Negara Kolonial Indonesia Membunuh Arnold Ap dan Eddy Mofu - WENAS KOBOGAU

Breaking

WENAS KOBOGAU

Percikan Bunga Api Untuk West Papua

test banner

Post Top Ad

Responsive Ads Here

Post Top Ad

Responsive Ads Here

Rabu, 27 April 2016

Negara Kolonial Indonesia Membunuh Arnold Ap dan Eddy Mofu

Eddy Mofu dan Arnold Ap | Negara Kolonial Indonesia Membunuh Arnold Ap dan Eddy Mofu
Oleh Sonny Dogopi

"Aliansi Mahasiswa Papua: Gerakan Mahasiswa Pada Tahun 1970 s.d 1980-an."
Gerakan kebangkitan Mahasiswa pada tahun 70-80an, gerakan kebangkitan Seni dan Budaya Papua Barat yang di polopori oleh Arnold C. Ap, Sam kapisa dan kawan-kawan mahasiswa UNCEN di Holandia (Jayapura). Gerakan mahasiswa yang bergerak di seni dan budaya ini lahir pada tahun 1972 yang dimulai dari gereja-gereja, panggung hingga terakhir di RRI nusantara lima Jayapura.
Gerakan ini tumbuh dan berkembang, yang kemudian pada tanggal 15 Agustus 1978 menjadikan hari jadi mambesak. Musik ini oleh Sam Kapisa dan Arnold Ap mengganggap sebagai musik yang suci sehingga mereka menamainya Mambesak, Nuri, yang menurut orang Biak adalah burung suci. Tujuannya adalah untuk menghibur hati masyarakat Papua yang sedang diintimidasi, dianiaya, diperkosa dan dibinasakan oleh negara kolonial Indonesia. Musik-musik mambesak memberikan kekuatan perlawanan rakyat Papua dan mengembalikan jati diri sebagai komunitas yang beda dari bangsa Indonesia.
Gerakan Mambesak memberikan inspirasi yang kuat dan membangkitan nasionalisme bangsa Papua, sehingga perlawanan pun semakin lama mulai menguat di daerah-daerah Papua lainnya. Namun sayang, karena oleh pemerintah Indonesia menganggapnya gerakan ini sangat berbahaya sehingga mereka menangkap Arnold C. Ap, Eddy Mofu dan membunuhnya tanpa alasan politik dan keamanan yang jelas.
Sesosok mayat bercelana Jeans terapung di perairan Teluk Imbi yang ternyata mayat Eddy Mofu salah satu personil Grup Mambesak. Pada hari itu, Arnold C. Ap juga sudah ditembak mati di sebuah pantai berbatu di sebelah Barat Pantai Pasir 6.
Kopasanda (saat ini Kopasus) menangkap Arnold C. Ap, Eddy Mofu dan membunuh mereka tanpa alasan politik dan keamanan yang jelas terhadap kesalahan yang di Lakukan oleh Arnold C. Ap dan kawan-kawan. Gerakan ini melahirkan protes besar-besar bangsa Papua atas kehadiran Indonesia, dengan melakukan Suaka politik dan pengungsian besar-besaran.
Di Jayapura sekitar 800 Masyarakat Papua melakukan pelarian ke Perbatasan Papua – PNG sebagai protes mereka atas sikap tidak manusiawi Indonesia terhadap bangsa Papua Barat. Sementara di Jakarta, Simon Otis Piaref, Johannes Rumbiak, Jopie Rumanjau dan Loth Sarakan, mempertanyakan nasib Arnold C. Ap dan Eddy Mofu ke Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia (DPR-RI), karena dikejar-kejar maka mereka melakukan lompat pagar dan meminta suaka politik di kedutaan Belanda.
Sikap yang diambil oleh Simon O Piaref dan kawan-kawan ini, adalah sikap protes atas sikap dan tindakan Indonesia yang tidak manusiawi di tanah Papua Barat. Pada hari yang sama sekitar 300 masyarakat Papua melakukan long mark mengantar mayat Alm. Arnold C. Ap dari Jayapura menujuh tanah hitam, tempat peristerahatan terakhir Alm. Arnold C. Ap.
Kami hingga generasi saat ini, sadar dan mengenang dibunuhnya bapak bangsa kami, Arnold C. Ap, Eddy Mofu oleh negara Indonesia melalui Komando Pasukan Khusus (waktu itu disebut Kopasanda), pada 32 tahun silam, tepatnya pada 26 April 1984 - 26 April 2016.
Sikap kesadaran ini, telah menjadi bagian dalam solidaritas atau rakyat Indonesia yang sadar dan memahami identitas bangsa Papua.
Arnold C. Ap, Eddy Mofu dan kawan-kawan adalah Guru Besar Seni-Budaya. Nasionalisme akan bangsa Papua sudah ada di dalamnya. Mari! Kita berdiri bersama dan sampaikan maksud.
Hollandia, 26 April 2016 Sonny Dogopia

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Post Top Ad

Responsive Ads Here