Hot!

Seakan Kami Orang Asli Papua Bukan Manusia Tetapi Binanting

Seakan semua kamera tak mempunyai lensa,Semua televisi (TV) tak mempunyai siaran,Semua orang buta mata dan buta hati,Untuk melihat dan merasakan semua kenyataan pahit yang terjadi ini.

Kini tulang belulang putih bertebaran di seluruh pelosok surga nyata,Papua yang kini menjadi surga bagi penjajah,Teralas dengan darah pemilik negeri leluhur,Tiang-tiang peluruh berdiri kokoh,Menanti kedatangan sang pemilik surga.

Seakan nyawaku menjadi milikmu,Kapan dan di mana saja, engkau selalu bertindak atas nyawaku,Di negara ini, kejujuran, keadilan serta kebenaran menjadi hal sangat mahal,Selalu menjadi rumit untuk pelaku menangkap pelaku,Karena pelaku dan penyelidik itu satu warna jubah.

Untukmu sang pengaborsi nyawa, kami mau hidup 1000 tahun lagi,Kami mau hidup bebas di atas negerinya kami sendiri,Tanpa kehadiranmu dan niatmu.

Engkau sudah cukup lama hadir dalam hidupku,Kehadiranmu sudah menjadi sejarah serius,Kami kenang dari dahulu, sekarang dan nanti,Akan dikenang juga oleh pangeran-pangeran penerus pemilik negeri,Bahkan di surga pun, kami tetap akan menceritakan hal itu.

Sakit memang sakit, sakit tanpa luka, jika dikenang,Melihat dan membuka lembaran lama dan baru,Yang kini terus-menerus engkau sengajaciptakan,Tanpa memandang dan mengenal batas waktu.

Di manakah Tuhan-mu, wahai pencabut nyawa?

Di surga, sedikit lahan hektar pun engkau tidak punya.Jangan persalahkan Tuhan Allah-ku, pemilik Bangsa Papua Barat.

Emiliano Kejora Yumte

0 komentar:

Posting Komentar

Diberdayakan oleh Blogger.