Pintu Menuju Neraka, Serangkai Pertengkaran Peradaban - WENAS KOBOGAU

WENAS KOBOGAU

Percikan Bunga Api Untuk West Papua

Header Ads

test banner

Breaking

Home Top Ad

Responsive Ads Here

Post Top Ad

Responsive Ads Here

Rabu, 09 Maret 2016

Pintu Menuju Neraka, Serangkai Pertengkaran Peradaban

Judul    :   Pintu Menuju Neraka, Serangkai Pertengkaran Peradaban
ISBN    979-3921-75-7
Pengarang  Vitalis Goo
Penerbit  Pilar Media
Cetakan  I, April 2012
Jumlah Halaman 134

“Anda Harus memiliki target target jangak panjang untuk menjaga agar anda tidak frustasi oleh kegagalan kegagalan jangka pendek.”  (Charles C. Noble)

Novel yang di persembahkan spesial untuk ayahnya Yoseph Iyopode Goo, Yang di tulis oleh Aanak pertamanya Vitalis Gooibo. Novel bersampul hitam merah bergambar api yang bernyala itu, merampung serangkai kisah pertengaran-pertengakaran peradaban di salah satu suku di Papua yakni suku Mee, asal Lembah Kamu kerap disapa (Kamu Valley).

Novel ini menceriterakan mengenai kisah uwibou seorang yang melihat, merasakan dan menyaksikan kehidupan sebelum ada pertengakran pertengkaran dalam hidup bermasyarakat serta perubahan budaya di kalangan masyarakat Mee di lembah kamuu kampung wiiwoge.

Tokoh Uwibou yang digambarkan dalam novel ‘Pintu Menuju Neraka’ oleh penulis ialah sosok yang pendiam,  sosok anak yang pandai membaca tanda tanda alam,  bahkan uwibo dijuluki juga seorang mono oleh masyarakat di kampung wiwoge kala itu.  

Berdasarkan prediksi uwibou bahwasannya kampung wiwoge akan menghadapi tantangan yang luar biasa di tahun-tahun mendatang, itu bermula ketika perang nipon antara sekutu jepang dan masyarakat setemapat yang mengahancurkan nilai-nilai budaya masyarakat Mee di kampung wiwoge ditambah dengan sistem pemerintah indonesia yang aburadul membuat uwibou memprediksi kepunahan akan kampung halamannya serta manusianya. 

Novel berukuran 12x 18 cm, berisi Empat bagian, bagian pertama, mengulas kehidupan Uwiboo di Kapung Wiwoge. Menceriterakan kemalangan massa kecil Uwibou tanpa ibu kandungnya. Ia diasuh oleh bapaknya dan alam pun menjadi sahabat Uwiboo berkomunikasi dan berinteraksi. Tidak hanya Uwibo orang-orang kampung wiiwoge juga benar-benar menikmati hasil alam hasil alam.

Warga Kampung Wiwogge juga disungguhkan dengan larangan turun-temurun di kalangan Suku Mee ‘omaa temoti’ (jangan mencuri) dsb. Karena bisa berkibat fatal di generasi mendatang. Pesan itu selalu diingan dan diceriterakan pada anak cucunya secara turun temurun hingga sekarang ini.

Akhirnya Ayah Uwibo Magapaiamoye  meniggal dunia karena faktor usianya yang semakin senja,  dan sebagai anak yang tunggal Uwibo menikah dengan jumlah istrinya 7 orang Uwibo dari kampung yang bebeda, di kampung itu Uwibo mendirikan pondok bagi ke 7 istrinya. Mereka hidup sesuai dengan norma adat yang berlaku di Kampung Wiwogge pada umunya berpegang pada nilai nilai luhur suku Mee.

Bagian kedua, menceriterkan magai mana masyarakat Kampung Wiwogge bertemu dengan suku lain pada tahun 1905. Ketika orang Jepang masuk ke wilayah mepago dan menghancurkan tantan kehidupan orang Mee yang dikenal dengan perang “Nipon” setelah Itu Indonesia masuk lagi dang menghancurkan seluruh tatanan kehidupan Suku Mee dengan menggati nama-nama kampung di Papua menjadi nama-nama pahlawan indonesia tak hanya itu dari sisi ekonomi, budaya, religi, dihancurkan dengan aturan yang kacau baalau.

Uwibo sebagai orang tertua di kampung itu selalu mengingatkan kepada anak cucu serta kerabatnya tentang kehidupan mendatang. Suatu ketika Uwibo berkata, pada massa sekarang ini ada banyak hal yang mesti kita was-was.  “Sebab kita ita semua tahu bahwa ada suku lain balik gunung sana dan kita tahu bahawa kebiasaan dan bahasa mereka berbeda dengan kita.” Ucap Uwibo dengan tegas.   

Novel ini sangat kaya akan informasi tentang budaya dari etnis Mee pada umumnya khusunya kehidupan bermasyarakat di lembah kamu. Di dalam Novel ini juga menggambarkan berbagai aspek yang melingkupi, aspek pendidikan, eknomi lokal, sosioligis masyarakat, agama, pandangan-pandangan hidup, seni musik seperti uga, tupe, gowai dsb.

“Berdasarkan kenyataan inilah Penulis Novel ini, mencoba memaparkan sebuah kisah masuknya budaya budaya keuar ke kampungnya wiiwoge (kampung tak nyata ditengah warga kampung wiiwoge yang adalah petani, yang memiliki tatanan hidup nilai-nilai budaya serta identitas diri yang unik.

Sebelumnya saya meminta maaf karena nama nama tokoh yang terdapat dalam cerita ini adalah nama nama adat sebagai suku Mee asal Lembah  Kamuu.” 

Intinya bahwa Perubahan pada nama kampung Wiiwogee juga, berubah pula tatanan hidup masyarakat setempat mengahadapi tantangan perdaban yang luar biasa. “Nialai-nilai budaya hilang sekasat mata. Demikian mereka hilang kepercayaan dirinya ketika berhadapan dengan bangsa lainnya yang datang menjajah dengan menggunakan senjata moderen. 

Waktu bergulir sangat cepat. Segala sesuatu hancur berkeping-keping, hanyut terbawa arus perkembangan zaman. Pintu-Pintu menuju neraka terbuka dengan lebarnya. Tampaknya maut senanatiasa menjemput setiap Insan.”

Buku ini layak dibaca semua kalangan, kam cari lalu baca, tra baca kam lewat. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Post Bottom Ad

Responsive Ads Here

Laman