Pendidikan yang Menindas - WENAS KOBOGAU

Breaking

WENAS KOBOGAU

Percikan Bunga Api Untuk West Papua

test banner

Post Top Ad

Responsive Ads Here

Post Top Ad

Responsive Ads Here

Senin, 07 Maret 2016

Pendidikan yang Menindas

Humanisasi merupakan fitrah manusia, fitrah inilah yang sering terlupakan dan dengan sengaja ditiadakan. Rendah diri adalah sikap utama yang membuat kaum tertindas semakin tenggelam dalam kubangan penindasan. Dalam pandangan kaum tertindas, mereka menganggap dirinya sebagai “benda” yang artinya dimiliki oleh kaum penindas. Kaum tertindas secara emosional tergantung pada penindas, sikap inilah yang nantinya menciptakan perilaku nekrofilis : perusakan kehidupan. Kesadaran harus mulai dibentuk dalam diri kaum tertindas, perjuangan ini harus dimulai dari kesadaran bahwa mereka selama ini telah dengan sengaja dihancurkan.
Buku berjudul “Pendidikan Kaum Tertindas” karya Paolo Freire yang secara garis besar berisikan tentang pendidikan yang menindas, dimana pendidik dalam hal ini bertindak layaknya seorang penindas, murid dijadikannya sebagai bejana untuk wadah penyimpanan, guru disini bertindak seperti penabung dan murid merupakan celengannya. Semakin penuh celengan, maka guru akan semakin senang. Bukan itu intisari dari sebuah pendidikan, guru seakan tahu segala hal dan murid layaknya kerbau yang dengan patuh mengikuti instruksi guru yang terkesan ”menindas”.
Dialog yang ajeg antara penindas dan kaum tertindas, serta keikutsertaan aktif serta bersama-sama mengamati realita. Ketika memperoleh pengetahuan tentang realitas yang terjadi itu secara kritis, tetapi juga dalam tugas menciptakan kembali pengetahuan itu. Nantinya, mereka akan menyadari dirinya sebagai pencipta kembali pengetahuan yang tetap. Kehadiran kaum tertindas dalam perjuangan terhadap pembebasannya akan sesuai dengan yang diharapkan, yaitu keterlibatan aktif dan pasti bukan semu.

Pendidikan yang membebaskan adalah pemecahannya dan diperlukan rekonsiliasi. Kontradiksi guru-murid harus dihapuskan, sehingga kedua-duanya secara bersamaan adalah guru dan murid. Konsep pendidikan gaya bank menjadikan murid sebagai benda dan gampang diatur, dengan begitu akan mengurangi atau menghapuskan daya kreasi para murid, serta menumbuhkan sikap mudah percaya, menguntungkan kepentingan kaum penindas. Konsep pendidikan gaya bank cenderung membedakan dua tahap kegiatan seorang pendidik, dimana guru mengamati sebuah onjek lalu menceritakan kembali kepada murid tanpa melibatkan murid secara aktif dalam proses pengamatan objek tersebut. Metode pendidikan hadap-masalah merupakan sikap revulusioner terhadap masa depan, dalam konsep ini murid bukanlah orang yang tertidas, mereka secara aktif dan sadar ikut serta dalam kegiatan belajar. Pendidikan yang sejati tidak berjalan masing-masing, tetapi bersama-sama dan berdampingan.
Dalam buku ”PENDIDIKAN KAUM TERTINDAS” dapat disimpulakan bahwa pemikiran freire mengenai pendidikan yang terjadi menurut pengamatannya adalah pendidikan yang menindas. Murid pun secara sadar menjadikan dirinya sebagai orang yang tertindas. Semua itu tidak lepas dari lingkaran sesat yang awalnya telah dimulai dan agaknya sulit untuk diputus, dimana orang-orang yang dulunya tertindas akan berbalik menjadi penindas, bukannya mengubah kontradiksi yang terjadi, tetapi malah melestarikannya.
Guru-murid haruslah bersama-sama merupakan satu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan, tidak boleh guru menganggap muridya bodoh dan tidak tahu apa-apa, guru haruslah mampu menumbuhkan sikap ingin tahu murid dan berusaha menciptakan iklim belajar yang kondusif serta efektif yang akan merangsang murid bereksperimen. Guru belajar dari murid dan murid belajar dari guru, guru-murid secara berdampingan bersama.
Sifat antidialogis merupakan salah satu sikap penindasan, dimana yang ciri-cirinya adalah penaklukan dan memanipulasi. Guru tak boleh bertindak layaknya penguasa, menjadikan murid sebagai ”benda” yang ia miliki. Layak ditaklukan dan dimanipulasi. Jika dalam pendidikan sifat antidialogis ini berkembang, tak ubahnya pendidikan adalah sebuah ajang tindas-menindas antara guru-murid.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Post Top Ad

Responsive Ads Here