Melawan Lupa : In Memorium Arnold Clemens Ap dan Eduard Mofu, Pendiri MAMBESAK - WENAS KOBOGAU

Breaking

WENAS KOBOGAU

Percikan Bunga Api Untuk West Papua

test banner

Post Top Ad

Responsive Ads Here

Post Top Ad

Responsive Ads Here

Sabtu, 23 April 2016

Melawan Lupa : In Memorium Arnold Clemens Ap dan Eduard Mofu, Pendiri MAMBESAK

Arnold Clemens Ap, Edu Mofu dkk, melalui sebuah "operasi pembebasan" dari Tahanan Polda Papua Jayapura, pada Minggu Paskah, 22 April 1984. Missi pembebasan itu, ternyata merupakan sebuah rekayasa besar yang melibatkan mereka yang dikenal baik oleh Arnold. Rencana melarikan diri ke PNG, ternyata berujung pada kematian diujung Peluru Aparat, di Pasir 2, Base G. Seorang Aparat, yang diperintahkan untuk membidik tubuh Arnold Ap, berhasil menghabisi nyawa Arnold dengan tembusan peluru tepat di lambung Sang Pendiri Mambesak.

Mayat Eduard Mofu, ditemukan pada hari Senin, 23 April, hari paskah ke dua, di peraiaran Teluk Humbolt. Setelah mayat Edu disemayamkan di Rumah Mayat Dok 2, dikuburkan di Pekuburan Umum Tanah Hitam.

Mayat Arnold Ap dievakuasi oleh aparat menuju RS Arioko, Kloof Kamp. kemudian disemayamkan dirumah almarhum, tanpa kehandiran Istri dan anak anak. Corry bersama anak anak sudah berada di PNG bersamaan dengan 10.000 pengungsi lainnya, diantaranya Demianus Wariap Kurni dan Constant Ruhukail. Pada hari Kamis, 26 April, Arnold Clemens Ap, diantar oleh ribuan massa orang Papua, berjalan kaki dari kompleks Perumahan Museum Antropologi UNCEN, menuju Pemakama Kristen Tanah Hitam dan dibaringkan disamping Eduard Mofu.

Genap setelah 30 tahun, sang Penembak Jitu, yang diperintahkan menghabisi Arnold itu membuka mulutnya dan memberikan kesaksian bahwa dialah yang menambak mati Arnold Ap. Kesaksian ini, ternyata sangat dramatis, karena sejak perisitiwa pembunuhan Arnold, sang prajurit itu, merasa bersalah dan mengalami kesakitan yang tidak bisa ditemukan oleh dokter. Kematian datang menjemputnya,diatas tempat tidur, ia tidak berdaya, hanya menangis, disaksikan istri dan keluarganya.

32 Tahun sudah berlalu, istri Arnold, Napi Corry dan Oridek serta Mambri dan adik yang lahir di Black Wara PNG kini menetap di Den Haag Belanda. Kami semua kehilangan Arnold. Hidupnya tidak sia sia.

Mereka yang mengikuti Status hari ini, kiranya merenungkan pesan dibalik kisah ini. Bahwa pembunuhan atas diri Arnold Ap serta Eduard Mofu, adalah sebuah Rekayasa yang rapih di hari Paskah 1984.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Post Top Ad

Responsive Ads Here