Pengantar Memahami Kapitalisme - WENAS KOBOGAU

WENAS KOBOGAU

Percikan Bunga Api Untuk West Papua

test banner

Breaking

Post Top Ad

Responsive Ads Here

Post Top Ad

Responsive Ads Here

Senin, 07 Maret 2016

Pengantar Memahami Kapitalisme

Oleh : Dedy Andiwinata

Kaum kapitalis tidak kenal anda itu 'siapa', tetapi mereka kenal anda itu 'apa'
Banyak literatur kiranya yang sudah mengkaji dan memberi penjelasan mengenai penggalan kata di atas. Tentu masih hangat sampai hari ini, tentang 'apa' itu, yang tidak lain berarti calon Konsumen. Untuk memahami serangan Kapitalis, yang memainkan fokus kesadaran manusia, maka kita mesti memiliki mental dan kesadaran yang kuat. Berapa sarjana telah menyatukan pendapat, bahwa esensi kesadaran kemanusiaan merupakan sebuah konsekwensi alkulturasi. konsekwensi tersebut menimbulkan kebudayaan, teori-teori sosiologi dan seterusnya.
Secara terbuka pula dalam kehidupan ini telah kita jumpai bahwa hidup ini memiliki dua sisi kenyataan yang menempatkan “ini adalah baik” dan “itu adalah buruk”, begitu pula baik buruk itu menjelma menjadi potensi komprehensif yang menghidupi manusia dalam masyarakat sebagai makhluk yang berada di bawah ideologi “Sosialis” dan ideologi “Individualis”, yang mana satu sama lain masing-masing memiliki pendukung fanatis yang bersedia berlaku ekstrimis maupun kejahatan merangkak.
Kemuliaan dan kutukan satu sama lain selalu terlempar dalam setiap jamnya tentang dua ideology ini, ini terbukti terdapat begitu banyaknya pembahasan yang mendefinisikan sosialisme itu berwujud “jahat” sebagai “komunis”, sedangkan individualisme itu berwujud “jahat” sebagai “kapitalisme”. Setelah menimbang pada apa yang terjadi dewasa ini, maka perlulah yang dilebih kedepankan adalah membahas kapitalisme dan gerakannya dalam kehidupan ini, karena jikalau kita membahas sosialisme, sama saja kita membahas sesuatu yang sudah tidak melawan atau kasarnya “sudah mati” perdebatan sosialisme itu di jaman ini. Dan jadilah kajian ini adalah kajian khusus untuk menunjuk hidung individualism dengan kapitalisme nya.
Kapitalisme adalah suatu hal yang tidak menggunakan wujud sebagai senjata, akan tetapi ia lebih pada sifat belaka, sifat manusiawi semata, akan tetapi belakangan semua itu keadaannya menjadi bias dan meluas sampai tidak dapat ditelusuri apakah kapitalisme itu sesungguhnya, maka saya tidak mau menenggelamkan keadaan pada suatu definisi tertentu, tapi hanya menyatakan bahwa kapitalisme tidak pantas menyandang suatu isme, karena sesungguhnya isme dalam kapitalisme itu tidak ada, sesungguhnya kapitalisme dipakai untuk menggambarkan suatu sifat manusia yang dilandasi dengan kerakusan-kerakusan dan kemaha”aku”an, kapitalisme hanyalah suatu pemikiran manusia belaka yang hendak menjaga status quo-nya dengan memisahkan manusia lain dari kesadaran terhadap hakikat hidupnya, kekuatan kemandiriannya, dan mengkonstruksi pikiran manusia agar melepaskan semua keadaan itu semata mata agar beralih pada penghumbaran nafsu manusiawi belaka, beralih pada sifat-sifat sebagai suatu konsumen yang dikendalikan oleh nafsunya akan barang dan jasa yang berpretise tinggi.
Kapitalisme menyerang dengan esensi mendasarnya, dan mengadakan suatu kepercayaan baru yang bertolak pada landasan positivisme dan konsensus saintis, dan membuat mahakarya yang mencitrakan bahwa realita hidup adalah semata mencari Modal kekayaan, bahwa modal adalah kehormatan tertinggi dalam kelahiran manusia ini, tapi apakah benar? Kenyataan ini telah membuahkan suatu kebangkitan “ketamakan” yang universal di jaman ini, apakah ini sebuah kemajuan modernitas itu? Di antara kenyataan kerakusan itu, kapitalisme sungguh menyesatkan perkiraan manusia tentang kehidupan di bawah hukum kodrat, hal ini terbukti bagaimana kaum kapitalis mempermainkan kecemasan manusia akan datangnya hari kiamat. Banyak kekacauan dalam psikologis manusia yang dipicu oleh kapitalisme itu, angka bunuh diri meningkat, angka kemiskinan semakin signifikan dari tahun ketahun, namun para kapitalis meyalahkan para penganggur dan mengatakan itu adalah kesalahan nya sendiri yang tidak bisa mengantisipasi keadaan, benarkah sedemikian adanya? Mari kita tengok garis besarnya dalam tulisan ini, dan mari kita mengakui sejenak hidup kita kini ada dalam cengkraman kapitalisme agar bisa merefleksi tulisan ini sebelum kita menghancurkannya setahun dua tahun dimasa yang akan datang.
Kapitalisme dan Pembodohan Umat
Terdapat suatu bahasan dari para sosial demokrat eropa bahwa dalam sistem kapitalisme telah terjadi keberhasilan rekayasa sosial, sehingga secara signifikan komersialisasi di segala bidang menjadi suatu perlengkapan pikir masyarakat dewasa ini, antara lain komersialisasi itu mempermainkan kesadaran manusia tentang esensi dari kata perkata “kebutuhan”, dimana sesungguhnya “kebutuhan” inilah yang menjadi hukum yang dikemukakan Adam Smith sebagai ibu dari lahirnya tangan-tangan tidak terlihat atau “invicible hand” yang akan mengurus para pengangguran, kebutuhan itulah yang membuat manusia rela mendapat pasungan para tuan tanah, para pemilik modal, meski hanya dengan upah yang minimal sama sekali, inilah suatu sistem kapitalisme itu, ia menyerang psikologis manusia, merekonstruksi pemikiran manusia terhadap alam semesta dan diri manusia itu sendiri, sehingga peraingan menjadi membumi dalam pemenuhan kebutuhan, petani menjadi saudagar, nelayan menjadi buruh pabrikan, mereka meninggalkan tanahnya terbengkalai, meninggalkan lautnya, hanya untuk melihat suatu upahan perusahaan yang kelihatannya lebih signifikan dari pada berkebun atau menjadi seorang nelayan yang tabah. Ini adalah cikal bakal dari suatu individu mengamini bahwa kapitalisme terlepas dari semua kesenjangan sosial ini sehingga berhasil menyebarkan anggapan bahwa pengangguran lah yang salah, karena tidak mau berusaha, bukan para kapitalisyang salah. Tapi kenyataannya kapitalisme lah yang seharusnya bertanggungjawab penuh atas penderitaan kemanusiaan pada millennium ini.
Pertanggungjawaban para kapitalis ini seharusnya sebesar apa yang ia dapatkan dalam meyelamatkan investasinya dalam kegiatan pasar, Karl Marx menekankan sebuah poin penting tentang daya hidup kapitalisme, yaitu yang hanya mengandalkan pertumbuhan dan ekspansi modal yang stabil sebagai poin vital kehidupannya (Lekachman & Borin, 2008 : 7), keseimbangan (kestabilan) kapitalisme ini dijaga dengan melakukan penyatuan ekonomi dunia dalam sebuah ikatan, dimana dalam ikatan tersebut dilakukan proses perputaran sejumlah besar uang melalui bank-bank dan bursa-bursa saham. Uang bermilyar-milyar dolar dan mata uang lainnya mengalir dari Negara-negara yang kaya modal tapi miskin bahan tambang minyak ke Negara-negara OPEC, dan OPEC mengembalikan putarannya kembali ke Bank-bank dunia.
Sebagaimana kita ketahui bahwa perputaran uang adalah untuk menjaga kestabilan kapitalisme pula, sehingga dibentuklah bank-bank untuk menjaga perputaran uang tersebut tetap berjalan, maka dibuatlah fungsi Bank yang menjanjikan bunga pada penabung, agar membuat orang tergiur menyimpan uang di Bank, sehingga Fungsi bank juga adalah untuk meraup keuntungan, keuntungan itu didapat dengan memberikan pinjaman pada Negara-negara berkembang (Afrika, Asia, Amerika latin) dengan kisaran bunga yang ditentukan sepihak oleh bank seperti yang dilakukan bank dunia. Dengan begitu sebenarnya Negara-negara berkembang ini sendirilah yang akan membayar tagihan pembelian minyak Negara Negara kapitalis (Eropa, Amerika Serikat), dan terlihat jelas dalam realitas bahwa pengolahan minyak hanya dimonopoli oleh pihak asing, dan nyata pula Negara berkembang (yang kaya minyak) menjual minyak mentah dengan murah, lalu membeli minyak mentahnya sendiri yang sudah jadi dengan harga mahal, ini atinya Negara berkembang dipaksa menjadi kapitalisme dalam semalam oleh kapitalis barat demi menyokong legalitas kapitalisme global itu sendiri.
Logika sederhana kapitalisme dalam perputaran uang inilah yang selama ini menjadi hilang dari penglihatan manusia secara awam, ini yang menyebabkan keterpautan satu sama lain yang dapat disebut sebagai sistem ekonomi kapitalis. Penjagaan perputaran uang secara skematis ini dilakukan para kapitalis untuk menjaga kekayaannya yang bergantung pada keadaan pasar, dan bagaimanakah caranya perputaran itu bisa terjadi kalau bukan dengan membuat ketergantungan konsumen pada komoditas hasil industri, ini pula daya hidup bagi kapitalisme, dimana dengan berhasil menciptakan ketergantungan, Negara-negara kapitalis yang miskin tambang minyak terus berupaya menciptakan ketergantungan Negara berkembang agar tetap pada garis yang ditentukan demi kelangsungan hidup kapitalisme. Maka jelas sudah apa yang terjadi di dunia ini!, dimana barang produksi yang selalu di buat baru setiap tahunnya, kegiatan penciptaan produk ini secara esensial bukanlah demi kemajuan kemanusiaan, namun kegiatan produksi hanyalah semata-mata untuk mencari keuntungan belaka, dan untuk menjaga ketergantungan suatu Negara pada Negara pemilik modal, isu kemanusiaan hanyalah propaganda belaka sebagai pembenaran dari penipuan besar para kaum kapitalis.
Dari sudut pandang akibat, kapitalisme melahirkan apa yang namanya “liberalisme”, yaitu kebebasan kepemilikian atas segala hal (apapun) yang sepanjang bisa (mampu) dimiliki dan menghakinya secara legal sesuai kebiasaan pasar. Liberalism ini paling subur dan berasal dari Amerika Serikat khususnya, ini sesuai dengan apa yang dikemukakan oleh De Tocqueville pada tahun 1930-an, yang menyatakan bahwa “…tidak ada Negara lain manapun di dunia di mana kecintaan terhadap kepemilikan barang-barang lebih besar atau lebih bersemangat ketimbang (dari) di Amerika Serikat, dan tidak ada di tempat lain manapun dimana mayoritas penduduknya cenderung enggan pada doktrin-doktrin yang dapat mengancam hak kepemilikan” (Lekachman & Borin, 2008 : 10). Pernyataan ini artinya kembali melahirkan anak dari liberalism, yaitu pengakuan individualisme yang berlebihan. Kemudian dalam perjalanan sistemik nya, antara kapitalisme, liberalisme, individualisme menjadi satu junjungan para kapitalis, sehingga yang paling dituju dan yang paling utama (grand mind) sesungguhnya adalah memperkuat individualitasnya sebagai penguasa dunia dengan ekonomi khususnya bagi kapitalis dunia.
Kapitalis hendak melenyapkan keterbatasan kekuasaannya dari kehidupan sosial tradisional dengan rayuan kenikmatan kepemilikan harta kekayaan yang sebanyak-banyaknya. Melalui upaya menghapuskan kesadaran kelas sosial, kapitalis terus melakukan penghancuran sistem tradisional kebudayaan bangsa lain, dan mengupayakan agar masuk dalam sangkar perdagangannya melalui pencucian kebudayaan (modernisasi-weternisasi) dengan memutar balikkan sejarah suatu bangsa. hal ini akan sangat mempengaruhi jalannya peradaban manusia, dan merubah mindset manusia tentang kehidupan dan alam semesta, alhasilnya adalah menghadirkan berbagai istilah dan pepatah-pepatah untuk menyelamatkan eksistensi Kapital nya, salah satunya dengan memekikkan kebodohan tentang “waktu adalah uang” dan kebohongan “The New Wold Order”.
Dewasa ini, Kapitalisme sudah merubah gerakannya yang awalnya promotif (aktifitas promosi) semakin lama berubah menjadi gerakan penaburan Isu sentral tentang suatu keadaan yang akan datang, dan menyerukan bahwa satu-satunya jalan untuk menangkal isu buruk (yang dibuat-buat) yang akan datang adalah dengan membeli produknya (baik dalam bentuk jasa maupun barang) atau paling tidak dengan mengikuti rayuan-rayuan kapitalis yang beriming-iming kenikmatan (yang kotor).
Mengenai kehidupan Negara, Kapitalisme dengan otopia individulisme nya membuat masyarakat terutama buruh menjadi pelaku bisnis yang penuh perhitungan tapi tanpa memiliki hati atau idealisme (Werner Sombart, 1976). Keadaan tanpa idealisme ini menyebabkan Negara hanyalah menjadi penjaga malam (nachtwachterstaat) bagi kegiatan para pengusaha, sehingga yang dimaksud kemanusiaan dalam kapitalisme hanyalah semata-mata untuk mengelabuhi orang-orang sehingga kesadaran ideologisnya menjadi kabur, sehingga ideologi bangsa menjadi suatu utopia kosong yang tidak berarti apapun bila dibandingkan dengan “sepiring nasi”.

II. Kapitalisme, Suatu Sistem Pembodohan Sosial.
Seperti yang sudah tertulis di awal, bahwa kapitalisme adalah sitemik ekonomi pembodohan, maka lebih lanjut mengenai serangan yang ditujukan oleh kapitalisme adalah terhadap psikologis manusia, atau para sosialis menyebutnya “kesadaran manusia” (man consciousness). Dengan melakukan penelitian kebutuhan hidup suatu masyarakat, kapitalis menjalankan kodratnya sebagai pencari keuntungan belaka, yang seperti Bung Hatta pernah mengutarakan istilah “Einschaltungtendenz” yang berarti haluan memasukkan diri, dimana dengan bantuan konsensus ilmiah, kapitalis menggelar penelitian-penelitian ilmiah , baik biologis, sosial dan kebudayaan agar dapat menguasai pola pikir masyarakat secara universalis, menjadikan masyarakat itu pribadi yang tergantung, pribadi yang mandek, maka lahirlah “Budaya Ketergantungan” atau “budaya konsumerisme” karena hilang kesadaran dan kemandirian, budaya ini disebut oleh para kaum postmodernisme sebagai budaya pop, dimana ketika seni sudah tak lagi memiliki nilai moril, ia kini tak bedanya dengan komoditi semata.
Dan diketahui pula sifat manusia, dimana memiliki sebuah efek laten yang membedakannya dengan akal makhluk lain adalah adanya kecenderungan pola pikir untuk selalu meningkatkan prestise dan ke’aku’annya dalam masyarakat. Sebagai sifat manusia yang sedemikian, siapapun, apapun agamanya, melalui apapun caranya (konteks sistem ekonomi modern), seorang pemilik modal akan senantiasa memanfaatkan penemuan baru di bidang ilmu pengetahuan dan teknologi untuk memperluas pusat-pusat industri maupun pasar bisnisnya, satu harapan nyata dari proses itu adalah semata-mata untuk mendapatkan capaian keuntungan berlipat ganda. Berdasar pada itulah manusia berupaya berjalan di tengah garis disiplin modal, yang menegaskan bahwa seorang kapitalis harus menyisihkan setiap keuntungan untuk memperluas modal-modalnya secara terus menerus demi mengembangkan cabang-cabang bisnisnya. Pertanyaannya adalah darimana para kapitalis mendapatkan kelebihan modal untuk memperluas usahanya?.
Mengais kembali pada ajaran Karl Marx yang dikubur hidup-hidup pada masa lalu, maka terdapat kebenaran dalam renungan Marx mengenai fenomena di atas. Menurut Marx perluasan industri para kapitalis berasal dari nilai lebih (merwaarde) yang didapatkan dalam proses produksi yang dilakukan para buruh. Nilai lebih (merwaarde) itu berasal dari kegiatan kerja para buruh/tenaga kerja, pertanyaannya adalah kenapa nilai lebih itu tidak jatuh ke tangan buruh? Beberapa alasan klasik dari pertanyaan tersebut karena buruh dijauhkan dari kesadarannya, penjauhan ini dilakukan pada kepemilikan peralatan produksi buruh ataupun petani, sehingga mereka para buruh merasa lebih beruntung bekrja di pabrkl-pabrik dibandingkan bekerja di kebun sendiri.
Selain merampas kesempatan berkembang para buruh, kapitalisme memperparah keadaan kebudayaan. Dalam analisis materialisme historisnya, Marx menyatakan bahwa sebagian besar problem maupun konflik dalam kebudayaan bukan berasal dari dalam diri kebudayaan itu sendiri, tapi cenderung dikarenakan oleh sistem kapitalisme yang menciptakan suatu kondisi dimana sifat ke’aku’an individu dibuat agar tetap dipermukaan dengan sentuhan isu dan wacana kemanusiaan serta menciptakan desakan kebutuhan terkait komoditas yang (direkayasa) menjadi simbol atau nilai pengukur tinggi rendahnya martabat seseorang dalam masyarakat (kursif oleh penulis), sehingga konflik-konflik yang dewasa ini terjadi adalah didominasi oleh bias material yang diakibatkan oleh hubungan produksi dalam kegiatan ekonomi kapitalis.
Kebudayaan masyarakat yang dikuasai proses-proses kehidupan kapitalis seperti tersebut dalam paragraf di atas, akan mengalihkan ciri hidup manusia berubah menjadi wujud humanisme yang materialistik , dan pada gilirannya tidak bisa tidak akan menciptakan kelas-kelas sosial yang kontradiktif (dikotomi antara buruh dan pemilik modal). Inilah salah satu alasan kenapa para kaum-kaum penanam modal kini memiliki kedudukan yang sangat kuat, dimana dengan segala karakteristik vittest of survival-nya sudah berhasil masuk dan mempengaruhi kebijakan-kebijakan pemerintahan negara. Apabila ada kalanya pemerintahan yang melulu berbicara dan menekankan kebijakannya pada sektor ekonomi dengan besar-besaran, terutama sekali disinilah para borjuis-borjuis itu akan merasa berbahagia, merasa keselamatannya akan terjamin, karena kebijakan pemerintah akan melindungi segala kegiatan produksinya, akan melindungi kegiatan yang oleh Thomas Hobbes dinyatakan sebagai “hommo homini lupus” atau kegiatan manusia menjadi serigala bagi manusia yang lain.
Penggambaran serupa dilakukan dengan pola strukturalis oleh Louis Althusser penggambaran tersebut menegaskan bagaimana kapitalis menguasai dan menjaga posisi penting pada sebuah struktur. Struktur itu digambarkan terdiri dari sektor ekonomi sebagai fondasi dari superstruktur (yang tertinggi), dimana superstruktur tersebut terdiri dari struktur legal (hukum) dan struktur politik (sebagai alat untuk mengabdi pada fondasi superstruktur yaitu sektor ekonomi), status quo-nya yang kuat terjaga, membuat kapitalisme sampai sekarang eksis bahkan semakin berkibar-kibar, keadaan kebertahanan kapitalis ini disebut oleh Althusser sebagai reproduction of capitalism. Selanjutnya secara praksis hubungan itu tergambar menjadi dua gerak, yaitu yang pertama disebut sebagai The Repressive State Aparatus dan The Ideological State Aparatus yang akan di bahas pada kesempatan lain.
Kapitalisme dalam mekanismenya tidak akan bisa lepas dari insting imperialisme. Imperialisme adalah suatu sifat dan karakteristik manusia atau suatu bangsa yang tidak ingin mengadakan kesetaraan dan tidak mau diatasi oleh sesiapapun (karakteristik liberal), hal itu memang keadaan alamiah kemanusiaan yang diliputi oleh kerakusan dan ke’aku’an semata, relevansi imperialisme ini dikatakan pantas apabila suatu kebudayaan manusia belum mengenal hukum (barbar), belum mengenal toleransi kehidupan sosial, belum menyadari bahwa manusia yang teratur adalah manusia yang apa tersebut oleh Aristoteles sebagai Zoon politiconZoon Politicon bukanlah semata bersandar pada satu masyarakat dibawah suatu kekuasaan prima ideal tunggal yang berlaku universal, akan tetapi lebih kepada tatanan sosial yang saling menghargai pluralitas hukum yang hidup di masing-masing bangsa (livinglaw).
Pernyataan Humanis Aristoteles sangat berbeda dengan wacana Humanis Kapitalisme. Kapitalisme pada dasarnya menghendaki liberalisme berlaku secara universal. Untuk mencapai liberalisme itu, Serangan-serangan pertama ditujukan kepada hukum dimana hukum dipaksa berlaku universal sebagai sebuah konvensi internasional negara-negara pemenang (baca : Blok Sekutu/barat), tak ada lain hal ini juga hanyalah batu loncatan para kapitalis internasional dalam usahanya melakukan stem suara hukum yang awalnya plural agar senada di bawah hukum internasional, merupakan suatu politik ekonomi praksis untuk melindungi kegiatan perdagangan. Hukum universal yang dikehendaki adalah hukum yang hendak menghapus tembok batas-batas negara yang dianggap mengisolasi negara sehingga para kapital sulit penyaluran produksi dan penanaman modalnya.
Kapitalisme tidak pernah merubah dunia menjadi lebih baik dengan kegiatan perdagangannya!, semua kegiatan humanisnya hanyalah sebatas sebagai dalil pembenaran dan pengelabuhan kegiatan para kapitalis (politik etis). karena perubahan yang ada sampai dewasa ini tidak lebih terjadi karena ide-ide humanis seseorang actor ilmiah belaka untuk melengkapi kehidupannya yang dianggap terdapat kekurangan (misal : ketika penciptaan mesin uap oleh James Watt), kesempatan penemuan inilah yang dipergunakan oleh kapitalis-kapitalis untuk pembenarannya, mereka para kapitalis membeli penemuan atau ide-ide baru yang ada untuk mengabadikan eksistensinya. Bila kapitalisme mendalilkan kegiatan penyaduran produk tersebut sebagai upaya pendistribusian kepada masyarakat luas yang layak, maka justru disana letak kebohongan para kapitalis. Dengan dalih sebagai penyalur produk yang dapat merubah kehidupan manusia menjadi lebih mudah, mereka para kapitalis mulai menghilangkan kesadaran manusia dari esensi kehidupannya yang berkarakter sosial, menjadi karakter individual, sehingga menjauhkan manusia satu dengan manusia lain, serta rela menjadi manusia suruhan orang lain (pemilik modal) hanya untuk mencapai dan memiliki produk yang didalilkan para kapitalis sebagai bagian dari usaha (kebohongan) perubahan dunia menjadi lebih baik itu. Begitu pula secara tidak langsung, naluriah berbagi antar manusia akan merosot, tradisi kekeluargaan yang dulu sangat mudah untuk berbagi antar tetangga dalam hal terkecil sekalipun akan menuju titik pelenyapan sama sekali, tidak lain dan tidak bukan adalah karena rekonstruksi psykologis yang dilakukan para kapitalis melalui media-media (cetak, elektronik maupun pedagogik) yang berlandas pada rasionalis-liberalis. Inilah yang diinginkan para kapitalis, suatu keadaan yang cerai berai, suatu keadaan yang tergantung, suatu keadaan yang hilang independent, menjauhkan manusia satu sama lain dengan skematis, menerapkan mekanisme-mekanisme kerja kaku yang menghabisi waktu para buruh (tenaga kerja) untuk berkomunikasi dan bersosialisasi dengan dunia luar.
Dalam tataran mekanisme produksi, Apa yang diskemakan dalam lompatan-lompatan produksi, layaknya berhitung dari nol sampai seratus secara ber-urutan, para kapitalis menghindari kegiatan perubahan dari angka nol langsung menuju hitungan kelima, karena lompatan jauh yang sedemikian akan merugikan para pemilik modal. Begitulah para kapitalis mempermainkan kebutuhan manusia yang telah dibuat tidak sadar pada hakikat humanisme-nya tentang suatu komoditas, karena telah direkonstruksi secara ilmiah oleh gerakan para kapitalis melalui universitas-universitas, serta buku-buku yang sarat akan rasionalitas para liberalis yang bersifat sugestif. Sehingga tak heran kapitalisme melalui birahi liberalisme-nya menjadi suatu kekuatan holistik untuk memperalat eksistensi manusia di atas dunia ini, karena rekonstruksi manusia lah yang diharapkan para kapitalis, rekonstruksi dimana manusia yang awalnya mandiri berubah menjadi manusia konsumtif belaka.
Sumber kehidupan kapitalisme dalam segala zaman bukanlah benda-benda perlengkapan industri saja, bukanlah modal saja, bukanlah ide-ide belaka, namun jauh lebih sederhana dari itu, sesungguhnya sumber kehidupan utama bagi Kapitalisme adalah manusia baru (baca : manusia yang di rekonsruksi pola pikirnya sesuai alur kapitalisme/manusia konsumtif). Karakter Kapitalis secara garis besar (minus gerakan-gerakan terselubungnya) dalam penegakan relevansi dan eksistensinya senantiasa melakukan konstruksi besar-besaran terhadap kehidupan di muka bumi agar menemukan universalitas eksistensinya. Dengan berhasil mewujudkan visi universalitasnya, kapitalisme menemukan keabadiannya. Visi ini yang menjadi suatu awal, dimana dalam realitas manusia mulai dilakukan suatu fragmentasi, baik dengan diadakannya konsensus-konsensus ilmiah maupun ikatan-ikatan lain yang diperlukan untuk menggeser kesadaran manusia (consciousness of man) agar berubah menjadi tata kehidupan dunia baru (the new world order) yang semata-mata untuk menyamankan kegiatan penanaman modal para kapitalis.
Bersamaan visi tersebut, kapitalisme berhasil merobohkan tradisi-tradisi lama yang telah dianut secara semi-revolusi. Kapitalisme menyerang dengan beberapa skema, yaitu kolonialisme sebagai langkah awal penjebolan konsep masyarakat tradisional, kemudian langkah selanjutnya melakukan penyempurnaan-penyempurnaan dalam mengajegkan neo-imperialisme (baca : strategi mencuri yang tidak berdosa). Logika ini mungkin akan selalu disangkal, namun hakikinya kapitalisme yang beralatkan imperialisme dan berasas liberalisme sesungguhnya lahir dari naluri ambisius alamiah manusia untuk menampilkan ke’aku’anya, sifat inilah yang membentuk landasan pikir kapitalisme. Melalui penyempurnaan metode, para kapitalis tidak akan disibukkan lagi oleh plesetan pepatah “penipu tidak akan mengaku dirinya penipu”, sehingga dapat dimengerti kalaupun sang kapitalis adalah penipu dia tetap tak akan mengakuinya, penipu yang mengaku dirinya seorang penipu adalah penipu yang sadar, kesadaran seperti inilah yang perlu ditegakkan dalam humanisme, karena kesadaran inilah yang direkonstruksi kaum kapitalis sehingga berhasil menjadikan suatu penipuan dikemas dengan kemuliaan, menjadikan kenistaan itu sebagai hal yang wajar dalam kehidupan sosial atau sudah berhasil menjadi paradigma dalam masyarakat.
Theodor Adorno, seorang tokoh sentral dalam The Frankfurt School pernah menyatakan bahwa dalam masyarakat sosial yang dipengaruhi oleh etos kapitalis, suatu komoditas disembunyikan sifat dan fungsi aslinya, kemudian dengan menonjolkan segi fantasi yang ilusi semata, penghumbaran hal-hal fantasi dari suatu komoditas digunakan oleh para kapitalis untuk merangsang kesadaran manusia agar meninggalkan hakiki suatu komoditas atau bahkan menghilangkan kesadaran kemanusiaan konsumennya, sehingga terciptalah suatu keadaan yang oleh Adorno disebut sebagai “kesadaran yang dipalsukan”. Hal ini paling jelas terekspresikan dalam radio, film maupun iklan.
Kerusakan yang dimunculkan oleh etos kapitalis ini yaitu dapat diambil contoh pada produksi kesenian. Karena mementingkan keuntungan, sebuah karya seni tidak lagi autentik, kesenian akan menjadi kegembiraan yang kosong belaka tanpa memiliki makna yang bisa diberikan pada kehidupan kemanusiaan.
Kapitalisme bisa melahirkan kaum kapitalis pemula lain secara berantai yang lebih fanatik dan matrealistis, sehingga melahirkan para kapitalis pribumi secara tidak langsung, karena sifat yang matrealistik keuangan, sehingga kapitalis pemula melayani kepentingan konsumen secara tidak kritis, sang kapitalis dalam suatu industri hanya mengetahui kemungkinan laba perusahaan. Seperti yang dijelaskan sebelumnya mengenai “kesadaran yang dipalsukan”, apabila kesadaran sudah berhasil dipalsukan, maka sebagai konsumen, manusia tidak lagi independent, seorang konsumen akan menjadi skeptis (ragu) pada komoditas-komoditas yang tidak memiliki merk (brand), hal-hal fantastis (baca : produk yang belum memiliki iklan yang ditayangkan di televisi maupun media lain), sehingga dalam tahap ini manusia sudah mulai digiring oleh isu-isu yang berkembang dalam media, disinilah letak ketidak independent-an seorang manusia yang sudah dipalsukan kesadarannya oleh skematik kapitalisme, konsumen tidak menemukan lagi karya seni atau produk-produk yang mampu menstimulasi daya kritis mereka sebagai individu. Yang tersisa adalah pikiran manusia yang menjadi tidak bebas; mereka terbelenggu oleh sistem kapitalis, ketidak bebasan ini yang oleh Louis Altusher menjadi suatu Ideologi. Louis Altusher dalam karyanya Lenin and Philosophy and Other Essayspernah menyatakan bahwa “Dalam keadaannya yang terdistorsi, ideologi tidak mewakili hubungan-hubungan produksi yang ada (dan hubungan-hubungan lain yang diturunkan darinya) tetapi mewakili semua hubungan (imajiner) para individu pada hubungan-hubungan produksi dan semua hubungan yang diturunkan daripadanya”.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Post Top Ad

Responsive Ads Here