Perpisahan Sedih buat Sahabat Jalan - WENAS KOBOGAU

WENAS KOBOGAU

Percikan Bunga Api Untuk West Papua

test banner

Breaking

Post Top Ad

Responsive Ads Here

Post Top Ad

Responsive Ads Here

Sabtu, 05 Maret 2016

Perpisahan Sedih buat Sahabat Jalan


Makhota Burung Cenderawasih Imitasi. Salah satu atribut adat dan budaya yang diklaim orang Biak sebagai milik orang Biak – Jubi/Marten Bosreren
BIAK --  Orang Biak (Laki – Laki dan Perempuan Biak) sudah tidak mengenal dan menggunakan atribut adat dan budaya mereka lagi. Hal tersebut diungkapkan oleh seorang pengrajin aksesoris lokal Papua, Herlina Rumkorem, saat ditemui Jubi, Selasa (20/10/2015) di Biak. 

Herlina Rumkorem mengatakan, atribut adat dan budaya orang Biak yang sebenarnya adalah makhota dari ayaman daun tikar berbentuk bulat dan tancapan sisir bambu berukuran besar pada rambut serta sedikit hiasan bulu –bulu burung yang dalam Bahasa Biak disebut ‘Ewk Besan’.
“Bukan makhota yang dihiasai burung cenderawasih atau bulu – bulu burung yang warna – warni yang dibuat sekarang. Itu meniru makhota daerah tanah besar (sebutan untuk orang dari pulau Papua),” jelasnya.

Sedangkan atribut untuk bagian lengan kata Rumkorem berupa ayaman gelang dari daun yang sama seperti daun untuk pembuatan makhota untuk kepala dan kulit ‘Kayu Manduan’ (kulit kayu khusus untuk pembuatan gelang adat dalam budaya orang Biak) dan gelang besi tempaan untuk tangan. 
“Kemudian kalung dan gelang kaki dari anyaman kulit kerang laut ukuran kecil dan berukuran panjang sehingga bisa dilingkar di seluruh tubuh, sebagai penutup tubuh bagian atas dan bawah yang terbuat dari kulit kayu yang kini dilupakan. Mereka justru menjiplak suku – suku lain punya,” ujarnya. 

Seperti ditulis Tabloid Jubi Menurut Herlina Rumkorem, atribut –atribut tersebut seharusnya dikenal baik dan digunakan oleh semua orang Biak pada kegiatan adat dan budaya. 
Pengurus Dewan Kesenian Papua (DKP) Kabupaten Supiori, Norcen Sombuk mengakui hal tersebut. Ia mengimbau kepada seluruh orang Biak untuk berusaha mengenal dan menggunakan atribut adat dan budaya orang Biak yang sebenarnya. “Kita harus berhenti meniru atribut adat dan budaya suku –suku lain di Papua,” ujarnya. (Tabloid Jubi)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Post Top Ad

Responsive Ads Here