Rencana Penggabungan Pulau Guinea Baru, Di Era 1960 An - WENAS KOBOGAU

WENAS KOBOGAU

Percikan Bunga Api Untuk West Papua

test banner

Breaking

Post Top Ad

Responsive Ads Here

Post Top Ad

Responsive Ads Here

Minggu, 13 Maret 2016

Rencana Penggabungan Pulau Guinea Baru, Di Era 1960 An

Pelajar sekolah Navigasi di Hamadi Hollandia(Jayapura) tampak pelajar dari PNG dan Nederlands Nieuw Guinea saling bekerja sama-Jubi/ist
Jayapura, – From Sorong to Samarai, itulah ungkapan yang keluar dari ucapan masyarakat Papua Barat maupun saudara-saudara serumpun mereka dari Papua New Guinea. Atau pertanyaan selalu dilontarkan warga negara Papua New Guinea, siapa yang membuat tapal batas negara itu?
Sebenarnya impian lama antara Nederlands Nieuw Guinea dan Australia New Guinea pernah muncul di era 1960 an. Waktu itu ada kerja sama pertukaran pemuda dan pelajar antara kedua saudara serumpun New Guinea Island.
Puluhan pemuda New Guinea Australia datang belajar Sekolah Pelayaran Navigasi, di Hamadi Hollandia (sekarang Jayapura) . Sebaliknya pemuda dari Nederlands Nueuw Guinea belajar telekomunikasi di Lae, Kota kedua terbesar di Australia New Guinea. Selanjutnya beberapa pemuda Nederlands New Guinea belajar dan kuliah di  kedokteran di Port Moresby.
Dua tahun sebelum kemerdekaan Papua New Guinea pada 16 September 1975, Kepala Kantor Wilayah Kesehatan Provinsi Irian Barat, Dr Suryadi Gunawan berkunjung ke Papua New Guinea. Dalam laporan perjalanan 1973 ke PNG  dr Suryadi Gunawan menulis saat menghadiri clinical meeting di Port Moresby sempat bertemu dengan dua dokter putra daerah Irian Barat lulusan Papua Medical College yaitu dr Chris Marjen spesialis anestesi dan dr Hein Danowira spesial bedah.
Lulusan dokter-dokter dari Irian Barat lainnya di PNG tulis dr Suryadi Gunawan adalah dr Peter Pangkatana spesialis kesehatan anak,  dr Saweri spesialis penyakit dalam, dr Fiay spesialis osbsteri dan gynekologi, dr Suebu spesialis kesehatan anak.
Para dokter dari Irian Barat ini belajar ke Port Moresby pada 1961 dengan beasiswa dari pemerintah Belanda. Setelah Belanda angkat kaki dari Irian Barat bea siswa terputus dan 1963 diteruskan oleh pemerintah Australia hingga mereka selesai menjadi dokter. Pemerintah Nederlands Nieuw Guinea dan Australia New Guinea juga menjalin kerja sama olahraga, setiap tahun dilangsung pertandingan olahraga antara kedua wilayah New Guinea.
Saat itu banyak warga Papua New Guinea dari Vanimo datang ke Hollandia untuk bekerja dan bersekolah di wilayah Nederlands Nieuw Guinea.Kunjungan rutin dari pemerintah Nederlands Nieuw Guinea dan Australia New Guinea khususnya Sekretaris Departemen Teritorial dari Canberra dan administrasi dari Australia PNG kerja sama membangun rencana Unifikasi New Guinea.
Kerja sama itu meningkat dengan membuka lahan-lahan pertanian khususnya perkebunaan coklat dan kopi. Bantuan dana dari negara-negara ekonomi Eropah kepada Nederlands Nieuw Guinea dan PNG adalah pertama kali mengembangkan perkebunan coklat rakyat di Nimboran 1958. Papua New Guinea juga membangun perkebunan coklat dan kopi  di  wilayah Lae dan Goroka.
Saat Jubi berkunjung ke Lae pada April 2002, ternyata kopi produksi rakyat di Goroka banyak dijual ke Pabrik Nescafe di Lae. Begitupula coklat dari perkebunan rakyat di Papua New Guinea dikirim ke Kota Industri Lae untuk diproduksi. Masyarakat petani kopi di Goroka menyebut green gold untuk produk pertaninan kopi.
Orang-orang dari Papua Barat pertama kali eksodus pertama ke PNG  era 1963 saat Irian Barat dibawah pemerintahan Pemerintah Indonesia. Gelombang eksodus kedua terjadi pada 1969 setelah pelaksanaan Pepera 1969. Termasuk dalam rombongan eksodus 1969 Nick Messet, Moses Werror, Zonggonao dan  Runaweri.
Gelombang eksodus terbesar dari Irian Jaya ke PNG terjadi pada 1984 usai ditemukan tewasnya musisi dan budayawan Papua pendiri grup musik Mambesak Arnold Ap dan Eduard Mofu d Pasir Enam Kota Jayapura.
Sejak itu sekitar ratusan ribu pengungsi dari Irian Jaya melarikan diri ke PNG akibat kekerasan militer. Eksodus sesuai catatan Kompas, 14 Oktober 2000 menyebut sejak 1963, selanjutnya 1970 setelah pelaksanaan Pepera 1969 dan eksodus terbesar 1984. Mereka berangsur-angsur telah dipulangkan ke Irian Jaya sekitar 831 orang. Bahkan pemerintah PNG sendiri telah memberikan warga negara PNG kepada ribuan warga Papua Barat yang eksodus pada 1984.(Dominggus Mampioper)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Post Top Ad

Responsive Ads Here