Hot!

Venezuela Siap Hadapi Tekanan Amerika Serikat

Amerika Serikat (AS) masih terus mencari jalan untuk meyingkirkan pemerintahan Nicolas Maduro di Venezuela. Berbagai cara pun ditempuh untuk membuka jalan itu.

Hari Kamis (3/3/2016) lalu, Presiden AS Barack Obama memperbaharui perintah eksekutif yang menetapkan Venezuela sebagai ancaman bagi keamanan nasional AS. Kebijakan ini akan berlangsung untuk setahun kedepan.
Tahun lalu, di bulan Maret juga, Obama mengeluarkan perintah eksekutif yang sama. Perintah eksekutif ini memungkinkan AS menerapkan sanksi terhadap Venezuela.
Menghadapi tekanan itu, Venezuela tidak tinggal diam. Hari Selasa (8/3/2016), Presiden Venezuela Nicolas Maduro menyerukan kepada rakyat untuk turun ke jalan pada tanggal 12 Maret mendatang untuk memprotes perintah eksekutif Obama tersebut.
“Saya sekali lagi menolak deklarasi kriminal terhadap perdamaian dan tanah air kami. Aku ingin memanggil kalian semua untuk mengambil inisiatif, untuk demonstrasi nasional menentang ancaman baru Obama terhadap Venezuela, Sabtu depan. Kita akan meresponnya di jalanan,” kata Maduro, Selasa (8/3), seperti dikutip teleSUR.
Rongrongan dari dalam
Pada hari yang sama, koalisi oposisi yang tergabung dalam Koalisi Kesatuan Demokratis (MUD) mengumumkan rencana untuk melengserkan Presiden Maduro tahun ini.
Untuk tujuan itu, oposisi telah menyiapkan tiga langkah, yakni demonstrasi jalanan, menyiapkan referendum, dan amandemen terhadap konstitusi untuk mempercepat pemilu.
“Kami seluruh rakyat Venezuela akan memerintahkan Maduro untuk mundur dari jabatan sebagai Presiden negeri,” kata sekretaris koalisi MUD, Jesus Torrealba.
Menurut Torrealba, demonstrasi oposisi juga akan digelar pada hari Sabtu mendatang. Di Caracas, Ibukota Venezuela, massa oposisi akan berkumpul di  Francisco de Miranda Avenue.
Presiden Nicolas Maduro menyesalkan tindakan oposisi ini. Apalagi, sejumlah politisi oposisi menyatakan dukungan terhadap perintah eksekutif Obama.
“Betapa menyedihkan bahwa DPR sayap kanan Venezuela mendukung perintah eksekutif itu,” ujar Maduro.
Pimpinan partai sosialis PSUV, Disdado Cabello, menuding kelompok oposisi menyiapkan provokasi aksi kekerasan dan mendorong sebuah kudeta atas sokongan imperialisme Amerika Serikat.
Memang, sejak parlemen Venezuela dikuasai oposisi sayap kanan, tekanan terhadap pemerintahan revolusioner Bolivarian semakin menguat. Belum lagi tekanan ekonomi akibat memburuknya harga minyak dunia dan maraknya sabotase ekonomi.
Raymond Samuel


Sumber Artikel: www.berdikarionline.com

0 komentar:

Posting Komentar

Diberdayakan oleh Blogger.