Drama Antara Jakarta Dan Timor Leste (Dili) - WENAS KOBOGAU

WENAS KOBOGAU

Percikan Bunga Api Untuk West Papua

test banner

Breaking

Post Top Ad

Responsive Ads Here

Post Top Ad

Responsive Ads Here

Selasa, 03 Mei 2016

Drama Antara Jakarta Dan Timor Leste (Dili)


DRAMA ANTARA JAKARTA DAN TIMOR LESTE ( DILI )
( Pada akhir Drama yang dikatakan Segelintir keluar sebagai PEMENANG )

Oleh Ibrahim Peyon 

Waktu kami di SMP dan SMA tahun 1990-an selalu kami duduk depan televi di Asrama. Terkadang kakak-kakak kami sering marahi untuk tidur lebih awal agar kwuatir terlambat ke sekolah.

Waktu itu, kami bukan ingin mennonton Flem melainkan ingin mengikuti sebuah adegan DRAMA yang sedang berlangsung antara Jakarta dengan apa yang mereka sebut Separatis FRETILIN di Timor-Timur (kini Negara Timor Leste).

Kami mengikuti berita-berita itu secara seksama yang membuat kami kadang marah dan emosi. Pada hal, kami tidak mengerti secara benar arti dari sebuah Drama tersebut. Ya, pantas kami orang-orang kampung yang tidak terbiasa ikut berita begitu. Sering kami mendengar nama Zanana Kusmao disebut separatis atau terkadang disebut komunis. Ramos Horta sebagai separatis yang harus dihancurkan karena merongrong NKRI.

Uskup Bello yang selalu dicap sebagai Uskup pendukung separatis, pemimpin gereja separatis atau dengan berbagai macam istilah lain. Hal sebaliknya, ketika kami dengar nama Lopex dan Erico Cuteres. Kedua tokoh ini selalu diagung-agungkan, di hormati, disanjung, diangkat dan di besar-besarkan. Lopex ditunjuk sebagai Duta besar keliling untuk urusan Timor-Timur. Dia dibiayai, dilengkapi dan di dukung dengan dana sangat besar oleh pemerintah Indonesia. Lopex berkeliling dunia melobih agar Timor-Timur tetap menjadi bagian Indonesia. Dia membangun propaganda di dunia bahwa hanya segelintir orang Timor-Timur yang stress bicara dan majoritas rakyat mendukung tetap menjadi bagian Indonesia.

Abolia Soares sebagai gubernur yang bersuara keras untuk membela NKRI dan menghancurkan masyarakatnya sendiri.

Erico Cuters diangkat sebagai panglima Merah Putih, dipersenjatai dan dikawal ketat oleh militer dan polisi Indonesia. Benar-benar tiga orang ini menjadi pahlawan besar untuk Indonesia.

Mereka benar-benar telah lupa rakyat Timor-Timur dan tanah kelahiran mereka sendiri. Hanya karena DEMI UANG DARAH dari orang Timor-Timur saat itu.
Pada akhir dari drama tersebut mereka yang disebut SEPARATIS dan MINORITAS itu keluar sebagai PEMENANG.

Pada akhirnya apa yang terjadi? Gubernur Abolio Soares mati-matian membela NKRI itu di hukum PENJARA oleh tuannya sendiri dan dia mati di dalam penjara.
Lopex telah hilang dari publik Indonesia dan dunia. Kemana rimbahnya? Erico Kuteres di hukum PENJARA oleh tuanya dan setelah keluar dari Penjara dia MELARAT di Timor Barat saat ini.

Itulah Drama itu. Baiklah kita menunggu Drama kedua antara Papua dan Jakarta saat ini. Mudah-mudahan PAHLAWAN ORANG PAPUA UNTUK JAKARTA saat ini tidak mengalami nasib yang sama dengan Erico, Lopex dan Abolio.

Salam untuk semua.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Post Top Ad

Responsive Ads Here