Orientasi Pendidikan yang Tidak Tepat - WENAS KOBOGAU

WENAS KOBOGAU

Percikan Bunga Api Untuk West Papua

test banner

Breaking

Post Top Ad

Responsive Ads Here

Post Top Ad

Responsive Ads Here

Selasa, 22 Maret 2016

Orientasi Pendidikan yang Tidak Tepat

Ilustrasi Pendidikan Papua

Oleh: Elyan Kowi )*

Sebagai orang papua apa yang ingin kita harapkan untuk papua ke depannya? Sudah tentu keamanan, kesejahteraan, kedamaian, dan ketenangan. 

Lalau harapan itu coba untuk kita wujudkan dengan beberapa strategi salah satunya dengan pendidikan.

Pendidikan menjadi salah satu ranah perjuangan rakyat papua, untuk melepaskan diri dari tirani kebodohan. Pendidikan ditempuh tidak hanya di dalam negeri namun ada juga yang di luar negeri.

Kecenderungan ini adalah hal yang muncul dari realita bahwa ada sebuah gejolak untuk terus-menerus menyesuaikan atau bahkan menantang diri dengan yang lain, hal ini dikarenakan adanya suatu stigma bahwa orang papua adalah orang yang bodoh. 


Dan, oleh karenannya stigma ini justru menjadi dendam positif bagi Rakyat Papua, dimana Rakyat Papua merasa perlu untuk membuktikan kepada dunia bahwa mereka bisa. 

“Sa dulu iri dengan sa teman-teman amber dorang, dong su kaya, bersih, putih, sudah begitu pintar lagi, padahal dong tinggal di sa punya tanah baru. Tapi kenapa dong bisa seperti itu, oh iyo itu karena dong pi ke sekolah!”

Sekolah adalah solusi untuk mengatasi kebodohan, kita merasa dengan bersekolah kita akan terlepas dari tirani kebodohhan itu, oleh karenanya kita harus dan wajib bersekolah!. Inilah motivasi kita bahkan saya secara pribadi masih menyimpan motivasi tersebut. 


Namun ketika motivasi ini menjadi dasar, ada celah yang menyebabkan kerapuhan, yang berujung pada runtuhnya fondasi tersebut, oleh karenanya mengakibatkan tidak tercapainya harapan kita.

Haruslah kita melihat kembali kepada motivasi awal kita, untuk apa kita sekolah atau berkuliah?, katong akan menemukan bahwa katong berada disini untuk melepaskan diri dari tirani kebodohan dan cara untuk hal ini adalah dengan BELAJAR.

Jika BELAJAR menjadi orientasi kita, kita akan memahami bahwa belajar tidak hanya dalam ruang sekolah atau saat kelas kuliah, namun hal ini bisa katong lakukan di lain tempat, kamar kos, himpunan papua, warung, dll.

Hal ini sangat penting mengingat masalah yang nantinya terjadi akibat motivasi yang tidak tepat itu. Bayak putra/putri papua jebolah Univ ternama dengan IPK > 3,5 namun tidak berkualitas. Ketika ada dalam medan pelayannya di masyarakat kontribusi-nya sama sekali tidak ada, bahkan mereka seperti ini yang -menurut saya- menjadi penyebab masalah dalam masyarakat.

Hal ini terjadi karena orientasi tersebut sudah berubah dari menimba ilmu menjadi mengejar sertifikat (ijazah atau gelar) semata. Kita tidak bisa menyejahtrakan rakyat kita dengan gelar atau ijazah kita, yang rakyat perlukan pengabdian diri kita, dengan menerapkan ilmu yang telah kita PELAJARI.

Oleh karenanya orientasi kita serta motivasi awal kita harus dilihat kembali, sebab rakyat papua perlu kualitas dan bukan kuantitas, yang  rakyat papua butuhkan pengabdian bukan IPK yang tinggi. Belajarlah yang utama, sebab dengan itu kita mampu untuk mengabdi pada bangsa serta mewujudkan kesejahtraan, kedamaian, ketentraman, dan keamananan yang menjadi impian kita bersama!


*). Elyan Kowi adalah mahasiswa Papua.

Ingin tulisanmu dipublis, kirmkan ke majalahkribo@gmail.com


Sumber : www.majalahkribo.com

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Post Top Ad

Responsive Ads Here