Mencari Bumiku Yang Hilang ' Pangung Seni Dan Budaya Pada 26 April 2016 - WENAS KOBOGAU

WENAS KOBOGAU

Percikan Bunga Api Untuk West Papua

test banner

Breaking

Post Top Ad

Responsive Ads Here

Post Top Ad

Responsive Ads Here

Kamis, 21 April 2016

Mencari Bumiku Yang Hilang ' Pangung Seni Dan Budaya Pada 26 April 2016

"MENCARI BUMIKU YANG HILANG"
Tidak dapat dipungkiri bahwa tatanan dunia hari ini, yang dibangun oleh sistem Kapitalisme, telah menciptakan manusia untuk saling berkompetisi, peras-memeras, dan saling menjajah. Sejak bangsa-bangsa Barat membutuhkan bahan mentah dan budak untuk aktivitas produksi para kapitalis Eropa, kolonialisme mendengung sampai ke kawasan Asia dan Pacifik. Kenyataan kolonialisme itu pun pada waktunya menjamah Bumi polos Papua.
Bumi Papua telah hilang! ambisi kaum kapitalis untuk mendulang nilai lebih memotori penghisapan, penindasan, pembungkaman, dan pencurian tanah dan hutan dalam skala besar, sebut saja Freeport, BP, LNG Tangguh, MIFEE, dan beberapa perusahaan transnasional membuat Rakyat di sekitarannya terancam punah akibat hutan dan tanah sebagai (alat produksi) penghasil makanan sehari-hari yaang dirampas oleh para penghisap tersebut, disamping negara Republik Indonesia yang terus tunduk dibawah kaki segelintir pemilik modal.
Tentu tatanan yang menghisap ini tidak pernah puas dan terus-menerus ingin merampok seluruh SDA maupun SDM yang baginya dapat menguntungkan. Dalam perjalanannya kapitalisme pun terus mewanti-wanti tumbuhnya jiwa revolusioner rakyat tertindas. Militer tentu merupakan benteng paling akhir dalam menjamin kenyamanan aktivitasnya, namun Kapitalisme juga menempatkan filsafat, moralitas, nilai-nilai, serta budaya yang disebarkan ke setiap sudut ruangan untuk berdiiri di posisi depan menghalau setiap kontradiksinya dengan kaum yang dihisapnya.
Dilatarbelakangi oleh situasi pembagian lahan oleh para kapitalis di tingkatan Internasional setelah Perang Dunia II, babak baru yang disebut dengan Perang Dingin dimulai sekitar tahun 1949, untuk mengokohkan kuda-kuda kapitalisme. Rejim militerisme pada masa ini menjadi gacok utama para kapitalis untuk mengamankan asetnya, sebut saja di Amerika Latin kita jumpai sejumlah regime yang dipimpin oleh militer (otoriter), di Asia Tenggara dan Selatan juga dijumpai regime otoriter yang kebanyakan dipimpin oleh militer.
Di Indonesia, Jend. Soeharto adalah anak manja para pemilik modal. Di masa otoriter itu, muncul sosok Mambesak yang dimotori oleh Arnol Ap, Eddy Mofu, Sam Kapissa, dkk yang mampu menghadirkan nuansa perlawanan terhadap penghisapan, penindasan, pemerasan, perampokan, dan pemusnahan melalui kebudayaan (tari dan musik) yang mampu menyatukan hasrat akan pembebasan di antara lebih dari 250 lebih suku.
Akibat kekhawatiran kaum kapitalis, melalui satpamnya yakni Pemerintah Indonesia yang memegang komando sistem kolonialisme, melakukan operasi khusus yang dibebankan kepada anjing penjaga modal, yakni pasukan khusus militer "Kompassadha" yang kini disebut Kopasus, untuk menumpas gerakan MAMBESAK. Tetap tanggal 26 April 1984, Arnol Ap ditembak oleh kopasus di Pantai Pasir Enam, sebelah timur kota Jayapura.
Maka pada moment ini, kami mengundang kawan-kawan sekalian untuk "Mari Kitong Sama-Sama Mencari Bumi Kita yang Hilang" seni dan budaya. Kami membuka kesempatan kepada siapa pun yang berminat untuk mengisi acara semisal, melalui puisi, monolog, music, tarian, maupun teatrikal dengan dengan catatan, bernuansa Perlawanan sekaligus mencerminkan situasi Papua.
Ok sip, tanggal 26 April 2016, Jam Enam Sore waktu Jogja, jang lupa hadir di Asrama Papua Yogyakarta (Kamasan I) eee, trada Ko badan loyo, trada Ko tra seru, makanya Ko harus HADIR, kalau Kitong sama-sama, itu lebih baik.
Sebarkan ke Ko pu Teman-teman, kakak, Adik, Pacar, Ortu, dan Mereka semua yang ko kenal, yang berdomisili di Kota Yogyakarta. SALAM
"Bernyanyi untuk Hidup, Hidup untuk Bernyanyi"
"Bersama Kebenaran Sejarah Sang Bintang Kejora"

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Post Top Ad

Responsive Ads Here