Melangkah, Diiringi Duka - WENAS KOBOGAU

WENAS KOBOGAU

Percikan Bunga Api Untuk West Papua

test banner

Breaking

Post Top Ad

Responsive Ads Here

Post Top Ad

Responsive Ads Here

Sabtu, 09 Juli 2016

Melangkah, Diiringi Duka

Jackson Wiyapai Ikomou (Foto/ Dok
Pribadi)
Jackson Wiyapai Ikomou

Jalan yang ku lalu dr bulan kemarin hingga minggu kemarin banyak duri. DUKA seakan duri yang hampir melumpukan langka yang ku melangkah. Kehilangan figur2 yang "hebat" dalam pergumulan hidup saya.

Tak ku bayangkan misteri yang menimpa bating saya .

Jujur, Tak ada solusi utk membendung duka. Ku rasa hidup ini tak berarti bagi pribadi saya, jika menjalani hidup ini tanpa sosok2 yang telah kehilangan nyawa terseleksi Nama2 para pendahulu akan dikenan sepanjang hidup saya.

Pada bulan Mei lalu. Za ada mimpi buruk akhirnya jadi kenyataan.

2016, tahun rasa sakit, sedang ku jalani. Namun, Tuhan Allah Bangsa PAPUA memberikan kekuatan . Ini dinamika kehidupan yg harus ditanggung tiap insan manusia.

"Ada waktunya lahir, juga ada waktu meningga". Ini kenyataan yang sudah melekat pada setiap manusia sejak manusia pertama jatuh ke dalam Dosa.

Walau demikian, tetap saja, saya seakan dalam warning yang mengenaskan. Usaha yang sdng ku juangkan tak ada arti tetapi bagi orang lain itu peluang yang mesti di usahakan.

Pasar mama Papua di Holandia menjadi tempat mengobati luka bating. Saat za ke datamg ngopi seakan hidup bebas dari penjara bating yang ku rasa ketika keluar dari lingkungan Pasar Mama Papua.
Hanya satu hal merasa pahit, adalah Pembunuhan terhadap Aktifis Solpa, Tn. ALM.ROJIT.

Sebuah spanduk yang terpampang dalam pasar itu, Foto Tuan Rojit, ketika za lihat fotonya tangisan guyur di pipiku.

Sementara itu, tak ada konsumen datang membeli jualan Mama PAPUA.

Diriku bertanya,"Apakah, pembeli su benuh habis oleh aparat yang sering menjadi anjing2 Asing ataukah , pembeli tak mau membeli hasil jualan Mama PAPUA ?

Salah satu mama Papua, mengatakan , Aneh sekali Ini pejabat yang tra biasa membeli jualan kami. Mereka mau beli di Moll.

Mama Papua berharap, Utk kedepan Ibu2 Pejabat bisa beli jualan kami. Agar omsed meningkat.

Lanjutnya, penghasilan yg kami peroleh utk menyekolahkan anak2 kami.

Ulasan Tentang Alm. Rojid dan kata2 Mama Papua ini, "Sungguh saya terganggu. Di kesempatan itu, padahal saya cari ketenangan ketika sangat sejumlah nyawa yang meninggal dunia dan korban pembunuhan.

Papua mencekam soal pembunuhan terhadap orang Asli Papua yg tak bersalah. Selain itu, adapula pembunuhan sistematik terus masih berkelanjutan.

DI seluruh Daerah Kabupaten di Paniai operasi intelijen meningkat. Tak ada aktifitas hidup bagi org Papua.

"Saya yakin, situasi Ini bisa di redamkan ketika orang Papua hidup di Rumah sendiri tanpa intervensi pihak lain.

DUKA trus bertubi-tuni. Seakan Tikus Mati diatas lumbung padi. Inilah dinamika hidup Orang Papua. Namun, generasi Papua menjadi penentu hidup yang jahu lebih baik.

Walaupun ku nikmati hidup namun ku rasa hidup ku masih dalam penjarah kolonial.

Kehilangan Orang2 Hebat dalam hidup saya adalah sebuah misteri yang membunuh psikologis saya. Saya tak biasa menganggap soal biasa tapi ini dinamika yang akan saya kenang dari kkehidupan pribadi.

Kita hari minggu Upayakan Berlari. #JI

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Post Top Ad

Responsive Ads Here