkan perjuangan secara berhasil melawan kaum borjuasi, karena selama pilar-pilar itu ada, maka kaum proletariat Rusia di daerah pedesaan, yang dukungannya merupakan syarat penting bagi kemenangan kelas pekerja, tidak akan pernah berhenti ditindas dan ditakut-takuti, sehingga hanya mampu cemberut sedih dan bukannya protes dan berjuang dengan tidak cerdas dan gigih. Dan, itulah sebabnya mengapa sudah menjadi tugas langsung dari kelas pekerja untuk berjuang secara berdampingan dengan kaum demokrasi radikal melawan absolutisme serta lembaga-lembaga maupun kelas-kelas sosial reaksionernya — yaitu, tugas yang harus ditekankan oleh kaum Sosial Demokrat kepada kaum buruh, sementara tak sesaat pun berhenti untuk menekankan juga kepada mereka bahwa perjuangan melawan semua lembaga ini hanya diperlukan sebagai sarana untuk memudahkan perjuangan melawan borjuasi, bahwa kaum buruh perlu mencapai tuntutan demokratik secara umum itu hanya untuk melapangkan jalan ke kemenangan atas musuh utama rakyat pekerja, atas lembaga yang wataknya secara murni bersifat demokratis, yaitu modal, yang di sini, di Rusia, istimewa kecenderungannya untuk mengorbankan demokrasinya dan untuk masuk ke dalam aliansi dengan kaum reaksioner agar supaya dapat menindas kaum buruh, dan dapat merintangi lebih lanjut munculnya gerakan kelas buruh.

***

Dengan demikian, meskipun ada perbedaan di kalangan orang-orang Marxis dalam berbagai persoalan teoritis, namun metode-metode dari kegiatan politik mereka ini tetap tidak berubah sejak kelompok itu muncul.
Kegiatan politik dari kaum Sosial Demokrat ini terletak pada peningkatan perkembangan dan organisasi gerakan kelas pekerja di Rusia, dengan mentransformasikan gerakan ini dari keadaannya yang sekarang berupa usaha-usaha sporadis dalam protes, “kerusuhan,” dan pemogokan tanpa ide yang dapat menunjukkan arah, menjadi perjuangan terorganisir dari SELURUH KELAS pekerja Rusia yang diarahkan untuk melawan rezim borjuis dan bekerja untuk mengambil alih para pengambil alih dan menghapuskan sistem sosial yang didasarkan pada penindasan terhadap rakyat pekerja. Sebenarnya, yang mendasari semua kegiatan ini adalah keyakinan bersama kaum Marxis bahwa kaum pekerja Rusia itu merupakan satu-satunya wakil alami dari seluruh rakyat pekerja yang tereksploitasi.

Hal itu memang alami karena eksploitasi terhadap rakyat pekerja di Rusia itu di mana-mana mempunyai watak kapitalis, apabila kita tidak mengikutsertakan sisa-sisa ekonomi perhambaan feodal yang hampir mati itu dalam perhitungan kita. Karena, eksploitasi terhadap massa produsen itu berskala kecil, tercerai berai dan terbelakang, sementara eksploitasi terhadap kaum proletariat di pabrik-pabrik itu berskala raksasa, tersosialisasi, dan terpusat.

Dalam kasus yang di muka, eksploitasinya masih terjerat dalam berbagai bentuk dari jaman pertengahan, dalam berbagai alat, tipu muslihat, dan hiasan atau perangkap politik dan hukum yang kuno, dan yang menghalangi rakyat pekerja maupun para ahli ideloginya sehingga tidak mampu melihat intisari dari sistem yang menindas rakyat pekerja, dan juga tidak mampu melihat di mana dan bagaimana orang dapat menemukan jalan keluar dari sistem ini. Dalam kasus yang belakangan, sebaliknya, eksploitasi itu sepenuhnya telah berkembang dan muncul dalam bentuknya yang murni, tanpa rincian apa pun yang membingungkan. Sehingga kaum pekerja mampu melihat bahwa mereka telah ditindas oleh modal, bahwa perjuangannya harus dilancarkan melawan kelas borjuis. Dan perjuangan ini, yang ditujukan untuk memenuhi kebutuhan ekonominya yang segera, dan untuk memperbaiki kondisi materialnya, secara tak terelakkan juga menuntut agar supaya para pekerja mengorganisasikan diri, dan secara tak terelakkan pula menjadi perang yang bukannya melawan individu-individu, tetapi melawan sebuah kelas, yaitu, kelas yang menindas dan menghancurkan rakyat pekerja, tidak hanya di pabrik-pabrik, tetapi juga di mana-mana. Itulah sebabnya mengapa kaum buruh di pabrik-pabrik tidak lain adalah wakil yang paling terkemuka dari seluruh rakyat yang tereksploitasi. Dan, agar supaya mereka dapat memenuhi fungsinya sebagai wakil dalam perjuangan yang terorganisir dan terus-menerus, maka hal itu sama sekali tidak perlu membuat mereka merasa bergairah dengan “berbagai perspektif.” Karena yang diperlukan di sini hanyalah untuk membuat mereka memahami kedudukannya, untuk membuat mereka memahami struktur politik dan ekonomi dari sistem yang menindas mereka, beserta keharusan yang tak terelakkan dari berbagai antagonisme kelas yang ada di bawah sistem ini. Posisi buruh pabrik ini di dalam sistem hubungan kapitalis pada umumnya itu membuat mereka menjadi pejuang tunggal untuk mencapai emansipasi bagi kelas pekerja, karena hanya tingkat perkembangan kapitalisme yang lebih tinggi, dan yang berupa industri mesin berskala raksasa itu saja, yang dapat menciptakan kondisi materi dan kekuatan sosial yang diperlukan untuk perjuangan ini.

Di mana pun bentuk perkembangan kapitalisme itu rendah, maka kondisi materi ini pun belum ada. Produksinya pun masih tercerai-berai di kalangan ribuan perusahaan kecil (dan perusahaan-perusahaan ini tetap saja menjadi perusahaan-perusahaan yang tercerai-berai bahkan di bawah bentuk kepemilikan tanah komunal yang paling egalitarian sekali pun), karena bagian paling besar dari yang tereksploitasi itu masih memiliki perusahaan-perusahaan kecil, sehingga dengan demikian masih terikat dengan sistem borjuis itu sendiri yang harus dilawannya: Hal inilah yang memperlambat dan menghalangi perkembangan kekuatan sosial yang mampu menggulingkan kapitalisme.

Eksploitasi perusahaan-perusahaan kecil yang bersifat individual dan tercerai-berai ini telah mengikat rakyat pekerja ke satu tempat tertentu, sehingga memecah-belah mereka, dan sekaligus mencegah mereka untuk bersatu begitu mereka telah memahami bahwa penindasan itu tidak disebabkan oleh individu-individu tertentu, tetapi oleh seluruh sistem ekonomi itu. Kapitalisme berskala raksasa, sebaliknya, secara tak terelakkan memutuskan semua ikatan kaum pekerja dari masyarakat lamanya, dari tempat tertentunya, dan juga dari pengisap tertentunya pula. Sehingga kapitalisme berskala raksasa ini jugalah yang menyatukan mereka, memaksa mereka untuk berpikir dan menempatkan dirinya dalam kondisi yang membuat mereka mampu untuk memulai perjuangan secara terorganisir. Dengan demikian, pada kelas pekerja inilah kaum Sosial Demokrat harus memusatkan semua perhatian dan semua kegiatannya. Apabila para wakilnya yang paling maju telah menguasai ide-ide sosialisme ilmiah, yaitu, ide tentang peranan historis dari kaum pekerja Rusia, dan apabila ide-ide ini telah menjadi tersebar luas, serta apabila organisasi-organisasi yang stabil telah terbentuk di kalangan kaum pekerja untuk mentransformasi perjuangan ekonomi dari para pekerja yang masih bersifat sporadis itu menjadi perjuangan kelas yang dilakukan dengan penuh kesadaran — maka, pada waktu itulah, KAUM BURUH Rusia yang tampil terdepan dalam semua unsur demokratik, akan menggulingkan absolutisme dan memimpin PROLETARlAT RUSIA (yang berdampingan dengan proletariat dari SELURUH DUNIA) di jalan lurus berupa perjuangan politik secara terbuka ke KEMENANGAN REVOLUSI KOMUNIS
(Lenin).

Diterjemahkan oleh: Danial Indrakusuma

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Post Top Ad

Responsive Ads Here