Televisi: sarana pendidikan atau pembodohan ? - WENAS KOBOGAU

WENAS KOBOGAU

Percikan Bunga Api Untuk West Papua

test banner

Breaking

Post Top Ad

Responsive Ads Here

Post Top Ad

Responsive Ads Here

Sabtu, 12 Maret 2016

Televisi: sarana pendidikan atau pembodohan ?

Selama ini jarang ada kursi belajar cepat rusak, yang cepat rusak kebanyakan kursi dan sofa di depan televisi (Prof. Suyanto, Ph.D)
Siapa yang tidak pernah melihat tayangan televisi di zaman modern ini? Rasa-rasanya semua orang lintas usia, baik dari kanak-kanak sampai kawak-kawak pernah menonton dan bahkan kecanduan televisi. Tidak dapat dipungkiri lagi televisi pada zaman ini adalah semacam candu yang berada pada setiap rumah-rumah dari penjuru kota sampai ke pelosok desa, semua tidak luput dari keberadaan televisi. Televisi menjadi sarana pencarian masyarakat akan informasi dan sekedar untuk refreshing dari penat pikiran setelah berkutat dengan aktifitas selama seharian.
Transfer informasi baik secara langsung maupun tidak langsung, TV pasti akan mempengaruhi masyarakat dari segi pola pikir maupun tingkah lakunya. Tayangan TV menyuguhkan life style (gaya hidup) yang terlihat dalam sinetron-sinetron, iklan-iklan, kegilaan akan music, berita-berita baik politik maupun kriminal sampai propaganda pemikiran. Yang terjadi adalah masyarakat seakan dibuat terhanyut dan duduk berlama-lama menyaksikan kenikmatan-kenikmatan duniawi yang dikemas sedemikan rupa oleh kotak yang bernama televisi. Stasiun TV baik swasta maupun negeri berlomba-lomba untuk membuat semenarik mungkin tayangan tersebut agar masyarakat tidak beranjak dari depan layar TV.
Membicarakan televisi memang tidak ada habisnya. Ditinjau dari segi negatifnya, tayangan TV telah menampakkan suatu propaganda yang merusak simbol akhlak dan moral yang ditampakkan dalam acara-acaranya. Yang pertama, Televisi menjadi pembawa maindset (pola pikir) masyarakat. Dengan melihat berbagai serial TV, seperti sinetron, gosip tentang selebriti, film-film barat yang sarat dengan kekerasan, dan berbagai tayangan lain yang sedikit (kurang) mendidik, kita yang dibuat betah berjam-jam untuk menyaksikan serial tersebut dan juga mengikuti apa yang telah kita saksikan. Seperti mode fashion (pakaian) yang terkesan kurang bahan (seksi-red) dan gaya hidup lainnya yang banyak menampakkan sifat hedonistik telah diikuti oleh berbagai kalangan khusunya anak baru gede (ABG) dan remaja kebanyakan. Selain itu, bisnis periklanan yang digalakkan oleh investor asing pun tidak luput menjamah televisi. Kapitalisme lewat tayangan periklanan seakan menjadi mata pisau yang secara sadar atau tidak siap untuk menjadikan kita manusia baru yang jauh dari kearifan local. Sehingga dalam hal ini masyarakat pada umumnya dibuat menjadi konsumtif dengan iklan yang memberikan keindahan, kenikmatan dan instant.
Yang kedua, dengan melihat TV kita diajak untuk (sedikit) lupa pada kenyataan dan terjerumus dalam lingkaran kemalasan. Hal ini ditunjukkan dengan tayangan-tayangan yang menarik sehingga kita kadang lupa terhadap hal-hal yang lebih penting untuk dikerjakan. Seperti halnya, tayangan TV mengalahkan suara adzan. Dimana seharusnya kita bergegas melaksanakan sholat terpaksa kalah dengan tayangan TV. Contoh yang lain adalah tertundanya bahkan terkalahkannya waktu untuk belajar bagi para pelajar gara-gara serial TV yang lebih menarik daripada buku pelajaran. Terbengkelainya berbagai pekerjaan rumah bagi para ibu rumah tangga, dan masih banyak contoh yang lainnya. Maka kemalasan yang terjadi di berbagai penjuru rumah tangga salah satunya tidak lain dampak dari orang-orang pecandu televisi tersebut.
Membicarakan keburukan pasti juga ada sisi baiknya pula. Yang pertama, TV menjadi sarana transfer ilmu atau informasi selain didapatkan dari buku-buku, surat kabar dan sebagainya. Selain tayangan yang berbau negative, tayangan TV yang sarat edukatif juga ada. Beberapa stasiun TV ada yang menayangkan acaranya dengan berbagai sentuhan religi, cerita hikmah, dan serial yang bersifat edukatif lainnya. Meskipun secara substansinya kurang namun setidaknya menjadi power of balance dari berbagai tayangan yang bersifat entertaint kebanyakan. Masyarakat yang cerdas tentu dapat mengambil hikmah positif dari berbagai tanyangan yang disuguhkan stasiun televisi dan menyaring dampak-dampak negative yang ditimbulkan. Dengan TV kita juga mengetahui secara instan pengetahuan-pengetahuan tentang berbagai hal yang tidak kita ketahui dan belum kita baca dalam buku. Seperti berita mancanegara, acara flora-fauna, pengetahuan umum, dan serial khasanah pelosok nusantara yang dikemas secara menarik dan informatif.
Dampak positif yang kedua, adalah TV menjadi sarana publikasi dari pemerintah. Kebijakan-kebijakan resmi dari pemerintah untuk masyarakat disiarkan juga melalui TV. Melalui berita-berita resmi tersebut masyarakat dengan mudah mengakses informasi dengan melihat TV. Sehingga kebijakan pemerintah yang top down tersebut dapat dengan mudah diakses oleh berbagai kalangan masyarakat sampai akar rumput. Televisi juga menjadi sarana pendidikan politik bagi masyarakat, dengan melihat berbagai kebijakan pemerintah, dan analisia yang diberikan oleh stasiun TV, masyarakat diajak untuk lebih berpikir secara kritis dan rasional. Walaupun kadang masyarakat dibuat bingung dengan kebijakan public, apakah itu mensejahterakan atau menyengsarakan. Tapi setidaknya TV yang bergerak bersama media massa lainnya seperti Koran, jurnal, dapat menjadi semacam pengamat dan penyeimbang kebijakan public yang dikeluarkan oleh pemerintah.
Terlepas dari keburukan maupun manfaatnya, Televisi seharusnya menjadi alat untuk sarana pendidikan dan perbaikan masyarakat dalam segala bidang. Sebaliknya masyarakat harus lebih selektif dalam memilih acara TV  yang bermanfaat dan mampu memanfaatkan waktu dengan sebaik-baiknya. Para orang tua juga harus lebih tegas dalam mendidik dan membimbing anak-anaknya karena pengaruh-pengaruh negative selain dalam pergaulan juga dapat ditimbulkan dari TV itu sendiri. Sehingga makna televisi menjadi alat pendidikan atau pembodohan menjadi tidak semu, artinya kita yang bisa menilai hal itu semua. Rosullulah pernah bersabda “Barang siapa yang hari ini lebih baik dari hari kemarin dia adalah orang-orang beruntung, barang siapa yang hari ini sama dengan kemarin dia adalah orang yang rugi, dan barang siapa yang hari ini lebih buruk dari hari kemarin dia adalah orang yang celaka”. Sebenarnya masih banyak hal-hal yang positif yang dapat kita lakukan untuk menjadi bermanfaat. Antara lain dengan membuka dan membaca buku, mengamalkan ilmunya untuk perbaikan diri sendiri dan orang lain. Akan tetapi pilihannya adalah tergantung pada diri kita sendiri, mau jadi orang yang beruntung atau rugi. Silahkan pilih sendiri! Wallahu a’lam bish-shawab

Munggur, 30 April 2012.
Hasbi Marwahid

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Post Top Ad

Responsive Ads Here