Lara Sang Bunda - WENAS KOBOGAU

Breaking

WENAS KOBOGAU

Percikan Bunga Api Untuk West Papua

test banner

Post Top Ad

Responsive Ads Here

Post Top Ad

Responsive Ads Here

Senin, 11 April 2016

Lara Sang Bunda

Alm.Mako Tabuni & Hubertus Mabel
LARA SANG BUNDA 

Ketika  Aku berdiri diketinggian  nurani ku ….
Tampak olehku seorang laki-laki tua berkeriput tengah duduk diam .. sudut bibirnya gemetar menahan tangis sementara sang bunda yang menumpuk kayu pada tungku api nya  pun tak henti mengusap kedua matanya…..

anak laki-laki mereka yang baru tumbuh dewasa telah mati…
jejak alas kaki yang tertinggal dihutan itu memberitahukan siapa sang pencabut nyawa anak laki-laki mereka…..

ada luka menganga didadanya..menembus lorong nyawa anak manusia itu
tak mungkin segumpal kepalan tangan jantung anaknya berberdetak lagi
anak  laki-lakimu tak mungkin   kau lihat.. sudah membusuk …

kami meninggalkannya ditepi kali  yang deras itu..
pilu..  ketika berita duka itu diterima…

sang pembawa beritapun tergesa-gesa menembus malam dan hutan
pergi karena tak mau  bertemu sang pencabut nyawa tak berperasaan …..
seuntai kalung manik-manik merah, biru, putih ditinggalkannya  diujung pintu..
itu kalung anak laki-laki mereka …….


Dan di ketinggian nurani ku juga …
Aku lihat .. anak  pemberani yang malang ini menangisi masa mudanya
Biarpun aku hidup aku terpasung derita karena aku dilarang berbeda
Aku pemillik nama ayahku yang dikejar-kejar  dulu hingga kini aku pun mengikuti jejak ayahku

Aku tidak bebas.. tapi mati seperti ini pun bukan pilihan ku


Maafkan aku bunda karena kematian ku yang seperti ini
telah merobek rahim mu yang suci ciptaan Tuhan ...

Maafkan aku karena tubuhku yang kau besarkan dalam cinta
Remuk dan membusuk ditangan seorang laki-laki yang juga memiliki seorang bunda seperti mu

Bunda aku kedinginan dan sangat kesakitan  pada waktu roh jiwaku meninggalkan aku

Aku rebah keatas tanah , setelah Aku berdiri gagah dengan kedua kakiku…
Kedua Kaki ku yg  dulu kau hangatkan dengan telapak tangan mu yang kasar karena berkebun

Telapak  tangan mu yang mulai keriput karena usia mu
Aku ingat dalam cinta mu kau bertutur ..

ketika dingin menyergap karena embun yang turun  ke atas rumah kami
Kau memelukku  dalam kasih yang tulus dan menghangatkan tubuh kecil ku
Sampai Aku terlelap dalam  damai  yang meneduhkan jiwa…

Dan masih dari ketinggian nurani ku
Aku melihat sang anak mengusap  ujung sarung bundanya 
juga menyentuh dengan lembut pundak sang ayah yang keriput kecoklatan itu
sambil berjalan munuju pintu rumahnya … ia pun menoleh sejenak
dan…. Berlalu dalam malam yang pekat diantara kabut tipis yang mulai turun     
sang anak pun berlalu dalam sunyi yang abadi sementara aku
aku akan terus berdiri di ketinggian  nurani ku untuk melihat dan bertutur kepada mereka yang masih bernurani  

(kawan-kawanku Roh dan jiwa kalian tetap bersama kami dalam Perjuangan bangsa West Papua)


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Post Top Ad

Responsive Ads Here