Maya - WENAS KOBOGAU

WENAS KOBOGAU

Percikan Bunga Api Untuk West Papua

test banner

Breaking

Post Top Ad

Responsive Ads Here

Post Top Ad

Responsive Ads Here

Rabu, 16 Maret 2016

Maya

Satu ketika, ada salah satu pemuda dari kampung, punya niat untuk merantau. Sebelum berangkat, ia meminta pamit dan meminta restu pada keluarganya. Keluarganya merestui dan kabulkan keinginanannya untuk merantau. Lagi pula ia sudah dewasa. Keluarganya berpesan agar selalu hati-hati bila ia benar-benar ingin merantau. Selain itu diingatkan agar selalu berikan kabar pada keluarganya. Keesekon harinya, ia pun berpamitan untuk berangkat dan pergi merantau. Isak tangisan keluarganya, terutama ibu ya menyertai perpisahan mereka pada saat itu. Pemuda itu kemudian peluk satu persasatu keluarganya dan perlahan melangkahkan kakinya untuk pergi merantau. Ibunya terus memperhayikan setiap hentakan langkah kaki anaknya yang ia sayangi dengan perasaan yang campur aduk hingga bayang-bayang anaknya itu hilang di ujung jalan. Pada hari itu juga, hubungan komunikasi antara pemuda itu dengan keluarganya putus. Lalu pemuda itu, sampai di sebuah kota metropolitan. Tidak ada satu pun orang yang ia kenal. Selama seminggu ia berusaha untuk kenali suasana kota yang penuh dengan bising, macet, biaya hidup yang cukup tinggi. Semua membuat pemuda ini makin tertantang untuk terus berjuang agar bisa bertahan seadanya dengan apa yang ada dan ia punya. Pada minggu terakhir di bulan itu, bekal ilyag ia bawa dari kampung kecilnya mulai menipis. Ia kehilangan bimbang. Dan ia pun memutuskan untuk mencari pekerjaan. Ia tidak punya keteranpilan atau keahlian di bidang tertentu. Ia hanya memiliki modal semangat. Selain ijazah SD yang ia bawa dari kampung dan selalu ia bawa ke mana saja di kota metropolitan itu. Pada pekan pertama di bulan ke dua, ia membeli koran. Dengan kemampuan membaca yang `putus-putus` ia berusaha keluarkan sedikit biaya untuk beli koran terbesar di kota itu. Tujuannya hanya satu. Ingin mecari lowongan pekerjaan. Ia punya komitemen, bahwa pekerjaan apa pun akan ia coba, bila ada peluang dan memenuhi syarat. Ia percaya bahwa ia akan dapat pekerjaan, Ya paling tidak, jadi tukang cuci piring di rumah orang. Dan dugaan dan kerinduannya terjawab. Di koran `terbesar` itu ia mendapat informasi lowongan pekerjaan. Ialah lowongan untuk menjaga `warnet`. Dengan pertimbangan besar, ia melengkapi berkas-berkas yang diminta. Tak lupa ia sertakan fotokopian ijazah SDnya. Tetapi ia sadar sepenuhnya, bahwa ia tidak bisa mengoperasikan komputer. Lihat bentuk komputer lun tidak pernah. Ia tetap berkomitemen untuk ajukan lamaran. Hingga hari ke tiga, sesuai dengan pengumuman, ia beli lagi koran yang sama untuk melihat pengumuman. Ia sadar, bahwa besar kemungkinan untuk lamarannya ditolak. Tetapi, tetap ia pecaya diri. Dan ia benar-benar mendengar apa kata hatinya. Hingga bulan ke dua, ia tidak memberikan kabar ke kampung, maupun ia tidak tahu dan tidak menerima kabar tentang keluarganya. Setelah membeli koran, ia buka dari halaman pertama hingga halam ke 30, ia tidak menemukan satu pun pengumuman tentang hasil seleksi berkas lowongan pekerjaan hag sebelumnya ia masukan. Sisa dua halaman terkahir. Sebelum membuka dua halaman paling terkahir itu, ia tarik napas dalam-dalam. Sangatnya hampir pupus melihat tidak adanya pengumuman. Ia masih belum berani untuk membuka dua halaman terakhir itu. Kekuatirannya dua: pertama, ia duga tidak ada pengumuman. Ke dua, ia kuatir, kalaupun ada, ia pasrah apabila berkasnya ditolak. Dan dengan penuh kecemasan dalam hatinya, ka membuka dua halaman koran paling belakang itu. Tangan gementar. Mukanya perlahan memerah. Pipiinya memerah. Keringat perlahan keluar dari pori-pori kulit di sekujur tubuhnya. Ia membuka dengan perlahan halaman koran itu. Di halaman depan, tetap tidak ada pengumuman. Hanya ada beberapa berita sambungan dari halaman lima di koran itu. Ialah berita tentah Lasbian, Gay, Biseksual dan Trans gender (LGBT). Ia bosan dengan peberitaan tentang LGBT. Karena sejak ia berada di kota metropolitan ini, ia mendengar perbincangan dari setiap orag yag ia jumpai, maupun dari TV dan Koran yang ia baca, setiap hari dihiasi oleh pemberitaan tentang LGBT. Tetapi, sejujurnya ia tidak paham. LGBT itu apa. Dugaannya, LGBT adalah oknum yang tersandung kasus korupsi. Maklum, palnet ini penuh dengan para koruptor. Dan di halam paling terkahir,.... Bersambung....

Penulis Adalah Arnodus Belau Wartawan www.tabloidjubi.com

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Post Top Ad

Responsive Ads Here