Mahasiswa Dan Minuman Keras - WENAS KOBOGAU

WENAS KOBOGAU

Percikan Bunga Api Untuk West Papua

Header Ads

test banner

Breaking

Home Top Ad

Responsive Ads Here

Post Top Ad

Responsive Ads Here

Rabu, 29 Juni 2016

Mahasiswa Dan Minuman Keras

Ilustrasi Mahasiswa Yang Mabuk(Foto Ilustrasi/WK)
Oleh :Bustamin Tato#

Dalam lingkungan kampus yang memiliki beragam pergaulan, mulai dari mahasiswa berprofesi sebagai akademisi yang taunya cuman kuliah saja, ada yang berprofesi sebagai aktivis sosial, ada yang menjadi preman kampus yang sukanya minum-minum dan lain sebagainya. 

Dalam dunia kampus yang memiliki beragam macam gaya hidup mahasiswa sangat besar dipengaruhi oleh lingkungan luar kampus yang berada disekitar mereka, dan kebiasaan lama yang terbawa masuk kedalam dunia kampus, seperti kebiasaan minum-minuman keras dan sebagainya. Hal ini tak bisa kita pungkiri, dengan memiliki landasan pemikiran untuk melihat lika-liku gaya mahasiswa baik itu berada dalam kampus maupun luar kampus, kita bisa membaca, kenapa mahasiswa melakukan hal demikian.? 


Dalam menganalisa situasi masyarakat, terutama kalangan mahasiswa, sesuai dengan pepata yang mengatakan “alabiasa karena biasa” sesuatu prilaku yang terus berulang kita lakukan akan menjadi biasa dan begitu susah untuk ditinggalkan. Dengan demikian para dosen atau pembimbing dalam bidang kemahasiswaan (PD III) yang mengurusi mahasiswa tidak begitu berperan aktif dalam menangani mahasiswa seperti ini karena mahasiswabseperti peminum minuman keras dipelihara para biriokrasi kampus sebaikan keamanan stabilitas kampus “mahasiswa menjadi anjing birokrasi”, watak kemahasiswaan sudah mulai menghilang dan dianggap sebagai penjaga atau anjing penjaga saja. 

Minum-minum anggur

Dalam lingkungan kampus terdapat mahasiswa yang sukanya minum-minuman keras, apakah ini harus dilarang oleh dosen ataukah membiarkan mahasiswa melakukan hal demikian..? pertanyaan ini harus kita jawab secara penuh dengan analisa yang sangat tajam dan dapat dipertahankan kebenarannya secara ilmiah dan ideal. 

Didalam prilaku kebiasaan mahasiswa seperti minum-minuman keras tak bisa kita elakkan keberadaannya dalam lingkungan kampus, minum-minuman keras sudah menjadi trend dalam pikiran kebanyakan mahasiswa sebagai prilaku yang sangat pemberani dan memiliki kebebasan yang tiada batas. Sungguh suatu pemikiran yang sangat konyol, saya menagatakan hal ini bukan berarti saya menolak mahasiswa yang lagi berbahagia jika minum-minuman keras, tetapi dalam pemandangan yang konyol yang mengatakan jika mahasiswa laki-laki tak minum dianggapnya sebagai putri keraton yang tidak berdaya sama sekali, ini suatu pemikiran yang konyol dan tidak pantas seorang mahasiswa yang katanya seorang inteletual mengeluarkan kata seperti itu, jika kita menganalisa lebih jauh yang mana banci dan yang dianggap sebagai lelaki sejati..?? tentu kita akan menjawab dengan singkat bahwa lelaki sejati adalah jika mereka mampu melakukan hal yang semestinya dilakukan oleh seorang yang memliki profesi, apakah dia mahasiswa atau diluar mahasiswa, dan tak ada seorangpun di muka bumi yang menolak hal demikian.

Kritikan terhadap mahasiwa yang menganggap dirinya sebagai lelaki sejati ketika meminum-minuman keras harus diteriakkan ketelinga mereka, karena dalam sejarah lahirnya minuman yang beralkohol sangat tidak sesuai dengan pemahaman mahasiswa kebayakan tentang hal itu. Mahasiswa yang senag minum-minuman keras itu bukan dari dalam hati yang paling dalam untuk melakukan hal yang bisa merusak tubuhnya, tetapi mereka melakukan hal demikian karena lingkungan disekitar mereka, apakah mereka seorang aktivis, ataupun yang lainnya.

Seorang mahasiswa pemamuk

Saya ada pengalaman sedikit tentang mahasiswa yang gemar melakukan pesta kecil-kecilan (peminum-peminum klas bebek), mengapa saya mengatakn peminum-peminum minuman keras klas bebek karena melihat mereka yang hanya minum satu botol saja sudah membanggakan diri sebagai seorang yang paling jago sebagai laki-laki, sebagai mahasiswa yang berani meskipun kalau mereka minum dengan cara sembunyi-sembunyi. Ha..ha…ha…!!! Sungguh suatu sikap yang tak mencerminkan watak inteletual.

Dan mari mengarkan dan segera membaca bagaimana ceritaku selanjutnya tentang mahasiswa pemamuk minum-minuman keras. Cerita yang tak penting tapi harus dibaca. Ketika itu, waktu aku sedang sibuk mengerjakan tugas KKP (kuliah kerja profesi) sebagai tugas akhir dari kerja kuliahku, dan malam ketika kami mengerjakan pekerja KKP kami, aku dan beberapa rekan-rekan seangkatanku “05” lagi asyik berpesta minuman dengan hanya satu botol minuman keras dan satu botol minuman beralkohol sekelas coca-cola,panta,suprite, dan lain-lain, sebagai campuran minuman itu. 

Posisiku pada malam itu tak begitu merespon rekan-rekan saya yang ingin minum-minum anggur, karena aku tak merespon permintaan mereka untuk minum bersama-sama, rekan-rekanku mengatakan kepadaku. 

“kok..ngak minum, cemen jadi mahasiswa, punya rambut gondrong tapi tak minum, berambut gondrong itu berat tanggungjawabnya, itu kata rekan-rekanku.

Yang aku ingin garis bawahi daiatas adalah kata “berambut gondrong itu berat tanggungjawabnya”. Dalam pikiran aku bertanya-tanya kok..! berambut gondrong itu harus di pertanggung jawabkan dengan meminum-minuman keras..?? apakah ini kata seorang pemabuk, ataukah kata seorang yang masih waras.?? Kalau ini benar-benar kata seorang yang lagi mabuk, itu dimaklumi, tetapi jika ini kata keluar dari seorang yang masih sadar dan belum terperangkap oleh alkohol, wah aku akan mengatakan orang itu sangat bodoh dan hanya menghasilkan pemikiran bodoh dan tak bisa berfikir selayaknya manusia berfikir (binatang). 

Bertanggung jawab sebagai seorang yang senang berampbut gondrong dengan aflikasi tanggung jawabnya harus minum-minuman keras, sangat diluar pemikiran orang yang waras, apakah dengan bermbut gondrong itu harus minum-minuman keras..? 

Dan waktu itu, rambutku lagi gondrong saya akan mempertahankan rambut gondrongku dengan persfektif lain dan berbeda dengan pegertian gondrong menurut rekan-rekanku itu. Jika kita merujuk pada kebebasan berpendapat atau berkreasi aku bisa menghargai ppenafsiran mereka tentang gondrong, tetapi dengan penjelasan yang ilmiah dan masuk akal bukan sekedar bicara yang hasilnya hanya omong kosong, kalau orang dikampunku mengatakan “bicara anak-anak”. Tetapi pada waktu itu aku hanya cuman terdiam karena aku melihat kondisi untuk berdiskusi dengan mereka bukan waktu yang tepat. Meskipun mereka sadar belum tentu juga mereka akan menjelaskan kepada saya secara ilmiah karena watak mereka bukan watak intelektual yang katanya bisa berbicara ilmiah. Meskipun dengan berkata dengan perasaan mereka yang paling dalam, tetapi itu cuman perasan dan tak cukup menjelaskan kepada saya tentang keasyikan minum-minuman keras dan berambut gondrong itu harus minum. 

Rambut Gondrong Harus Minuman-Minuman Keras

Berambut gondrong dalam historinya hampir semua manusia di muka bumi ini itu gondrong ketika manusia belum mengenal yang namanya alat pangkas rambut dan mengenal gaya hidup yang baik secara moralis. Rambut gondrong dengan minuman keras tak pernah memiliki histori yang menggambarkan seorang manusia gondrong itu harus minum, yang ada dalam history adalah ketika cuaca dingin dan perasaan yang lagi prustasi dan ingin menenangkan dirinya terpaksa harus meminum-minuman keras sebagai pelarian yang sangat ampuh. Nah jika kita melihat rambut gondrong dengan minuman-minuman keras itu sangat A Historis, karena tak ada didapat dalam sejarah perkembangan manusia berambut gondrong itu harus gemar meminum-minuman keras. Trend sekarang yang di tafsirkan bayak orang, bahkan para ustadz, dan beberapa oknum pemuka agama, yang menafsirkan bahwa orang yang berambut panjang itu adalah orang yang tidak punya pendidikan, orang jahat, dan segala sikap buruk di peruntuhkan untuk orang yang beramput gondrong. Sungguh hegemoni yang tidak mencerdaskan pemikiran paradigma baru. Sungguh pemikiran yang sangat konyol. Dalam agama apapun tak ada satu ayat atau wahyu yang mengatakan bahwa orang yang berambut panjang itu adalah orang yang mengerjakan ketidakmanusiaan. Kita mungkin bertanya-tanya, kalo memang berambut itu tidak baik..?? apakah para Nabi dan Rasul tidak berambut gondrong.. jika mereka berambut gondrong pasti semua agama yang mereka bawa itu juga tidak benar adanya karena disebarkan oleh orang-orang yang gondrong yang tidak punya pendidikan, tidak beretika dan berestetika..pemabuk, pemerkosa..dll. 

Sungguh celaka kita mengikuti ajaran mereka yang di agung-agungkan ternyata pembawa mala petaka, geri..sungguh saya tak menduga semua ini. Jika memang benar penafsiran mereka maka sayalah yang pertama sekali mengatakan bahwa para nabi-nabi sebelumnya sampai nabi terkhir itu adalah pembawa mala petaka dan mari kita berbondong-bondong untuk tidak mengikuti ajarannya..huiii…bebas…free…!!!!! 



Penulis adalah Anggota : front mahasiswa demokratik “FMD” makassar 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Post Bottom Ad

Responsive Ads Here

Laman