Kesatuan Teori dan Praktek Dalam Gerakan Mahasiswa - WENAS KOBOGAU

WENAS KOBOGAU

Percikan Bunga Api Untuk West Papua

test banner

Breaking

Post Top Ad

Responsive Ads Here

Post Top Ad

Responsive Ads Here

Minggu, 19 Juni 2016

Kesatuan Teori dan Praktek Dalam Gerakan Mahasiswa

[ Muhammad Azis ]
Mahasiswa merupakan gejala pada masyarakat yang telah memiliki kesadaran berorganisasi, dan mahasiswa merupakan golongan yang diberikan kesempatan sosial untuk menikmati kesadaran tersebut, maka asumsi bahwa gerakan mahasiswa memberikan penghargaan yang tinggi terhadap kegunaan organisasi dalam gerakannya adalah absah. Dengan demikian kronologi sejarah gerakan mahasiswa harus memperhitungkan batasan bagaimana sejarah mahasiswa memberikan nilai lebih terhadap organisasi. Meskipun demikian, tidak ada maksud untuk tidak menghargai gerakan rakyat spontan.
“Semua kemajuan di Indonesia itu dimotori oleh angkatan muda dan mahasiswa”, kata Pramoedya Ananta Toer dalam sebuah wawancara.
Tulisan ini dibuat berdasarkan pengalaman, bacaan, sejak saya hidup dalam pergerakan dan untuk mahasiswa-mahasiswa yang saat ini berada dalam organisasi-organisasi pergerakan, maupun yang menjadi mahasiswa yang belum berorganisasi—mungkin berguna untuk membantu sedikit memecahkan persoalan dalam gerakan mahasiswa—yang menurutku lagi TIDUR saat ini. Jika melihat realitas penindasan saat ini mungkin sangat begitu banyak—mulai dari kasus buruh (yang upahnya dikurangi, buruh kontrak, outsourcing, dll), kasus petani (perampasan tanah di Ramunia, dll), kasus penganguran yang membuat banyaknya kaum kiskin kota dan kasus di kita, mahasiswa (kenaikan SPP,liberalisasi pendidikan, privatisasi kampus, dll)—ditambah lagi kita diperhadapkan dengan bahaya kebangkitan Prabowo dan KMP-nya yang merupakan sisa-sisa Orde Baru—MILITERISME, sampah zaman, penghancur demokrasi—sampai sejauh ini gerakan mahasiswa belum begitu secara serius menanggapi permasalahan-permasalahan rakyat yang ada, serta tidak serius pula dalam menghadang kebangkitan sisa-sisa orde baru yang lagi mau berkuasa—sehingga membutuhkan suatu rumusan atau konsep bagaimana para mahasiswa-mahasiswa menghadapi rezim, dengan segala macam daya upaya dalam mengorganisir perlawanan terhadap rezim borjuis.
Ada 2 kecenderungan pandangan dalam gerakan mahasiswa saat ini yang membuat gerakan mahasiswa hanya sekedar momentual dan mobilisasi massanya sulit membesar dan terorganisir—walau dalam momen-momen besar:
  • Memperkuat teori dulu, baru berpraktek (onani intelektual)
Dalam pandangan ini para “pelopor” harus banyak-banyak diskusi teoritik, menguatkan ideologi dulu baru sebelum turun mengorganisir massa. Harus membaca habis dulu karya-karya Marx, Lenin, Trotski dan tokoh-tokoh revolusioner lainnya—agar dalam menjelaskan kepada massa katanya “bisa menjawab semuanya” dan membuat massa ikut dalam gerakan karena kita sudah kuat ideologi dan “tidak mudah demoralisasi”. Intinya kita harus memperkuat “ideologi” dulu baru turun ke ladang praktek (mengorganisir). Yang terjangkit dalam pandangan ini kebanyakan aktivis-aktivis LSM, sarjana-sarjana, dosen dan para mahasiswa yang “pintar” secara akademis. Biasanya kalau dalam retorikanya selalu diskusi hal-hal yang sifatnya abstrak dan umum, serta bahasanya terlalu sulit untuk di mengerti oleh massa.
  • Berpraktek saja, tidak usah berteori (aktivisme)
Dalam pandangan ini para “pelopor” hanya banyak menganjurkan kita harus mempunyai banyak massa dan terus-terusan melakukan aksi massa—asalkan kita bekerja secara kolektif (bersatu) dalam melawan kapitalisme. Yang kita butuhkan saat ini adalah “persatuan”; tak peduli ia organisasi apa; entah dia reaksioner atau pendukung borjuis; yang penting melawan kapitalisme juga katanya. Diskusi-diskusi teoritis dianggap menjadi hal yang tidak begitu penting, karena dianggap hanya banyak menghabiskan waktu—yang penting kita membangun “gerakan” katanya. Kritik-otokritik dianggap sesuatu yang “memecah belah” dalam pergerakan.
Kritik terhadap kaum onani intelektual
Sebenarnya akan lebih mudah dan baik kalau orang yang banyak pengetahuannya itu langsung berhadapan dengan massa—jika mau. Namun kalau tidak/belum turun ke bawah (baca: mengorganisir) semua pengetahuan itu akan menjadi basi—tidak ada gunanya, layak di samakan dengan teori borjuis yang jauh dari realitas—teorinya hanya persoalan skolastik semata. Akibat dari hal ini kita menjadi dogmatis dan buntu dalam pergerakan, tak mengerti realitas konkrit—tidak punya data (kalaupun ada datanya bisa salah dan dimanipulasi, hanya mengambilnya dari media mainstream yang ada). Tugas utama seorang marxis ialah mempelopori, sebagaimana yang telah di contohkan oleh kaum Bolshevik, di bawah kepemimpinan Lenin—sangat menjunjung tinggi sifat KEPELOPORAN. Prinsipnya menurutku: mendingan gagal, ketimbang tidak melakukan (mengorganisir) sesuatu sama sekali buat perlawanan—karena tidak mungkin hanya dengan TEORI bisa membuat rezim penindas bisa jatuh, tanpa melakukan aktivitas pengorganisiran massa (baca: PRAKTEK).
Sebagai seorang Marxis, kita harus percaya bahwa praktek sosial manusia itu sendiri adalah sebuah kriteria kebenaran, pengetahuannya tentang dunia luar. Apa yang sesungguhnya terjadi adalah, bahwa pengetahuan tersebut diuji kebenarannya sewaktu ia mencapai hasil-hasil yang diharapkan dalam proses praktek sosial (produksi material, per¬juangan kelas dan eksperimen ilmiah). Jika seseorang ingin berha¬sil, yaitu, hasil yang diharapkan sebelumnya, ia harus membuat gagasan-gagasannya itu sesuai (korespondensi) dengan hukum-hukum dari dunia luar yang obyektif; jika ia tidak mengalami kesesuaian (korespondesi), mereka akan gagal dalam tindakan prakteknya. Setelah mereka mengalami kegagalan, menarik kesimpulan dari pelajaran-pelajaran yang ia peroleh, kemudian memperbaiki gaga¬sannya tersebut agar sesuai dengan hukum-hukum dari dunia ek¬sternal yang kemudian akan merubah kegagalannya menjadi suatu keberhasilan; inilah yang dimaksudkan dengan makna dari “kegaga¬lan adalah bunda dari keberhasilan” dan “jatuh terperosok dalam sebuah lubang adalah sebuah tambahan bagi kebijakan anda”.
Teori pengetahuan dari kaum materialis-dialektis menempatkan praktek dalam posisinya yang utama, yaitu bahwa pengetahuan manusia dalam cara apapun tidak dapat dipisahkan dari praktek dan menolak setiap kesalahan-kesalahan teoritis yang mengabaikan pen¬tingnya praktek atau memisahkan pengetahuan dari praktek. Jadi, seperti yang telah dikatakan oleh Lenin, “Praktek adalah lebih tinggi dibandingkan pengetahuan(teoritis),dikarenakan hal ter¬sebut bukan cuma martabat universalitas, tetapi juga merupakan aktualitas yang utama.”
“Manusia harus membuktikan kebenaran, misalnya realitas dan kekuasaan, keduniawian dari pemikirannya dalam praktek”, demikian menurut Marx. “Perdebatan mengenai realitas dan non realitas dari pemikiran yang dipisahkan dari praktek adalah sebuah persoalan yang benar benar skolastis!”. Praktek adalah kriteria kebenaran karena hal itu yang mendasari pengetahuan tentang realitas dan karena hasil dari proses kognitif direalisasikan dalam aktivitas material, obyektif manusia. Praktek adalah satu satunya kriteria obyektif dari kebenaran sejauh hal itu merepresentasikan bukan hanya mental manusia, namun juga keterkaitan manusia yang ada secara obyektif dengandunia alam dan sosial yang melingkupi diri manusia.
Pengorganisiran, adalah suatu kerja untuk membawa orang-orang untuk sampai kepada suatu kesadaran sejati, kerja untuk membawa massa kepada pemahaman menyeluruh atas realitas yang sesungguhnya. Ini berarti juga membawa massa kepada suatu pemahaman bahwa dunia/realitas sosial/kenyataan itu adalah progresif, senantiasa berubah. Perubahan yang terjadi di kondisi obyektif adalah radikal, perubahan yang mengakar. Dan lebih jauh lagi menyadarkan massa bahwa dunia memang dapat dan bisa berubah, serta untuk mengarahkannya kepada perubahan yang lebih baik maka kita harus ikut serta dan ambil bagian di dalamnya.
Dengan berpartisipasi langsung dalam pengorganisiran , kita mendapatkan banyak pengetahuan, serta dapat menjaga militansi agar tetap kuat. Karena jika kita terpisah dari realitas (penindasan) kita sulit merumuskan teori, konsep, strategi-taktik dalam situasi yang konkrit.
“Jangan banyak bicara umum dan abstrak, tapi pecahkan sesuatu secara khusus dan konkrit” (teriakan kaum revolusioner)
“Para filsuf sebelumnya hanya sibuk menafsirkan dunia, namun tidak berusaha bagaimana merubahnya.” (Marx)
“Setiap orang yang menolak persepsi, menolak pengalaman langsung, menolak partisipasi secara personal dalam praktek yang merubah realitas bukanlah seorang materialis. Itulah sebabnya mengapa seorang yang “tahu-segalanya” adalah menggelikan. Ada sebuah perkataan dari bangsa Cina,”Bagaimanakah engkau mampu menangkap seekor anak macan tanpa memasuki kandang macan?” perkataan ini adalah benar bagi praktek manusia dan juga benar bagi teori pengetahuan.”(Mao Tse-Tung)
Kritik terhadap kaum aktivisme
Sebenarnya orang yang mengesampingkan persoalan teori merupakan orang yang kekanak-kanakkan dalam pergerakan. Dalam realitasnya mereka tidak benar-benar “anti-teori” sebenarnya, karena segala sesuatu yang bersifat material—mulai dari hal sederhana sampai hal yang rumit itu ada teorinya—makan pun ada teorinya. Kebanyakan orang-orang yang “anti-teori” ini biasanya hanya ingin populer, menjauhi perdebatan-perdebatan teoritik—disertai dengan alasan “hanya menghabiskan waktu melulu”. Kita harus banyak-banyak belajar dari pengalaman kawan-kawan kita di gerakan 98, yang telah menjatuhkan rezim kediktatoran Suharto—yang dengan massa yang besar—namun tidak bisa menghasilkan REVOLUSI, karena dari situlah kita bisa mengambil kesimpulan dan bertanya bahwa mengapa muara gerakan mereka adalah REFORMASI ?, bukan REVOLUSI—karena REVOLUSI membutuhkan ORANG-ORANG YANG SADAR dalam memperlakukan realitas—yakni kesatuan antara teori dan praktek. Dalam gerakan 98 banyak mahasiswa yang menghindari diskusi-diskusi teori—tidak seperti di tahun-tahun 80-an yang banyak sekali yang terlibat dalam diskusi-diskusi.
Dalam aksi tolak kenaikan harga BBM di Palu tahun 2012 yang melibatkan begitu banyak massa (lupa berapa jumlahnya yang konkrit)—kampus Untad pun yang terbanyak pula dalam kasus penangkapan dan represi terhadap mahasiswanya dalam aksi tolak kenaikan harga BBM di tahun 2012 tersebut. Banyak mahasiswa yang demoralisasi pasca aksi tersebut sampai sekarang—karena tidak disertai dengan militansi yang tinggi, militansinya terbatas, militansinya tidak dibimbing oleh teori (pengetahuan) yang revolusioner. Mungkin dalam hati para kawan yang direpresi oleh aparat itu begini : “sudah babak belur terus tapi tidak revolusi-revolusi”.
Pada tahap-tahap awalnya, kemunculan kapitalisme sangattlah revolusioner sifatnya, karena dari kapitalisme, perkembangan ilmu-pengetahuan dan teknologi begitu pesat—sehingga menerobos hal-hal yang sifatnya tidak membangun pengetahuan sebelumnya (baca: feodalisme), walau belum bisa mensejahterakan umat manusia—namun memberi basis (pengetahuan) buat kaum pergerakan untuk BERGERAK SECARA SADAR untuk memperjuangkan model masyarakat baru, yakni sosialisme. Orang-orang di zaman sebelumnya (komunal primitif, perbudakan, feodalisme) tidak bergerak secara sadar dalam merubah suatu sistem dunia—nanti di masa kapitalismelah barulah orang-orang bergerak secara sadar,karena kapitalismelah yang memberikan basis buat perlawanan secara sadar lewat kemajuan ilmu-pengetahuan dan teknologi yang ada untuk mewujudkan keadilan sosial bagi seluruh manusia.
Walau dalam tujuannya, politik etis hanya di gunakan buat kepentingan pemerintah Hindia-Belanda untuk “balas budi” terhadap kaum priayi, namun dari politik etislah (yang salah satu isiannya yaitu edukasi atau pendidikan) yang memberi basis perlawanan yang cukup kuat dan terorganisir dalam kaum pergerakan di awal abad ke-20 di Indonesia (baca: Hindia Belanda)—yang dimotori oleh Tirto Adi Suryo, Kartini, dll., karena mereka mendapat PENGETAHUAN dari ibu Eropanya, kemudian melawan bentuk-bentuk kolonialnya. Dari penelusuran sejarah inilah yang menurutku sangat cocok bila dikatakan kalau “mahasiswa adalah anak haram dari kapitalisme” atau biasa disebut juga dengan “agen perubahan” jika gerakan mahasiswanya hendak membuat suatu gerakan yang berorientasi pada kepentingan rakyat. Mana mungkin ada figur terkenal seperti Tirto Adi suryo, Tan Malaka, Semaun, Sukarno,dll., kalau tak ada pengetahuan pada mereka—yang lahir dari politik etis pemerintah kolonial Hindia Belanda.
Tak bisa disangkal, teori (pengetahuan) sangat berpengaruh terhadap militansi seseorang. Bagaimana mungkin massa mau percaya dengan kita kalau kita taunya hanya asal melawan dan bergerak saja, tanpa penjelasan-penjelasan pengetahuan yang ilmiah ? akibatnya mengabaikan teori adalah jadinya kita akan hanya menjadi aktivis nguping.
“Tak mungkin ada pergerakan revolusioner tanpa teori revolusioner” (Lenin)
Teori dan praktek—tak boleh di pertentangkan dan dipisahkan antara keduanya (teori dan praktek)
Bila hendak membangun perlawanan yang kokoh secara ideologi dan politik, tentunya kita harus mengorganisir perlawanan sejak dini—mempersiapkan segala sesuatunya melalui kegiatan-kegiatan yang menjadi syarat-syarat perubahan, yakni dengan diskusi-diskusi, rapat, konsolidasi, aksi, mengorganisir, membaca, membagi selebaran, dan tindakan-tindakan lainnya yang membangun pergerakan—hanya dengan syarat-syarat itulah roda pergerakan mahasiswa bisa terus berjalan dengan kuat (dialektis), serta tidak terjebak dalam sebutan onani intelektual maupun aktivisme. Kalau kita percaya kalau kapitalisme pasti akan menemui ajalnya (krisis), kita pun tentunya harus mempersiapkan senjata ampuh agar memanfaatkan situasi, jika tidak—kita hanya terus-terusan menyalahkan keadaan atau situasi, yang pada akhirnya bisa saja hanya membuat kita putus asa (demoralisasi) dan tenggelam dalam pergerakan yang momentual. Tugas kita sekarang adalah MEMPERSIAPKAN.
Temukan kebenaran melalui praktek, dan uji serta kembangkan kebenaran melalui praktek juga. Dimulai dari pengetahuan perseptual dan secara aktif mengembangkannya menjadi pengetahuan rasional; kemudian berawal dari pengetahuan rasional dan secara aktif membimbing praktek revolusioner untuk merubah baik itu dunia obyektif maupun dunia subyektif. Praktek, pengetahuan, kemudian praktek serta pengetahuan lagi. Bentuk seperti ini terus berulang dalam gerak melingkar yang tanpa akhir, dan dengan mana dalam setiap lingkaran tersebut isi praktek dan pengetahuan meningkat menuju tingkatan yang lebih tinggi. Begitulah seluruh keseluruhan teori pengetahuan dari kaum materialis-dialektis tentang kesatuan antar mengetahui dan melakukan sesuatu. (Mao Tse-Tung)
“Jangan berlagak tidak mengerti, kalian (angkatan muda dan mahasiswa) cukup memiliki ILMU dan KEBERANIAN”, pesan Pramoedya Ananta Toer kepada para angkatan muda dan mahasiswa.
Mari belajar bersama dan meningkatkan pengorganisiran perlawanan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Post Top Ad

Responsive Ads Here