Hot!

Rumah Sakit Yang Sakit

rumahsakit
Oleh : DENNY GERDIANA a.k.a ACHONK
Rumah sakit… yang saya tahu adalah pelabuhan terakhir tempat dimana manusia mengharapkan kepulihan raganya agar kembali membaik.
Rumah sakit dalam bayangan saya adalah lembaga suci yang diberi amanah oleh Tuhan dan juga kemanusiaan; menolong manusia-manusia sakit yang tengah mengupayakan kesembuhannya kembali. Dari petani hingga pejabat berdasi, dari hirarki tertingi sampai yang terendah, semuanya berbaris menggunakan jasa rumah sakit.
Tapi sial bagi kami, mahluk malang yang tinggal berdempetan satu sama lain, ada satu kisah menarik tentang bagaimana saya dan keluarga bermalam dirumah sakit.
Birokrasi ditempat itu seringkali mencemaskan. Saat peristiwa genting, dimana banyak nyawa jadi taruhan, hal semacam itu tampaknya hanyalah situasi biasa yang direspon tentu saja sewajarnya. Kadang saya mengangap bahwa nyawa tak lebih dari sejenis guyonan tak mutu yang selalu tayang di tipi.
Selain sangat komersil, kepentingan rumah sakit justru berbanding terbalik dengan bayangan dalam imaji saya selama ini. Tidak semua Rumah Sakit memang, bisa jadi, mudah-mudahan, semoga saja hanya kesialan saya yang tak sengaja dan dipaksa harus menggunakan jasa rumah sakit terdekat dimana saya dan keluarga tinggal.
Ayah saya sudah sejak lama mengidap penyakit sesak nafas, asma. Sebutlah suatu hari, saat asma-nya kambuh, rupanya rujukan untuk perawatan ke rumah sakit sudah tidak lagi bisa terhindarkan. Tidak seperti biasanya, cukup menebus obat-obatan yang pernah seorang dokter dahulu berikan dan menebusnya di apotek terdekat, penyakit asma ayah saya cukup bisa diredakan.
Namun kali ini rupanya jalan perawatan sudah tak bisa lagi dihindari. Ditengah perasaan cemas, takut, khawatir, galau dlsb, saya pun langsung membawa Ayah ke RS. Kebetulan rumah kami memang tak jauh dari sana.
Dan apa yang selanjutnya terjadi? Benar saja, sesaat sampai di UGD, bukannya mendapatkan rasa tenang dan perlakuan semestinya, saya justru mendapatkan perlakuan yang tidak menyenangkan, kalau tak bisa saya sebut ‘tidak manusiawi’.
Ketika saya dan keluarga juga beberapa kawan dan tetangga yang mengantar berharap respon sigap dari pihak RS untuk segera menangani kondisi Ayah, yang terjadi adalah sebaliknya. Bukannya mendapatkan pertanyaan seputar kondisi Ayah untuk membantu diagnosa awal yang akan dilakukan perawat ataupun dokter, pertanyaan yang datang justru adalah mengenai kemampuan keuangan kami soal biaya perawatan.
‘Berapa uang yang kami punya?’ persis pertanyaan itulah yang seketika membuat perasaan semakin tak menentu.
Saya dan beberapa pengantar memang dipersilahkan untuk masuk. Namun Ayah tetap saja tak mendapatkan respon semestinya. Ayah masih tergeletak tanpa pertolongan pertama yang seharusnya dilakukan. Ayah tampak kesakitan di sebuah blangkar di ruangan UGD yang penuh sesak. Sesak oleh orang-orang macam kami. Yang menurut keterangan pihak RS, tak bisa masuk ruangan kamar gegara ruangan sudah penuh terisi.
Rumah sakit itu, tempat dimana seharusnya kami bisa merasa sedikit tenang dan berharap tangan-tangan ahli perawat dan dokter sanggup memberikan keajaiban guna kesembuhan Ayah, memang sungguh tak lagi bisa dipercaya. Tersenyum, tertawa dan ramah pada kalangan tertentu, tapi tidak kepada kami.
Sejujurnya saya tidak ingin mengeluh. Karena apalah arti keluhan, apalagi keluhan yang tersampaikan pun tidak akan pernah didengar. Membenci? Ah apalah juga bawa-bawa perasaan itu. Memaki, sumpah serapah, saya pikir tidak akan banyak membantu.
Saya hanya berkesimpulan, saya dan keluarga, juga banyak orang lainnya yang senasib dengan kami, bukanlah yang ‘sakit’ sesungguhnya. Yang membutuhkan perawatan dari tangan-tangan ahli di sebuah Rumah Sakit. Tetapi Rumah Sakit itu sendirilah yang ‘Sakit’.
Apakah saya korban malpraktik lembaga rumah sakit? Ah entahlah, tapi yang pasti Sakit itu mahal, rupanya.
*(pengalaman nyata mendapatkan pelayanan rumah sakit yang sungguh diluar batas-batas kemanusiaan. Saya tak bisa membuka nama dan kota tempat rumah sakitnya berada, takut ujaran kebencian alias hate speech, nanti saya malah dipenjara, lalu ayah saya siapa yang jaga)

0 komentar:

Posting Komentar

Diberdayakan oleh Blogger.