Perempuan Papua Belajar Dari Rosa Luxemburg Melawan Penindasan - WENAS KOBOGAU

Breaking

WENAS KOBOGAU

Percikan Bunga Api Untuk West Papua

test banner

Post Top Ad

Responsive Ads Here

Post Top Ad

Responsive Ads Here

Senin, 07 Maret 2016

Perempuan Papua Belajar Dari Rosa Luxemburg Melawan Penindasan

Ilustrasi Perempuan West Papua Yang merindukan Pembebasan Nasional Bagi Rakyat Papua Barat ( Foto. Pribadi Yullybetha A" Dogga Gombo)
 Oleh : Yullybetha A'Dogga Gombo

Kendati secara khusus jarang menulis tentang gerakan perempuan, namun pemahaman Rosa terhadap gerakan perempuan sangat jelas. Baginya, kebebasan perempuan adalah bagian dari pembebasan proletariat dari penindasan kapitalisme. Ia tidak menolak perjuangan kesetaraan antara perempuan dan laki-laki, bahkan ia menunjukkan fakta-fakta bahwa tanpa dukungan perempuan proletariat maka Partai Sosial Demokrat (Social Democratic Party) mungkin tak akan memperoleh kemenangan besar pada pemilu 12 Januari 1912; perempuan proletariat adalah barisan paling militan dalam aksi-aksi massa yang digelar oleh gerakan sosial demokrat; dan lebih dari 100 ribu perempuan proletariat menjadi pelanggan dari koran Die Gleichhet, koran perempuan Sosial Demokrat yang diedit oleh Clara Zetkin.

Bagi Rosa, tidak adanya hak pilih bagi perempuan proletariat, membuat kelas-kelas berkuasa semakin mudah mengeksploitasi proletariat. Karena itu, ‘hak pilih perempuan harus merupakan tujuan’ dari perjuangan partai.‘Seorang perempuan, harus berani untuk terlibat dalam politik, sebuah wilayah yang hampir seluruhnya dikuasai oleh laki-laki,’ demikian ungkapnya. Dalam sebuah pidato pada Rally Perempuan Sosial Demokratik Kedua, 12 Mei 1912, Luxemburg menyatakan bahwa hak memilih kaum perempuan adalah sasaran yang tepat. Dia berpendapat bahwa ‘gerakan massa untuk memperolehnya bukanlah (sekedar) tugas bagi perempuan dan laki-laki dalam masyarakat proletariat. Lemahya hak-hak yang diberikan oleh pemerintah Jerman adalah hanya salah satu rantai belenggu yang menghalang-halangi kehidupan masyarakat. Lemahnya hak-hak pada kaum perempuan menjadi alat yang paling penting dari klas kapitalis yang berkuasa.’

Tetapi, di sini ia memberikan penekanan bahwa ‘gerakan massa yang memperjuangkan hak pilih perempuan tersebut bukanlah merupakan isu perempuan itu sendiri, tapi harus merupakan kesadaran bersama dari kelas proletariat perempuan maupun laki-laki.’  Dengan sendirinya ia menentang gerakan perempuan yang bersifat eksklusif, yang sekadar menuntut reformasi-reformasi politik yang terbatas, atau memperjuangkan isu-isu tertentu yang terpisah satu sama lainnya. Misalnya, ia menolak tuntutan kaum perempuan yang hanya terbatas pada tuntutan kesetaraan antara laki-laki dan perempuan, karena menurutnya, itu  adalah tuntutannya perempuan borjuis, bukan tuntutan perempuan proletariat. Rosa mengatakan, kaum perempuan borjuis jika telah mendapatkan hak-hak pilihnya setara dengan laki-laki, jika ia telah sanggup melangkahi ‘male prerogatives,’ maka mereka seringkali menjadi lebih konservatif dan reaksioner ketimbang laki-laki. Bagi Rosa, ini bukan persoalan psikologis, tapi karena posisi kelasnya sebagai co-consumer, karena hanya sedikit sekali dari perempuan borjuis ini mengambil bagian dalam proses produksi sosial. Dalam artikelnya berjudul Women’s Suffrage and Class Struggle,Rosa menuding perempuan borjuis ini sebagai ‘parasit dari parasitnya sebuah bodi sosial dan sebagai co-consumer mereka lebih fanatik dan kejam dalam mempertahankan “haknya” agar bisa hidup sebagai parasit dibandingkan dengan agen langsung dari kelas berkuasa dan penindas.’

Dari  perspektif ini, tidak heran jika Rosa memberi tempat mulia bagi perempuan proletariat, karena ia merupakan bagian tak terpisahkan dari proses produksi sosial kapitalisme. Dalam proses produksi itu, perempuan proletariat secara ekonomi keberadaannya adalah  independen ketimbang perempuan borjuis, karena ia melakukan kerja-kerja produktif sebagaimana laki-laki proletariat. Tanpa adanya kerja produktif, maka kapitalis tidak bisa meraup keuntungan dan pada akhirnya jatuh bangkrut. Seperti kata Rosa, ‘sejauh kapitalisme dan sistem upah eksis, maka hanya kerja produktiflah yang memproduksi nilai lebih, yang mana hal itu kemudian menciptakan keuntungan bagi kapitalis.’

Dan karena secara ekonomi perempuan proletariat lebih independen, jelas ia lebih peduli pada pentingnya kebebasan politik. Lagi pula, perkembangan pesat ala-alat produksi dan hukum-hukum kerja kapitalis, tuntutan akan hak pilih perempuan makin tak terelakkan. Tapi, di sinilah poin penting Rosa dalam memberikan panduan bagi perjuangan politik perempaun proletariat, dimana dalam perjuangan politiknya tuntutan utama yang harus dimajukan bukanlah persoalan ketidakadilan (injustice). Bahkan Rosa dengan tegas mengatakan bahwa ketidakadilan bukanlah tuntutan kita. ‘Inilah perbedaan mendasar kita dengan kalangan sosialisme utopis, serta kaum sentimentalis awal. Kita tidak tergantung pada keadilan dari kelas berkuasa, tetapi semata-mata pada kekuatan revolusioner dari massa pekerja dan tentu saja pada perkembangan sosial yang kekuatannya terus dipersiapkan secara konkret. Jadi ketidakadilan itu sendiri bukanlah alasan buat kita untuk menjatuhkan lembaga-lembaga yang reaksioner.’ Dan karena itu, perjuangan politik perempuan, menurut Rosa, hanya bagian perjuangan umum proletariat untuk pembebasan dirinya dari eksploitasi  kapital.

Dan sebagai seorang sosialis revolusioner, Rosa selalu setia pada perjuangan yang berbasis massa. Ia menolak perjuangan perempuan yang elitis, atau perjuangan aktivis perempuan yang disuarakan secara radikal dari kampus-kampus. Baginya, perempuan proletariat harus melampuai sekat-sekat bangunan pabrik, mereka harus mau bermuhibah ke kantong-kantong perempuan miskin perkotaan, perempuan miskin pedesaan, dan perempuan miskin dari ras dan etnis yang tertindas.  Tanpa gerakan massa, maka tidak akan ada gerakan revolusioner.

Rosa Mengatakan juga Kaum Revolusioner harus mulai terlibat dalam perjuangan nasional untuk memberikan pengaruh dan motivasi dalam perjuangan pembebasan ditengah-tengah masyarakat dan mengawali pendekatannya dari kondisi kongkrit tersebut.

Rosa mengemukakan juga “Penting bagi kaum sosialis untuk mendukung hak dari negeri tertindas untuk perjuangan hak menentukan nasib sendiri, guna melawan Kapitalisme dan Imperialisme dan Militerisme.


Rosa “Mendukung hak sebuah bangsa untuk menentukan nasib sendiri adalah unsur kunci bagi sebuah pendekatan strategis dalam membangun solidaritas internasional kelas pekerja berdasarkan kondisi nyata. Solidaritas ini akan mendorong kelas masyarakat di negeri penjajah, menjadi pendukung hak dari rakyat terjajah untuk merdeka”.


Diatas ini salah satu contoh besar dari aktivis perempuan yang berjuang demi kebebasan, kedamaian dan keadilan bagi banyak orang. Maka upaya-upaya penting yang dilakukan oleh para aktivis Perempuan Papua diberbagai penjuru perjuangan memainkan peran penting untuk menjamin tercapainya Hak Penentuan Nasib sendiri (Self Determination).


Salut buat aktivis Perempuan Papua yang selalu saja berjuang demi untuk masyarakat serta Tanah Papua.


Suara kalian (Aktivis Perempuan Papua) akan membuka mata kawan-kawan yang belum tahu latar belakang Tanah dan Rakyat Papua. Suara kalian adalah suara Emas yang nantinya akan membebaskan banyak orang dari Kapitalisme, Imperialisme, Kolonialisme dan Militerisme di Tanah Papua.


“Demi perjuangan yang takkan pernah mati, pupuklah selalu harapanmu, tambah dan semangatlah dalam perjuanganmu, dengar dan belajarlah selalu dari pengalaman kaum tertindas, ujilah selalu dari menit ke menit komitmen-komitmenmu, jauhilah selalu godaan-godaan dari harta dan tahta, ingatlah selalu bahwa perjuanganmu adalah perjuangan seluruh kaum tertindas”.


“Salam Juang (Self Determination)”

Penulis Adalah Yullybetha A'Dogga Gombo Anggota AMP Jakarta 

Refrensin 
Berto TukanRosa Luxemburg: Sang Pedang Revolusi yang dimuat di www.indoprogress.com

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Post Top Ad

Responsive Ads Here