Rosa Luxemburg: Sang Pedang Revolusi - WENAS KOBOGAU

Breaking

WENAS KOBOGAU

Percikan Bunga Api Untuk West Papua

test banner

Post Top Ad

Responsive Ads Here

Post Top Ad

Responsive Ads Here

Senin, 07 Maret 2016

Rosa Luxemburg: Sang Pedang Revolusi

Pada 5 Maret lalu, gerakan kiri internasional merayakan hari ulang tahun salah satu kader terbaiknya sepanjang sejarah, Rosa Luxemburg. Banyak sudah tulisan yang memahat nama agung perempuan ini, seorang pemimpin partai revolusioner Jerman (SPD); jurnalis dan penulis tersohor, sekaligus pemikir Marxis terkemuka.  Biografer Karl Marx terkemuka Franz Mehring menulis, tanpa keraguan Rosa adalah seorang pemikir terbaik setelah Marx. Tak hanya di Jerman, namanya abadi pula dalam perjuangan revolusioner di Polandia dan Rusia. Sebarisan karya-karya besarnya menjadi bagian dari penggerak perubahan sejarah. Seumur hidupnya, dengan sepenuh-penuh jiwanya, ia teguh berjuang demi tegaknya sosialisme.
Tapi di atas segalanya, ujar Tony Cliff, Rosa memiliki tempatnya yang khusus dalam sejarah. Ketika reformisme sukses mendegradasikan gerakan sosialis dengan mengajukan tuntutan ‘negara kesejahteraan/welfare state,’ Rosa adalah orang pertama dan paling efektif dalam menyerang virus-virus reformisme yang tengah mengguncang Eropa saat itu. Betul bahwa Lenin, Trotsky, Bukharin, dan lainnya juga melakukan perlawanan terhadap reformisme, tetapi mereka tidak berhadap-hadapan secara muka demi muka dengan reformisme. Rosa lah yang kebagian momentum historis ini. Di Rusia, misalnya, reformisme masih dalam tahapan awal perkembangannya, gerakannya masih lemah, sementara di Eropa Barat dan Tengah reformisme sudah begitu kuat dan berakar dalam, yang pengaruhnya di kalangan buruh sangat luas. Dan argumentasi-argumentasi reformisme ini hanya bisa dihadapi oleh seseorang dengan kualitas yang superior, dan kata Cliff, di situlah Rosa menunjukkan keistimewaannya. Secara metaforik, Cliff menulis, ‘Di negeri-negeri itu, pisau bedah analisis Rosa jauh lebih dahsyat pengaruhnya ketimbang palunya Lenin.’
Tetapi, kehidupan perempuan yang sanggup berdiri tegak menjulang di antara barisan para raksasa pemikir sosial demokratik yang didominasi laki-laki itu harus berakhir tragis. Setahun setelah revolusi Bolshevik yang dengan gemilang meledak di Rusia, rezim fasis Hitler menamatkan riwayatnya. Tengah malam, di bulan Januari 1919, setelah menjalani perburuan panjang, beserta Wilhelm Pieck dan Karl Liebknecht, — kawan-kawannya– ia ditangkap tentara Jerman. Dalam perjalanan ke penjara, mereka disiksa habis-habisan. Batok kepala Luxemburg dihantam dengan popor senjata, remuk. Belum selesai di situ, kepala perempuan yang sarat pikiran-pikiran radikal ini dihujani berpuluh-puluh peluru.
Mayatnya lantas dilempar ke sungai. Leo Jogiches, kawan karib sekaligus kekasihnya,  terus mencari-cari hingga akhirnya ia sendiri tertangkap dan dibunuh tentara Jerman, sebelum berhasil menemukan mayat Luxemburg. Baru pada bulan Mei, mayat Luxemburg ditemukan mengapung, tersangkut di tiang pancang jembatan, di sebuah sungai di pinggiran kota Berlin.
Rosa Luxemburg
Rosa Luxemburg

Remuk, dan sudah membusuk. Toh, orang masih mengenali Rosa Luxemburg, masih mengenali sebelah kakinya yang cacat. Surat-surat indah, artikel, polemik yang ditulis pada kawan-kawannya, pada Leo Jochiches yang sering dipanggilnya ‘Julek,’  adalah jejak-jejak berharga yang tertinggal sampai abad ini. Dia dikebumikan pada Juni di Friedrichsfeld, berdampingan dengan kekasihnya. Juga bersamanya, dimakamkan jasad para revolusioner lainnya.
Keturunan Yahudi Yang Tersisih
Lahir pada 5 Maret 1871 di Zamôć, sebuah kota kecil di tenggara negara Polandia. Kelahirannya tepat beberapa hari sebelum kaum buruh di Paris mendeklarasikan Komune Paris, bentuk pertama pemerintahan sejati rakyat. Dia bungsu dari lima bersaudara dari keluarga kelas menengah keturunan Yahudi, yang mengenal makna tersingkir dan tertindas sejak belia. Penulis biografi Rosa, Paul Frölich menulis bahwa rumah keluarganya merupakan salah satu oase kultural di kota itu.
Pada usia dua tahun keluarga mereka pindah ke ibukota, Warsawa. Di situ pula awal mulanya Luxemburg mengidap penyakit serius. Tulang-tulang tubuhnya tak tumbuh sempurna. Kakinya cacat. Dari tempat tidurnya ia belajar membaca. Sampai akhirnya Luxemburg kecil terlihat menonjol kecerdasannya. Seiring itu pula, jiwa pembebasnya yang terbentuk semenjak belia makin kokoh terbangun. Hasilnya, saat ia tamat sekolah dasar menjadi lulusan terbaik, namun dewan guru menolak memberikan penghargaan tersebut karena dinilai  “terlalu suka menentang pihak yang berwenang”.
Menatap Luxemburg secara fisik, alangkah jauh dari gambaran keperkasaan pahlawan besar. Tubuhnya teramat kurus dan cenderung tidak proporsional, ukuran lengannya terlalu pendek.Tulang panggulnya tak rata, sehingga ia harus berjalan dengan kaki timpang. Toh, ia memiliki pesona tersendiri; binar matanya amat tajam, terpancar energi dan keyakinan luar biasa. Itulah yang mampu menundukkan  orang.
Tumbuh dengan jiwa pembebas, dengan semangat benci terhadap kezaliman, jelas bukan datang dari langit. Keluarganya lah yang mati-matian berjuang sebagai warga Yahudi yang tersisih, yang ikut membentuk keyakinannya. Ayahnya seorang terpelajar, memiliki pabrik kayu, yang memperkenalkannya dengan literatur politik. Ia mulai belajar tentang demokrasi modern. Sedang, sang ibu mewarisinya dengan kebijakan manusia. Seperti yang ditulisnya pada kawannya, Sophie Leibknect, Luxemburg mengatakan, ibundanya yang menganjurkan dirinya untuk membaca Injil sebagai sumber kebijakan manusia.
Luxemburg tertarik dengan politik sejak di sekolah menengah, ia bergabung dalam pergerakan revolusioner bawah tanah, dan menjadi anggota salah satu sel Partai Proletariat, yang bersekutu dengan kelompok Narodnik (populis) di Rusia. Dua tahun sesudahnya ia mulai dicari-cari petugas, terancam ditangkap. Untuk menghindar dari pemerintahan otoriter Alexander III, ia  lari ke Swiss, pada tahun 1889.
Di sana ia  belajar di Universitas Zurich, di bidang ilmu alam, ekonomi dan hukum. Ia ikut pula dalam perjuangan kelas pekerja, aktif dalam kehidupan politik  para imigran dari Polandia dan Rusia. Kota Zurich itu sendiri merupakan kiblat bagi kaum kiri untuk belajar, seperti dua orang Marxis termasyur dari Rusia, Plekhanov dan Akselrod. Rosa sempat belajar Marxisme, ikut perdebatan-perdebatan dan menjadi seorang teoretisi Marxis terkemuka. Di sana ia mematangkan Marxismenya. Ia meyakini dirinya sebagai bagian dari kelas proletar. Dia yakin, hanya sosialisme lah yang dapat memberikan kemerdekaan sejati dan keadilan sosial. Marxisme bukanlah hanya sebuah sistem teoritis untuk mengatasi semua persoalan, lebih daripada itu, dia merupakan metode menguji proses perubahan ekonomi pada masing-masing tahapan dari perkembangan sejarah beserta semua hasil dari kepentingan, gagasan, tujuan dan aktivitas politik masing-masing kelompok dalam masyarakat.
Luxemburg berhasil meraih gelar doktor dalam ilmu politik dengan menulis karya ilmiah tentang perkembangan kapitalisme di Polandia. Sebuah  gelar yang dianggap sebagai di luar kelaziman, lantaran pada waktu itu belum pernah ada perempuan yang sampai tingkat doktor.
1892, adalah titik awalnya secara total berserah diri dalam politik. Luxemburg mendirikan Partai Sosialis Polandia, namun beberapa waktu kemudian dia berselisih dengan para pimpinan Partai tersebut, yang dianggapnya terlalu berkompromi dengan nasionalisme borjuis.
Selanjutnya pada tahun 1893, bersama-sama dengan Leo Jogiches ia  mendirikan Partai Sosial Demokrat, yang bersifat lebih revolusioner. Masih sebagai organisasi bawah tanah, Luxemburg pergi ke Paris dan bekerja sebagai editor koran partai Sprawa Robotnicza. Selain sebagai penulis, ia lebih menyukai posisinya sebagai orator, sedangkan Leo lebih berkonsentrasi pada kerja-kerja organisasi. Dia menjadi seorang tokoh penting dalam Partai Sosial-Demokrat Jerman tanpa meninggalkan peranannya sebagai seorang pemimpin gerakan revolusioner Polandia.
Rosa mendapat kewarganegaraan Jerman tahun 1898 setelah menikah dengan Gustav Lubeck, seorang pimpinan sayap kiri SPD. Ia berpartisipasi pada Internasional Kedua dan pada revolusi 1905 di Rusia bergabung dengan partai Sosial Demokrat.
Seorang Petarung Sejati
Rosa Luxemburg adalah sang petarung sejati. Seorang visioner yang mempunyai pikiran jauh ke depan. Tak pernah gentar berhadapan dengan para pengritiknya, berdebat dengan sesama orang revolusioner, dan tidak jarang berbeda pendapat dengan Lenin, karena keadaan di Rusia amat berlainan dengan kondisi di Jerman waktu itu, sehingga kaum Bolshevik mengembangkan strategi dan taktik yang berbeda pula.
Ia selalu melawan unsur-unsur nasionalis dalam gerakan kiri Polandia. Waktu itu sebagian dari wilayah Polanda dikuasai oleh Rusia. Pada dasarnya, Lenin setuju bahwa semua nasionalisme harus dilawan. Namun, Lenin melihat masalah itu dari sudut pandang seorang warga Rusia, yaitu seorang warga dari bangsa penindas, dan dia berusaha menyadarkan kaum buruh Rusia yang mesti menjamin hak rakyat Polandia untuk merdeka. Hanya dengan menjamin hak ini kaum buruh Rusia bisa ikut membantu dalam mengatasi nasionalisme di Polandia, karena nasionalisme muncul sebagai akibat dari penindasan yang dilakukan oleh administrasi Rusia.
Rosa menganggap sikap Lenin ini sebagai kompromi dengan nasionalisme. Perdebatannya kompleks, karena sebetulnya Luxemburg juga ingin menjamin hak tersebut untuk sejumlah bangsa tertindas lainnya. Pada dasarnya pendekatan Lenin harus dinilai lebih benar karena lebih dialektis. Dia menyimak perjuangan nasional dan perjuangan kelas dari dua sisi: ‘Kami orang Rusia harus menekankan hak rakyat Polandia untuk merdeka, sedangkan kawan-kawan Polandia harus menekankan hak mereka untuk bersatu dengan kami.’
Luxemburg juga mengecam sepak terjang kaum Bolshevik setelah mereka mengambil alih kekuasaan. Kritik ini, dalam sebuah naskah yang ditemukan setelah dia meninggal dunia, terkadang disalahartikan. Rosa dengan antusias mendukung revolusi Oktober yang dipimpin oleh Partai Bolshevik: ‘Pemberontakan Oktober tidak hanya menyelamatkan Revolusi Rusia dalam kenyataan, tetapi juga menyelamatkan nama baik gerakan sosialis internasional … masa depan kita di mana-mana diperjuangkan oleh kaum Bolshevik.’
Kritiknya yang ketiga menyangkut soal demokrasi. Sebelum Oktober, kaum Bolshevik menuntut agar majelis konstituante (yang mewakili rakyat dengan cara parlementaris borjuis) mesti dipanggil. Setelah insureksi Oktober, ketika soviet-soviet (dewan-dewan utusan buruh, tentara dan petani) mengambil alih kekuasaan, pihak Bolshevik tidak lagi mendukung majelis konstituante yang didominasi oleh pihak reformis dan borjuis itu.
Ketika majelis itu akhirnya berkumpul, malah dibubarkan oleh kaum Bolshevik. Menurut Luxemburg tindakan ini tidak demokratik. Tapi yang harus dimengerti di sini adalah perbedaan antara demokrasi borjuis dan demokrasi buruh (sosialis). Dalam prinsip, soviet-soviet adalah lebih unggul karena berdasarkan kaum buruh yang memilih wakil-wakil mereka di tempat kerja.Dalam kenyataan, soviet-soviet merupakan kekuasaan kelas buruh, sedangkan majelis konstituante dikuasai oleh pihak kontrarevolusi. Jika kaum Bolshevik mau mempertahankan kekuasaan kelas buruh, mau tidak mau majelis konstituante harus dibubarkan.
Cukup jelas, bahwa salah satu kesalahan terbesar Rosa adalah ketidakbersediaannya untuk membangun sebuah partai tipe Bolshevik beberapa tahun terlebih dahulu. Namun, kita tidak boleh membandingkan Lenin dan Rosa begitu saja. Lenin mengembangkan sebuah partai tipe baru karena harus menghadapi kondisi baru di Rusia. Sebelum tahun 1914 dia tidak pernah menuntut agar Rosa keluar dari Partai Sosial Demokrat Jerman. Malah Lenin lebih percaya pada para pimpinan partai itu. Baru ketika Perang Dunia meledak, dan para pimpinan sosial demokrat mengkianati kelas buruh dengan mendukung perang tersebut, Lenin akhirnya mengakui: ‘Rosa Luxemburg terbukti benar: sudah jauh-jauh hari dia sadar bahwa Kautsky adalah seorang teoretisi oportunis.’
Pada tahun 1905, revolusi Rusia yang pertama meledak. Di sini, pemogokan massa menjadi motor revolusi, dan fenomena itu memberikan pengertian baru yang mendalam untuk memahami hubungan erat antara perjuangan ekonomi dan perjuangan politik. Para pimpinan sosial-demokrat seperti Bernstein dan juga Karl Kautsky (yang waktu itu masih mengaku sebagai seorang revolusioner) tidak setuju dengan pemogokan massa, karena mereka menganggap aksi-aksi semacam itu kurang politis. Namun Rosa menekankan bahwa di masa revolusi, perjuangan ekonomi berkembang serta meluas menjadi perjuangan politik, dan sebaliknya: ‘Gerakan semacam ini tidak hanya bergerak ke satu arah, dari sebuah perjuangan ekonomi ke politik, tetapi juga dalam arah sebaliknya. Setiap aksi massa politik yang penting, setelah mencapai puncak, menimbulkan sejumlah pemogokan ekonomi massa. Dan prinsip ini bukan hanya relevan untuk pemogokan massa secara terpisah, tetapi juga untuk revolusi secara keseluruhan. Dengan perluasannya, klarifikasi dan intensifikasi perjuangan politik, perjuangan ekonomi bukan hanya tidak surut, bahkan sebaliknya berkembang luas sekaligus menjadi lebih terorganisir dan lebih intensif. Ada pengaruh timbal-balik antara kedua macam perjuangan itu.’
Setiap serangan dan kemenangan baru dalam perjuangan politik akan berdampak secara dahsyat kepada perjuangan ekonomi, karena dengan meluasnya cakrawala kaum buruh serta motivasi mereka untuk memperbaiki kondisi mereka, pengalaman tersebut juga mempertinggi semangat tempur mereka. Setiap selesai gelombang aksi politik, ada endapan subur, dari situ akan muncul ribuan perjuangan ekonomi, dan sebaliknya.
Puncak pemogokan massa adalah ‘pemberontakan terbuka, yang hanya akan terealisir sebagai titik kulminasi dari serangkaian pemberontakan lokal yang mempersiapkan medan (yang hasilnya selama beberapa waktu mungkin adalah kekalahan sementara, sehingga aksi tersebut mungkin tampaknya ‘gegabah’).’ Betapa hebatnya peningkatan kesadaran kelas yang dapat dihasilkan oleh pemogokan-pemogokan massa ini: ‘Yang paling berharga (karena paling abadi) dalam naik turunnya arus gelombang revolusi, adalah perkembangan jiwa kaum proletar. Keuntungan yang didapat oleh lompatan intelektual yang tinggi kaum proletar akan menjamin kemajuan mereka secara terus menerus dalam perjuangan politik dan ekonomi yang akan datang.’
Serangan yang gagal dari sayap kiri dari Partai Sosial Demokrat, ‘Liga Spartakus,’ di bawah kepemimpinan Rosa Luxemburg dan Karl Liebknecht, telah menyeretnya ke penjara –Spartakus adalah seorang budak yang memberontak pada zaman Romawi kuno; Liebknecht adalah satu-satunya anggota parlemen Jerman yang melawan Perang Dunia I semenjak awal–, di tahun 1916 sampai 1918.
Dari balik tembok penjara lah ia justru menemukan kekuatannya. Di sini ia berjuang keras melewati masa-masa depresi, ia tak mengeluh mengatakan berjuta penderitaannya. Selain menulis tentang Revolusi Rusia, satu-satunya hal yang membahagiakan adalah bisa menulis surat untuk Leo-nya, yang berselisih 15 tahun, yang kemudian dijatuhi hukuman mati lantaran mengedarkan seruan mogok bagi para tentara dan buruh pabrik senjata. Sebelum kematiannya, dia telah memutuskan dengan Clara Zetkin dan Mathild Jacob untuk mempublikasikan tulisan-tulisan karya Luxemburg. Hanya pada Leo lah ia nyatakan kepedihan hatinya: ‘Jika saat ini, nyawaku mendahului pergi, aku tak sanggup lagi berkata-kata sebagai ungkapan perpisahan, dan hanya bisa menerawang dengan tatap kosong keputusasaan. Sejatinya, aku jarang sekali berkehendak untuk bicara. Minggu-minggu berlalu tanpa mendengar suaraku sendiri.’
Surat-suratnya terus mengalir dari penjara. Luxemburg, seseorang yang mempunyai kecintaan yang dalam pada kehidupan, dia juga meluangkan waktu dengan merenungkan ‘burung-burung, hewan serta puisi.’
Tentang Perjuangan Perempuan
Kendati secara khusus jarang menulis tentang gerakan perempuan, namun pemahaman Rosa terhadap gerakan perempuan sangat jelas. Baginya, kebebasan perempuan adalah bagian dari pembebasan proletariat dari penindasan kapitalisme. Ia tidak menolak perjuangan kesetaraan antara perempuan dan laki-laki, bahkan ia menunjukkan fakta-fakta bahwa tanpa dukungan perempuan proletariat maka Partai Sosial Demokrat (Social Democratic Party) mungkin tak akan memperoleh kemenangan besar pada pemilu 12 Januari 1912; perempuan proletariat adalah barisan paling militan dalam aksi-aksi massa yang digelar oleh gerakan sosial demokrat; dan lebih dari 100 ribu perempuan proletariat menjadi pelanggan dari koran Die Gleichhet, koran perempuan Sosial Demokrat yang diedit oleh Clara Zetkin.
Bagi Rosa, tidak adanya hak pilih bagi perempuan proletariat, membuat kelas-kelas berkuasa semakin mudah mengeksploitasi proletariat. Karena itu, ‘hak pilih perempuan harus merupakan tujuan’ dari perjuangan partai.‘Seorang perempuan, harus berani untuk terlibat dalam politik, sebuah wilayah yang hampir seluruhnya dikuasai oleh laki-laki,’ demikian ungkapnya. Dalam sebuah pidato pada Rally Perempuan Sosial Demokratik Kedua, 12 Mei 1912, Luxemburg menyatakan bahwa hak memilih kaum perempuan adalah sasaran yang tepat. Dia berpendapat bahwa ‘gerakan massa untuk memperolehnya bukanlah (sekedar) tugas bagi perempuan dan laki-laki dalam masyarakat proletariat. Lemahya hak-hak yang diberikan oleh pemerintah Jerman adalah hanya salah satu rantai belenggu yang menghalang-halangi kehidupan masyarakat. Lemahnya hak-hak pada kaum perempuan menjadi alat yang paling penting dari klas kapitalis yang berkuasa.’
Tetapi, di sini ia memberikan penekanan bahwa ‘gerakan massa yang memperjuangkan hak pilih perempuan tersebut bukanlah merupakan isu perempuan itu sendiri, tapi harus merupakan kesadaran bersama dari kelas proletariat perempuan maupun laki-laki.’  Dengan sendirinya ia menentang gerakan perempuan yang bersifat eksklusif, yang sekadar menuntut reformasi-reformasi politik yang terbatas, atau memperjuangkan isu-isu tertentu yang terpisah satu sama lainnya. Misalnya, ia menolak tuntutan kaum perempuan yang hanya terbatas pada tuntutan kesetaraan antara laki-laki dan perempuan, karena menurutnya, itu  adalah tuntutannya perempuan borjuis, bukan tuntutan perempuan proletariat. Rosa mengatakan, kaum perempuan borjuis jika telah mendapatkan hak-hak pilihnya setara dengan laki-laki, jika ia telah sanggup melangkahi ‘male prerogatives,’ maka mereka seringkali menjadi lebih konservatif dan reaksioner ketimbang laki-laki. Bagi Rosa, ini bukan persoalan psikologis, tapi karena posisi kelasnya sebagai co-consumer, karena hanya sedikit sekali dari perempuan borjuis ini mengambil bagian dalam proses produksi sosial. Dalam artikelnya berjudul Women’s Suffrage and Class Struggle,Rosa menuding perempuan borjuis ini sebagai ‘parasit dari parasitnya sebuah bodi sosial dan sebagai co-consumer mereka lebih fanatik dan kejam dalam mempertahankan “haknya” agar bisa hidup sebagai parasit dibandingkan dengan agen langsung dari kelas berkuasa dan penindas.’
Dari  perspektif ini, tidak heran jika Rosa memberi tempat mulia bagi perempuan proletariat, karena ia merupakan bagian tak terpisahkan dari proses produksi sosial kapitalisme. Dalam proses produksi itu, perempuan proletariat secara ekonomi keberadaannya adalah  independen ketimbang perempuan borjuis, karena ia melakukan kerja-kerja produktif sebagaimana laki-laki proletariat. Tanpa adanya kerja produktif, maka kapitalis tidak bisa meraup keuntungan dan pada akhirnya jatuh bangkrut. Seperti kata Rosa, ‘sejauh kapitalisme dan sistem upah eksis, maka hanya kerja produktiflah yang memproduksi nilai lebih, yang mana hal itu kemudian menciptakan keuntungan bagi kapitalis.’
Dan karena secara ekonomi perempuan proletariat lebih independen, jelas ia lebih peduli pada pentingnya kebebasan politik. Lagi pula, perkembangan pesat ala-alat produksi dan hukum-hukum kerja kapitalis, tuntutan akan hak pilih perempuan makin tak terelakkan. Tapi, di sinilah poin penting Rosa dalam memberikan panduan bagi perjuangan politik perempaun proletariat, dimana dalam perjuangan politiknya tuntutan utama yang harus dimajukan bukanlah persoalan ketidakadilan (injustice). Bahkan Rosa dengan tegas mengatakan bahwa ketidakadilan bukanlah tuntutan kita. ‘Inilah perbedaan mendasar kita dengan kalangan sosialisme utopis, serta kaum sentimentalis awal. Kita tidak tergantung pada keadilan dari kelas berkuasa, tetapi semata-mata pada kekuatan revolusioner dari massa pekerja dan tentu saja pada perkembangan sosial yang kekuatannya terus dipersiapkan secara konkret. Jadi ketidakadilan itu sendiri bukanlah alasan buat kita untuk menjatuhkan lembaga-lembaga yang reaksioner.’ Dan karena itu, perjuangan politik perempuan, menurut Rosa, hanya bagian perjuangan umum proletariat untuk pembebasan dirinya dari eksploitasi  kapital.
Dan sebagai seorang sosialis revolusioner, Rosa selalu setia pada perjuangan yang berbasis massa. Ia menolak perjuangan perempuan yang elitis, atau perjuangan aktivis perempuan yang disuarakan secara radikal dari kampus-kampus. Baginya, perempuan proletariat harus melampuai sekat-sekat bangunan pabrik, mereka harus mau bermuhibah ke kantong-kantong perempuan miskin perkotaan, perempuan miskin pedesaan, dan perempuan miskin dari ras dan etnis yang tertindas.  Tanpa gerakan massa, maka tidak akan ada gerakan revolusioner.***
Berto Tukanmahasiswa STF Driyarkara, anggota redaksi Lembar Kebudayaan IndoPROGRESS (LKIP)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Post Top Ad

Responsive Ads Here