Perjuangan Rakyat Miskin dalam Teologi Pembebasan Michael Lowy - WENAS KOBOGAU

WENAS KOBOGAU

Percikan Bunga Api Untuk West Papua

test banner

Breaking

Post Top Ad

Responsive Ads Here

Post Top Ad

Responsive Ads Here

Selasa, 15 Maret 2016

Perjuangan Rakyat Miskin dalam Teologi Pembebasan Michael Lowy

Oleh karena itu, pilihan istimewa bagi rakyat miskin, yang disahkan oleh Konferensi Para Uskup Amerika Latin di Puebla (1979), dalam kenyataannya, merupakan suatu rumusan yang menggabungkan penafsiran makna (bantuan sosial) tradisional oleh Greja yang moderat dan konservatif dengan penafsiran yang sangat radikal dari para teolog pembebasan dan aliran-aliran kepastoran yang lebih maju—yakni, suatu pemihakan pada organisasi dan perjuangan rakyat miskin untuk pembebasan mereka sendiri. 
Dengan kata lain, perjuangan kelas marxis bukan cuma menjadi suatu panduan untuk bergerak, tetapi juga sudah menjadi suatu bagian terpadu yang hakiki dari gereja orang Miskin yang baru. Sebagaimana dikatakan oleh Gustavo Gutierrez:
“Menolak kenyataan perjuangan kelas itu berarti dalam praktiknya adalah mengambil kedudukan pada pihak yang menguntungkan lapisan masyarakat yang berkuasa. Sikan netral dalam hal ini adalah mustahil sama sekali. [ Apa yang dibutuhkan ] adalah menghapuskan berbagai bentuk derma dari nilai lebih yang dihasilkan oleh kerja bagian terbesar rakyat serta berhenti memuji-muji tindakan semacam itu atas nama keselarasan sosial. Kita butuh membangun suatu msyarakat sosialis yang jauh lebih adil, lebih merdeka, dan lebih manusiawi, bukan suatu msyarakat yang penuh kedamian palsu yang berpura-pura menganjurkan kesamarataan.”
Pengertian tersebut akhirnya mengarahkan Gutierrez pada kesimpulan praktis sebagai berikut:
“ Membangun suatu masyarakat adil saat ini berarti keharusan untuk secara sadar dan aktif terlibat dalam perjuangan kelas yang terjadi nyata di depan mata kita.”
Bagaimana hal itu dapat dicocokkan dengan kewajiban Kristen tentang cinta kasih yang bersifat semesta?
Jawaban Gutierrez menjadi sangat unik oleh ketegaran sikap politik sekaligus kedermawaan sikap moralnya: kita tidak membenci para penindas, kita justru ingin membebaskan mereka juga agar mereka terbebas dari keterasingan mereka sendiri, dari nafsu serakah mereka, dari nafsu mementingkan diri sendiri atau, dalam satu kata singkat, dari keadaan mereka yang sama sekali tidak manusiawi. Tetapi, untuk melakukan hal itu, kita sungguh-sungguh harus memilih berpihak pada kaum tertindas, secara nyata dan sungguh-sungguh menentang kelas penindas.
Sumber: Lowy, Michael (2013) Teologi Pembebasan: Kritik Marxisme & Marxisme Kritis, Yogyakarta: INSISTPress.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Post Top Ad

Responsive Ads Here