Revolusi Koran ! - WENAS KOBOGAU

WENAS KOBOGAU

Percikan Bunga Api Untuk West Papua

test banner

Breaking

Post Top Ad

Responsive Ads Here

Post Top Ad

Responsive Ads Here

Sabtu, 26 Maret 2016

Revolusi Koran !

Koran pertama kali yang terbit di Rusia bernama Pravda. Diterbitkan tahun 1912 oleh tokoh gerakan kiri, Lenin. Koran ini diterbitkan menyusul kalahnya kaum Bolshevik atas revolusi Rusia tahun 1905. Sebelumnya, kaum Bolshevik menerbitkan Zvezda, yang berkantor di St Petersburg. Koran itu ditutup setelah Lenin menuliskan pemikirannya tentang pentingnya koran revolusioner, sebagai episentrum dari gerakan sel-sel buruh yang tersebar di banyak kota. 

Pravda selanjutnya menjadi alat pergerakan massa, yang mengungkap pembantaian massa oleh pasukan Tsar di tambang emas Lena. Hari berikutnya, Pravda menggerakkan 400 ribu pekerja untuk turun ke jalan melakukan aksi mogok kerja pada bulan Mei, yang selanjutnya diperingati sebagai MayDay. 

Koran ini menggabungkan sebuah garis politik revolusioner dengan surat dan berita dari buruh tentang pengalaman mereka sendiri. Oplah Pravda naik terus hingga mencapai 40.000 dan koran ini memuat 11.000 surat dan berita dari buruh dalam satu tahun saja. Untuk mendanai koran tersebut, kaum Bolsyevik mendirikan lingkaran buruh dimana-mana untuk mengumpulkan dana. 

Pada tahun 1913 Pravda mendapatkan sumbangan dari 2.181 lingkaran buruh, sedangkan koran-koran Mensyevik hanya mendapatkan sumbangan dari 671 kelompok lokal. Artinya, Lenin adalah Marxis pertama yang berhasil membangun sebuah partai yang hanya terdiri atas orang-orang revolusioner (tanpa sayap kanan oportunis) sekaligus berbasis massa dalam kelas buruh. 

*** Harian Rakjat. Koran propaganda Partai Komunis Indonesia. Pertama kali terbit pada 31 Januari 1951 dengan nama Suara Rakjat, Harian Rakjat memiliki jargon nyaring: ”Untuk rakjat hanja ada satu harian, Harian Rakjat.” Pendiri Harian Rakjat adalah Siauw Giok Tjhan (1914-1981), wartawan majalah Liberty dan Pemuda. Ia anggota Konstituante, pendiri Baperki, organisasi massa warga keturunan Tionghoa yang kemudian dilarang pasca-G30S. 

Giok Tjhan memimpin Harian Rakjat dua tahun pertama, kemudian digantikan Njoto hingga akhir hayat. Di tangan Njoto, yang kemudian diangkat sebagai Ketua Departemen Agitasi dan Propaganda, HR dengan oplah yang diklaim sebesar 60 ribu eksemplar adalah pendukung kebijakan partai. Harian Rakjat tak ubahnya pamflet; tak ada edisi yang muncul tanpa kata ”rakjat” dan dukungan pada Manifesto Politik Soekarno. 

Bahasa yang digunakan, adalah bahasa yang ”hemat, lintjah, dan terus terang sesuai kerangka Marxisme/Leninisme.” Njoto, yang biasa menulis esai dan puisi, berdansa waltz dan foxtrot, serta meniup saksofon, sangat piawai memainkan peran utama di Harian Rakjat. Salah satu tugasnya sebagai pemimpin redaksi adalah menulis editorial koran. Njoto juga sering membantu merumuskan sudut pandang (angle) bagi artikel Harian Rakjat. 

Masa-masa keemasan Njoto sebagai pemimpin agitasi dan propaganda melemah Semenjak Njoto didaulat sebagai Menteri Negara pada masa pemerintahan Soekarno. Konflik ideologis antara Njoto dan Aidit memuncak. Puncaknya tahun 1964. Padahal, saat itu PKI sudah mengklaim punya anggota lebih dari tiga juta. 

Konflik Njoto dan Aidit merembet sampai ke Harian Rakjat. Bulan-bulan terakhir menjelang G30S, Njoto sudah tak aktif lagi memimpin. Sejarah mencatat, Harian Rakjat menerbitkan edisi penghabisan pada Sabtu, 2 Oktober 1965. Yang menarik, ada sejumlah petunjuk di edisi itu akan situasi genting pasca-G30S, salah-satunya adalah puisi ”Wong Tjilik” (yang menurut salah satu redaktur HR, adalah karya Njoto) di pojok Tjabe Rawit, halaman tiga: Makan tak enak, tidur tak nyenyak Nasi dimakan serasa sekam, air diminum serasa duri Siang jadi angan-angan, malam jadi buah mimpi, teringat celaka badan diri Bukan salah bunda mengandung, salah anak buruk pinta Sudahlah nasib akan digantung, jadi si laknat setan kota... 

*** Media, koran atau surat kabar harian masih menjadi bagian sebagai usaha untuk membangun konstruksi demokrasi yang sehat. Yaitu, sebagai pilar keempat dari demokrasi, setelah eksekutif, legislatif dan yudikatif. Media pada hakekatnya adalah ruang publik untuk melakukan kontrol terhadap jalannya kekuasaan dan pelaksanaan amanat rakyat. Juga, media adalah perangkat publik untuk membentuk wacana kesadaran dan partisipasi dalam proses kehidupan bermasyarakat. 

Media juga menjadi dinamisator dalam kehidupan lokal, regional hingga nasional. Dengan posisinya yang ada di ruang publik, maka pada hakekatnya media massa haruslah bersifat independen. Karenanya, membangun atau menerbitkan media, tidak lepas dari usaha yang mengarah pada industri jasa layanan media. 

Hal ini menjadi penting, bukan saja untuk independensi media, tapi juga untuk keberlangsungan hidup media itu sendiri. Penetrasi yang luar biasa terhadap media, telah memunculkan medium atau sarana baru untuk melahirkan berbagai media alternatif. 

Surat kabar harian, sebagai media konvensional, secara kompetitif berebut pasar dengan digunakannya medium baru, seperti radio, televisi dan internet. Banyak analis media memperkirakan, lahirnya perangkat baru bagi media kontemporer, akan menggusur media konvensional, surat kabar harian. 

Bahkan, di negara-negara besar, ada beberapa media konvensional yang sudah tutup. Namun, banyak analis media yang kurang jeli melihat, bahwa sampai hari ini, media konvensional masih menjadi ikon sesungguhnya bagi media mainstream. Artinya, media konvensional masih menjadi rujukan di tengah perkembangan perangkat baru untuk media kontemporer. 

Ini terjadi karena sejarah jurnalistik sendiri lahir dari media yang kemudian disebut media konvensional. Karenanya, mainstream jurnalistik sampai hari ini masih mengacu pada media konvensional itu. Dan ini masih mendominasi negara dunia ketiga, termasuk Indonesia. Meski, secara signifikan ada penurunan omset cetak dari media besar di Indonesia, tapi ruang bagi media konvensional masih besar. 

Banyak teori dan asumsi yang menganggap bahwa rontoknya media konvensional, terjadi karena adanya media baru. Tapi, ada juga yang masih berkeyakinan, bahwa media konvensional akan tetap bertahan, sepanjang media konvensional bisa menemukan jati dirinya. Yaitu, menjadi media alternatif yang bisa menerobos bentuk sajian dari medium alternatif. Sebab, koran atau surat kabar harian sebagai media cetak, tetap tidak bisa digantikan oleh media visual, audio maupun digital. Dalam segala bentuknya. Koran tetap sebagai hiburan yang bersifat personal dan imajinatif.

Selengkapnya : www.kompasiana.com

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Post Top Ad

Responsive Ads Here