Hot!

Ruang Demokrasi Darurat Di Papua ' Puluhan Aktivis KNPB dan PRD di Tangkap

Hari ini. 13 April 2016, sedang diadakan aksi besar-besaran di Papua yang diorganisir oleh Komite Nasional Papua Barat (KNPB) untuk mendukung United Liberation Movement for West Papua (ULWMP) untuk menjadi anggot penuh Melanesian Spearhead Group (MSG), sebuah forum diplomatik di Pasifik selatan. Karena pola represifitas aparat keamanan terhadap orang Papua yang terus berulang, maka perlu bagi kita yang di Jakarta untuk terus memantau. Berikut ini adalah perkembangan di Papua sejak kemarin 12 April 2016 di Jakarta, langsung dari narasumber LBH Jakarta yang berada di lokasi:

JAYAPURA:
Aparat kepolisian sejak pukul 06.00 waktu setempat sudah bersiaga di titik kumpul Expo, Perumnas III dan Abepura. Jumlah personil yang diturunkan oleh Polres Jayapura dan Polda Papua sekitar 765 anggota polisi dengan perlengkapan lengkap. Anggota TNI,Brimob, satpol PP, Lantas, provos dan Intelijen berjumlah ratusan orang juga sudah bersiaga. Terdapat juga 5 mobil dalmas kepolisian, 2 mobil box, 2 mobil tahanan, 2 mobil patroli, 1 barakuda, 6 mobil jenis Avanza dan Innova yang digunakan intelijen.

08.00: massa aksi yang bergerak dari 5 titik masing-masing dari Perumnas III Waena, Taman Imbi kota Jayapura, Kantor Pos Abepura, Expo Waena dan Sentani sempat dihadang oleh kepolisian dari polres Kota Jayapura dan Polda Papua .
09.45: massa aksi ingin bergerak ke DPRP (DPR Papua) namun tidak diperbolehkan polisi.
10:30: Aparat dengan kekuatan full hadang massa aksi depan gapura Universitas Cenderawasih (UnCen). Pasukan gas air mata disiagakan.
10:50: Titik lampu merah Waena: polisi, brimob, intel TNI dengan belasan truk personil, dengan senjata, gas air mata dan tongkat.
11:00: 8 orang ditangkap di depan pasar Taman Imbi dan dibawa ke Polres Jayapura.
11:14: aparat TNI/Polri menghancurkan mobil komando dan menyita 5 motor. Polisi ingin membubarkan aksi damai, tapi massa aksi masih bertahan depan lampu merah Topaz.
11:35: Di Polres Jayapura, narsum LBH Jakarta tidak diperkenankan utk bertemu/bicara dgn 8 kawan yg ditahan. Bisa cek di no Kapolres Runtini 08114900065.
12:30: Aparat polri di depan gapura UnCen sudah memberikan arahan untuk pembubaran massa
12:52: Massa yang di Expo dan di gapura Uncen bergabung di samping sekretariat BEM Uncen, aparat masih bersiaga di luar pagar dengan ketat

YAHUKIMO:
12 April 2016:
Pada jam 8 pagi hingga 12 siang di Dekai, kurang lebih 10 orang membagikan selebaran mendukung ULWMP di perempatan jalan menuju gunung. Ketika mereka sudah selesai membagikan selebaran, mereka beristirahat di bawah pohon sambil minum minuman dingin. Tiba-tiba 1 mobil Brimob, 1 mobil polisi dan 1 mobil Kijang berhenti dan aparat menodongkan senjata ke kepala sambil bilang “Jangan bergerak!”. Sontak 5 orang yang dekat ke hutan lari masuk ke hutan, sedangkan 5 orang yang duduk di pinggir jalan diangkut dibawa ke kantor Polres Yahukimo. 7 motor dan 1 sepeda juga ikut diangkut. Uang sejumlah 3 juta rupiah diambil dan makanan minuman juga ditendang serta diangkut.

Hingga saat ini, kelima orang yang ditangkap tersebut belum memiliki pengacara/pendamping hukum. Pihak keluarga sudah berkumpul dan menanyakan apa dasar mereka ditangkap. Yupi Sobolim (23 tahun), Unyil Kobak (24), Erson Suhun, Natu Dapla dan satu belum diketahui namanya karena memang sangat sulit untuk menemui mereka. Dua anak yakni Yosua Sobolim (8 tahun) dan Anderson Suhun (12 tahun) sempat hampir ikut ditangkap namun dilepas setelah kelima orang yang ditangkap tadi bilang bahwa kedua anak tersebut tidak terlibat.

Massa menuntut mereka untuk dilepaskan dan menanyakan atas dasar apa mereka ditahan, namun tidak bisa berhasil karena Polres Yahukimo dijaga ketat oleh Brimob. "Seperti sedang menjaga teroris," ujar narasumber LBH Jakarta di lokasi. Ratusan orang sempat mengepung Polres namun hingga saat ini kelima orang tersebut belum dilepaskan.

KAIMANA:
12 April 2016:
Sekitar jam 12.15 waktu setempat, ketika sekitar 50 anggota KNPB dan PRD (Parlemen Rakyat Daerah) berkumpul untuk rapat internal menjelang aksi tanggal 13 April, kepolisian datang membubarkan aksi di kantor KNPB.

Kemudian pada pukul 16.00, kepolisian kembali mendatangi kantor PRD dan sekertariat KNPB yang berlokasi di Bantemi depan Kantor Bupati Kaimana.

Aparat kepolisian datang dengan menggunakan 6 mobil dalmas dan 2 mobil patroli memasuki halaman kantor PRD dan Sekertariat KNPB lalu melakukan penggerebekan. Saat polisi masuk, kepolisian merusak fasilitas dan menangkap 14 aktivis KNPB dan Sekjen PRD Kaimana.

Nama aktivis yang ditangkap antara Lain: Yohanes Furay, Lilian Tapnesa, Ania Kurita, Simon Egana, Melianus Siwari, Aser Kubewa, Agus Surbay, Elon Aribau, Stevanus Esuru, Yusuf Surubay, Sepi Surubay, Melianus Surubay, Alfian Tanggafora, Melianus Siwari, Fata Watora.

15 orang yang ditangkap kepolisian masih ditahan di Polres Kaimana sampai dengan saat ini.
Selain itu, kepolisian juga menyita sejumlah barang yakni 9 buah HP, 2 buah printer, 5 buah bendera KNPB, 4 motor, 2 buah parang dapur, 1 buah mesin babat rumput, 2 buah tifa.

Menurut sumber kami, polisi klaim bahwa ada juga busur yang disita namun mereka tidak merasa pernah mempunyai busur. Selain itu, parang dapur yang disita adalah parang yang biasa digunakan untuk memotong ikan, babi dan berbagai keperluan dapur lainnya. Mesin babat rumput juga adalah mesin yang biasa digunakan untuk memotong rumput.

Polisi membubarkan dan menangkap 14 orang tersebut atas dasar rapat tersebut tidak ada izin. Sumber kami mengatakan bahwa mereka melakukan kegiatan rapat internal di dalam kantor mereka sendiri, jadi mereka merasa tidak memerlukan ijin ke kepolisian.

MERAUKE:
13 April 2016:
Kurang lebih pukul 08.00 waktu setempat polisi dari Polres Merauke dan Polsek dipimpin oleh Kabag Ops. Kompol Marten Kuagow dengan jumlah kurang lebih 100 anggota polisi bersenjata lengkap mendatangi Sekretariat KNPB Wilayah Ha-Anim dan Kantor PRD Wilayah Merauke dengan menggunakan 2 mobil dalmas, 1 mobil Kijang, 1 buah mobil pickup.

Kepolisian menggerebek kantor dan menangkap 13 orang, yaitu:
Beberapa barang juga disita, antara lain ; 4 buah motor, 1 buah hard disk, 2 buah toa, 1 buah kotak sumbangan, 1 buah contoh kotak simulasi referendum, 1 buah HP, 1 buah papan tulis, dan beberapa baliho yang tidak terpakai.

Ny. Panggrasia Yeem, Petrus Katem, Idelfonsius Katop, Yohakim Gebze, Gento Emerikus Dop, Charles Sraun, Emilianus Nemop, Rikardo Pisakai, Oktovianus Warip, Petrus P. Koweng, Lukas Arawok, Simon Taulemi, Paustinus K. Metemko
Hingga saat ini mereka masih ditahan di Polres Merauke.

0 komentar:

Posting Komentar

Diberdayakan oleh Blogger.