Hot!

Massa Pro dan Anti-Pemerintah Gelar Aksi Di Venezuela

Hari minggu, 13 Maret 2016, dua kubu politik yang sedang berseteru di Venezuela, yakni kubu pro-pemerintah (Chavista) dan kubu oposisi kanan, sama-sama menggelar aksi massa.
Kubu pro-pemerintah, yang sebagian besar adalah pekerja dan rakyat miskin, menggelar aksi menentang kebijakan agresif pemerintah Amerika Serikat terhadap Venezuela.
Kebijakan agresif yang dimaksud adalah pembaruan perintah eksekutif oleh Presiden Barack Obama yang menetapkan Venezuela sebagai “ancaman bagi keamanan nasional AS”.
Massa aksi membawa poster bertuliskan “Venezuela menghormati dirinya” dan “Obama Cabut Dekrit Sekarang”. Mereka juga melampiaskan kemarahan terhadap apa yang disebutnya sebagai “imperialisme Amerika Serikat” dan “Obama sebagai bos oposisi di Venezuela”.
Presiden Nicolas Maduro, yang hadir di tengah-tengah massa aksi, mengecam apa yang disebutnya sebagai “standar ganda Amerika Serikat dalam melihat Hak Azasi Manusia (HAM)”.
“Venezuela tidak pernah membom rakyat tak berdosa, mencekik negara yang tidak mau tunduk, dan menolak masuk pengungsi perang. Tidak ada alasan menuduh pemerintah atau rakyat Venezuela sebagai ancaman,” katanya dalam pidato Plaza O’Leary dekat Istana Kepresidenan Miraflores.
Dalam pidatonya, Maduro juga menegaskan bahwa dirinya tidak akan pernah mundur dari jabatannya hingga hari terakhir masa pemerintahannya.
Sementara di bagian lain kota Caracas, tepatnya di kawasan kaum elit, kelompok oposisi juga menggelar aksi massa. Mereka menuntut pengunduran diri Presiden Nicolas Maduro.
Salah satu tokoh garis keras oposisi, Maria Corina Machado, menyerukan gerakan yang lebih besar, dengan cara-cara non-konstitusional, untuk menggulingkan Maduro.
“Banyak yang mengatakan bahwa tidak ada gunanya menuntut pengunduran diri (Maduro). Aku katakan pada kalian semua, adalah naif untuk mempercayai Maduro akan mundur sukarela,” katanya.
Pada tanggal 4 Maret lalu, oalisi oposisi yang tergabung dalam Koalisi Kesatuan Demokratis (MUD) mengumumkan rencana untuk melengserkan Presiden Maduro tahun ini.
Untuk tujuan itu, oposisi telah menyiapkan tiga langkah, yakni demonstrasi jalanan, menyiapkan referendum, dan amandemen terhadap konstitusi untuk mempercepat pemilu.
Raymond Samuel


Sumber Artikel: www.berdikarionline.com

0 komentar:

Posting Komentar

Diberdayakan oleh Blogger.