Paulo Freire : Seorang Filosof Pendidikan - WENAS KOBOGAU

WENAS KOBOGAU

Percikan Bunga Api Untuk West Papua

test banner

Breaking

Post Top Ad

Responsive Ads Here

Post Top Ad

Responsive Ads Here

Sabtu, 14 Mei 2016

Paulo Freire : Seorang Filosof Pendidikan

paulo freire

paulo freire

Pendidikan Kaum Tertindas dari Kesadaran Naif Menuju Kesadaran Kritis

Paulo Freire Seorang Filsafat Pendidikan

Hidup tanpa ilmu bagaikan malam tanpa bintang, begitulah kiranya pribahasa yang kita dapatkan pada waktu kita masih menjadibagian dari obyek ilmu pengetahuan teoritis tanpa memiliki sebuah kesadaran.

Paulo Freire adalah tokoh pendidikan yang penuh dengan misteri yang menyelimuti pemikiran pendidikannya. Dilahirkan di Brasil, 19 September 1921. Beliau dikenal sebagai mahaguru dalam pendidikan yang sangat memberdayakan kaum tertindas dan petani miskin. Kemampuan Freire dalam bidang pendidikan yang memberi pencerahan  sadar politik dan sadar berfikir kritis membuat dia ditunjuk sebagai direktur Program Nasional Pemberantasan Buta Huruf Brasil pada 1963. Kakanda ini juga sempat diasingkan dalam penjara atas tuduhan “subversi” pada saat Brasil mengalami junta militer. Dan pada saat kebebasannya, Freire dan kawan kawannya mendirikan Partai Buruh Berhaluan Kiri.

Menurut Freire, fitrah manusia sejati adalah pelaku (subyek) bukan penderita (obyek). Bagi Islam, fitrah manusia adalah suci, merdeka, khalifah. Memposisikan diri sebagai “memanusiakan manusia” atau humanisme. Terdapat 4 pengertian mengenai humanisme: Humanisme menurut liberalisme barat, Humanisme menurut marxisme, Humanisme menurut eksistensialis, dan Humanisme menurut Agama Islam.


Bagi Paulo Freire, humanisme lewat pendidikan adalah sebuah politik pembebasan manusia dengan cara membongkar kesadaran manusia itu sendiri. 

Manusia harus mengetahui bahwa dunia dan realitas hidup ini ‘bukan sesuatu yang terjadi dengan sendirinya, dan dengan begitu harus diterima apa adanya’ sebagai suatu takdir atau nasib yang tidak boleh kita kritisi sama skali. Hal inilah yang membuat Freire mengkritisi cara pemikiran yang demikian. 

Singkatnya Freire menginginkan perlunya sikap Orientatif yang merupakan pengembangan bahasa fikiran yakni cara berfikir yang menyadari keberadaannya. Manusia adalah tuhan atas dirinya senfiri, dan karena itu fitrah manusia adalah merdeka. Itulah tujuan akhir dari upaya humanisasinya Freire.


Gagasan pendidikan Kanda ini adalah pendidikan yang berorientasi pada pengenalan realitas diri manusia dan dirinya sendiri. Pengenalan yang melibatkan unsur obyektif dan subyektif. Kebutuhan obyektif diperlukan untuk merubah keadaan yang tidak manusiawi karena kemampuan subyektif digunakan untuk mengetahui terlebih dahulu bahwa sesungguhnya terjadi kehidupan yang tidak manusiawi. 

Freire mengenalkan 3 unsur pendidikan dalam hubungan yang dialektis yaitu
-      
  -        - pengajar,
-         - pelajar atau anak didik, dan
-         - realitas dunia

Jadi, guru adalah subyek aktif dan anak didik adalah obyek pasif yang penurut yang menjadi bagian dari realitas dunia pendidikan selama ini yang telah ada dan telah maan. Pendidikan akhirnya bersifat negative dimana guru memberi informasi yang harus ditelan mentah – mentah oleh murid.
Berikut daftar gaya antagonisme pendidikan yang ditolak oleh Paulo Freire :

1.       Guru mengajar, murid belajar
2.       G uru tahu segalanya, murid tidak tahu apa-apa
3.       Guru berfikir, murid difikirkan
4.       Guru bicara, murid mendengar
5.       Guru mengatur, murid diatur
6.       Guru memilih dan memaksakan pilihannya, murid menuruti
7.       Guru bertindak, murid membayangkan bagaimana bertindak sesuai gurunya
8.       Guru memilih apa yang diajarkan, murid menyesuaikan diri
9.     Guru mengacaukan wewenang ilmu pengetahuan dengan wewenang profesionalismenya, dan    mempertentangkan dengan kebebasan murid
.          Guru adalah subyek proses belajar, murid obyeknya

Maka yang dimaksud konsep pendidikan oleh Kakanda Freire adalah suatu “pedagogy of liberation” yakni proses pendidikan hadap masalah. Suatu antitesa dari sikap pendidikan gaya antagonis yang lebih mendorong dialog antara guru dan murid.


Formulasi filsafat pendidikannya dinamakan sebagai pendidikan kaum tertindas. Sistem pendidikan pembaharu ini adalah pendidikan untuk pembebasan bukan untuk penguasaan (dominasia).
Berikut skema pendidikan yang ditawarkan oleh paulo Freire

Tindakan

                                                Kata = Karya = Praxis
 Pikiran


Inti dari proses pembelajaran oleh Kakanda Freire adalah proses penyadaran. Pendidikan yang aktif  bertindak dan berfikir sebagai pelaku, yang melibatkan diri secara langsung terhadap suatu permasalahan nyata dalam suasana yang nyata, maka konsep pendidikan kaum tertindasnya Freire dengan sendirinya akan menumbuhkan kesadaran. 

Pembebasan dan memanusiakan manusia hanya bisa dilakukan dalam artian yang sesungguhnya jika orang tersebut benar – benar berada dalam kondisi yang sadar, menyadari realitas dirinya sendiri dan dunia sekitarnya dengan suatu idealisme yang kuat.

Proses penyadaran dilakukan secara terus menerus dan berkesinambungan adalah inti dari ajaran pendidikan kakanda ini. Ada proses yang utuh dengan selalu memulai dan memulai. Dunia kesadaran seseorang harus terus dilakukan, berangkat dari “kesadaran magis” terus berproses dari “kesadaran naif” sampai ketingkat yang dinamakan “kesadaran kritis” dan sampai pada tingkat kesadaran yang tertinggi yaitu “kesadarannya kesadaran, bagi saya kesadaran manusia adalah internasionalitas pengalaman akan realitas (keterlibatan penuh dan sadar dalam suatu proses).


Jadi, menurut saya kesimpulannya adalah pendidikan yaitu proses pembebasan dari sistem yang menindas. Dan hakikat pendidikan adalah proses pembangkitan kesadaran kritis sebagai prasyarat proses humanisasi. Kuncinya adalah sistem pendidikan ini menginginkan konsientisasi atau proses membangkitkan kesadaran kritis.

Referensi 

Buku Pendidikan Kaum Tertindas paulo freire

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Post Top Ad

Responsive Ads Here