Hot!

Kronologis Penembakan Owen Pekei di Nabire

Owen Pekei (18) (foto: ist.)
Ini adalah kejadian tidak manusiawi yang menimpa seorang pelajar kelas II SMA YPPGI Nabire, Owen Pekei (18) pada Senin (27/06) sore.

Kematian yang dialami Owen ini membuat ribuan pertanyaan di kalangan wargaNabire. Kematian yang tragis ini bisa dikatakan sebuah motif militer Indonesia. Kasus ini adalah sebuah skenario atau taktik Polisi Republik Indonesia (Polri)yang bertugas di Nabire, Papua. Polisi seharusnya mengayomi dan mengamankan warga, tetapi kenyataan di lapangan berbeda. Polisi yang mengejar dan menembak korban di Tugu Roket (depan Kantor Bupati Nabire). Kenapa penembakanBukti soal penembakan ini terlihat dari hasil foto korban saat terbaring dalam Ruang Mayat Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) SriwiniNabirePapua.

Saksi Mata 1

Pada pukul 16.30 WP, korban menggunakan sepeda motor dari Auri (Karang Tumaritis) menuju Oyehe untuk menonton pertandingan Bola Volly yang diadakan oleh Gereja Bethel (Bethel Cup II)Sesampai di Oyehe, korban tiba-tiba dikejar polisi yang menggunakan tiga (3) buah motor dan 1 (satu) DalmasPorlesta Nabire menuju arah Karang Tumaritis mengikuti Jalan Merdeka.

Setelah tiba di perempatan depan SMA Adhi Luhur, korban membelokan arahnya lagi ke Oyehe.

Sekitar pukul 17.00 WP, korban tergeletak di sekitar Tugu Roket. Banyak pihak mengatakan, korban menabrak tembok Tugu RoketAda juga yang mengatakan, korban ditembak satuan militer khusus yang telah dipakai oleh militer Indonesia.

Selain itu, ada informasi terkait yang dimuat oleh beberapa akun media sosial,seperti Facebook dan BloggerMisalnya, nabire.net memuat, insiden ini merupakan kecelakan tunggal. “Dari informasi yang didapat, korban diduga kehilangan kendali saat menaiki motornya, hingga jatuh tepat di dekat tugu rudal Nabire. Naasnya, korban sama sekali tidak menggunakan helm ketika berkendara, sehingga ketika terjatuh, kepala korban terhantam aspal. Akibat benturan keras di kepala, korban dilaporkan meninggal dunia. Oleh Aparat kepolisian, korban langsung di larikan ke RSUD Siriwini Nabire.”

Berita yang dimuat nabire.net ini bisa dikatakan benar, jika kehilangan kendali,sebab posisi korban dalam pengejaran tanpa sebab dan akibat yang jelas. Jika polisi mengejar korban karena tidak memakai helm, ini keliruSebab, kejadiaan ini berlangsung sore hari (orang bebas beraktivitas). Jika dikatakan ada swiping, ini juga jadi pertanyaan, “Masa sudah sore baru swiping. Ada apa di balik ini semua?

Jika korban dikatakan kehilangan kendali saat mengendarai motorsangat benar dan jelasSebab, korban saat itu sedang dikejar polisi. Jika korbandikatakan jatuh atau menabrak tembok Tugu Roket, ini keliruSebab, dalam foto, tidak ada luka goresan bekas jatuh atau tabrakan di tubuh korban. Hanya ada satu luka bolong di kepal(dekat alis mata sebelah kanan) korban. Luka bolong tersebut semacam sebuah batu atau timah panas yang masuk dalam kepala korban.

Saksi Mata 2

Sekitar pukul 16.50 WP, korban melewati depan SMP YPPK Antonius atau depan SMA Adhi Luhur menuju Oyehe. Korban dikejar polisi yangmenggunakan tiga (3) buah motor dan 1 (satu) Dalmas Porlesta Nabire.

Seketika tiba di depan Tugu Roket, korban ditembak oleh satuan militer yang sudah stand by di TKP. Penembakan ini diduga dilakukan diri tiga titik. Titik-titikyang dicurigakan adalah di depan Kantor Telkom, sekitar Tugu Roket, dandalam mobil Dalmas Milik Porles Nabire.

Penembakan ini merupakan satu motif yang dilakukan kaki-tangan kolonialIndonesia, aparat keamanan yang bertugas di Papuakhususnya di Nabire. Ini motif pembunuhan versi militer berstrategi targetan (sudah diatur dalam suatu kelompok, yakni kelompok militer itu sendiri).

Berdasarkan situasi yang berkembang di Nabire, militer sering menggunakan mobil dalmas dan motor memantau Kota Nabire. Dari cara memantau, mereka sering melakukan intimidasi dan pengejaran, serta penangkapan terhadapwargaapalagi warga yang memakai busana (Noken, gelang, dan pakaian) berbau Bendera Bintang Kejora dan berambut gimbal.

Selain itu“mabuk berarti dtembak di tempat” oleh militer yang bertugas diNabire ini keliru. Beberapa kejadian yang terjadi terhadap rakyat Papua diNabire itu dalam kondisi normal (tidak miras)Ini adalah kenyataan yang dilakukan militer Indonesia di Nabire. Salah satu buktinya adalah penembahanterhadap Owen Pekei ini.

Orang yang melakukan tindakan, tidak mungkin akan mengakui perbuatannya.Oleh karena itu, kami meminta untuk advokasi dilakukan secara benar-benar. Mohon advokasi dari internasional. Indonesia adalah penjajahpenjajah yangtidak akan pernah mengakui perbuatan mereka.

Pertanyaan:

(1). Jika korban (Owen Pekei) kehilangan kendali saat berkendara lalu jatuh tertikam di aspal, kenapa tidak ada luka gores di sekucur tubuh korban. Tetapi, yang ada hanya luka berlubang pada kepala (dekat alis mata sebelah kanan)?
(2). Dari keluarga korban mengatakan, Owen Pekei adalah anak yang tidak suka dengan kekacauanOwen Pekei adalah anak yang baikPekerjaan sehari-harinya sekolah, gereja, dan rumah. Jika mengendarai motor, dia tidak selalu balap atau tidak selalu mengendarai dengan kecepatan tinggi. Kenapa sampaikorban bisa kehilangan kendali karena motornya dalam kecepatan? Berarti ada peksaan atau pengejaran!
(3). Ketika kejadian, polisi sudah berada lebih dahulu tidak lewat dari 10 menit. Kedatangan polisi juga (dari belakang) satu dalmas dan satu pick up yang ditumpangi brimob di waktu yang bersamaan?
(4). Kenapa saat polisi membawa korban ke RSUD Siriwini tanpa melakukan pemeriksaan lebih dahulu? Kenapa polisi langsung membawa dan membaringkan korban di ruang mayat?

Catatan: Pelaku adalah militer. Awalnya disebabkan karena polisi mengejar korban, maka polisi dan militer yang ada di Nabire harus bertanggung jawab!

Foto-Foto

0 komentar:

Posting Komentar

Diberdayakan oleh Blogger.