Hot!

Menggugat Model Pendidikan Kapitalis

kamal1
Judul Buku : Metode Pendidikan Marxis Sosialis, Antara Teori dan Praktik
Penulis : Nurani Soyomukti
Penerbit : Arruzz Media
Tahun Terbit : Desember 2008
Jumlah Halaman : 316
Dunia pendidikan saat ini sedang kehilangan akar tempat pendidikan berpijak. Secara umum, pelaksanaan pendidikan cenderung mengabaikan upaya mencari pilihan ideologis, sehingga pijakan-pijakan asumsi-asumsi idealistik tidak lagi menjadi suatu keharusan. Akibatnya pelaksanaan proses pendidikan hanya bertujuan memenuhi kebutuhan praktis sesaat. Sebagai implikasi perkembangan globalisasi dan kapitalisme, kerangka berfikir pendidikan cenderung bersifat pragmatis. Berangkat dari kenyataan ini, penulis menawarkan urgensi reideologisasi pendidikan agar pendidikan tidak lagi hanya menjawab kepentingan industri dan melayani kebutuhan pasar (kapitalisme).
Upaya reideologisasi pendidikan yang ditawarkan penulis dimulai dengan terlebih dahulu membongkar nalar postmodernisme yang melanda dunia dan menjadi model yang digandrungi. Nalar berfikir postmodernisme menjadi mainstreamdalam setiap aktivitas berfikir sebagian besar manusia. Dalam aktivitasnya, kaum postmodernis menjadikan filsafat dan pengetahuan bukan lagi persoalan bagaimana memahami objek, tetapi beralih menjadi persoalan bahasa, struktur pikiran, ilusi, makna dan lain sebagainya. Pendidikanpun tak luput dari perhatian kaum postmodernis. Penulis berpandangan bahwa tampaknya pendidikan kapitalisme memang menurunkan filsafat dan metode pembelajaran postmodernis untuk menghilangkan aspek totalitas pembelajaran. Cita-cita yang penuh muatan ideologis dianggap akan memaksa anak-anak kepada kepentingan ideologis. Setiap tujuan ideologis selalu dicurigai akan dikendalikan kepentingan politis dan kepentingan politis selalu dianggap naif. Padahal setiap tindakan untuk menjauhkan anak didik dari tujuan politis ideologis ternyata semakin memperbesar individualisme.
Ilustrasi yang dijadikan justifikasi penulis mengenai fenomena diatas adalah penerapan kebijakan NKK/BKK di kampus-kampus pada masa orde baru. Penerapan kebijakan ini ternyata membuat mahasiswa acuh terhadap realitas politik pada masa itu. Mahasiswa yang dilahirkan dalam suasana depolitisasi kampus adalah lulusan dengan karakter tak berakar pada realitasnya, yang berkuliah dalam rangka pemenuhan dan perbaikan nasib ekonominya.
Penulis akhirnya mendakwa pendidikan konservatif, liberalis dan postmodernis sebagai cara pandang yang turut memundurkan cara pandang pemerhati, kritikus dan pelaksana pendidikan. Tawaran yang diberikan penulis kemudian adalah pendidikan marxis-sosialis sebagai lawan dari pendidikan kapitalis. Gagasan pendidikan marxis-sosialis berakar dari pemikiran materialisme-dialektika yang diformulasikan Karl Marx.
Dalam pandangan penulis, sosok Karl Marx tidak hanya diposisikan sebagai seorang filosof atau pemikir yang konsen terhadap perbaikan nasib kaum buruh an sich. Namun lebih jauh, Karl Marx adalah juga seorang pendidik. Marx mendidik rakyat dan gerakan rakyat untuk sadar dan bangkit melepaskan diri dari belenggu penindasan.
Mendiskusikan tentang pemikiran Karl Marx akan selalu dikaitkan dengan formulasi materialisme-dialektika dan ekonomi sebagai basisnya. Dengan melandaskan pada kedua basis pemikiran Marx, Marxisme menjadi teori kritik yang menyibak adanya ideologi penindasan dalam struktur masyarakat berkelas yang menindas, makanya cita-cita pendidikan Marxis memiliki tujuan untuk mewujudkan kembali kesadaran manusia agar ia mampu hidup sesuai dengan tuntutan-tuntutan kemanusiannya. Dalam rangka menopang usaha seperti ini dilakukan dengan pertama pendidikan dilakukan sebagai upaya penyadaran yang mendorong manusia mengenali dan kemudian berusaha hambatan-hambatan yang dihadapinya. Kedua pendidikan dilaksanakan dalam rangka menciptakan tatanan manusia sebagaimana mestinya. Tatanan yang dikehendaki merupakan tatanan yang meniscayakan hubungan kesetaraan (sosialisme) yang menegasikan hubungan eksploitatif (kapitalisme).
Sebagai ilustrasi model pendidikan marxis-sosialis, penulis kemudian memaparkan beberapa penerapan pendidikan yang berpijak pada pemikiran Marx seperti Uni Soviet, Kuba, Cina dan Venezuela. Dan tak lupa, penulispun menawarkan beberapa alternatif yang bisa diterpkan di Indonesia.
Namun sayang sekali, masih terdapat beberapa kesalahan dalam pengetikan naskah yang cukup mengganggu. Footnote yang tidak sesuai dengan apa yang menjadi gagasan utama. Terdapat penulisan referensi yang tidak sinkron.
Buku ini layak dijadikan bahan permenungan sebagai gagasan pendidikan dengan ideologi alternatif di tengah semakin terpuruknya pendidikan Indonesia. Masih tetap akan bertahan dengan pendidikan model kapitalis atau ingin mencoba model pendidikan yang memiliki ideoligi yang lain?.

0 komentar:

Posting Komentar

Diberdayakan oleh Blogger.