Pemabuk Telah Menjadi Budaya Orang Papua dan Ideologi Bangsa Papua - WENAS KOBOGAU

WENAS KOBOGAU

Percikan Bunga Api Untuk West Papua

Header Ads

test banner

Breaking

Home Top Ad

Responsive Ads Here

Post Top Ad

Responsive Ads Here

Kamis, 28 Juli 2016

Pemabuk Telah Menjadi Budaya Orang Papua dan Ideologi Bangsa Papua

Ilustrasi 
PEMABUKAN TELAH MENJADI "BUDAYA" ORANG ASLI PAPUA? ALKOHOLISME TELAH MENJADI "IDEOLOGI" BANGSA PAPUA?
Hampir setiap malam sekelompok orang asli Papua yang rata-rata berusia 14 tahun sampai 30 tahun selalu duduk di pinggir jalan di komplek rumah saya dan mengkonsumi minuman keras secara beramai-ramai. Sambil menikmatinya, mereka gemar memutar musik dengan setelan volume yang sangat keras, berteriak-teriak, sampai kadang terlibat perkelahian. Sejumlah orang asli Papua yang saya kenal, hampir setiap saat mengkonsumsi minuman keras, walaupun beberapa diantaranya telah perpendidikan tinggi (sarjana, magister, dan doktor), berporesi sebagai pendeta, dan berprofesi sebagai pendidik (guru dan dosen). Hampir setiap saat, di tempat manapun di Papua, sering saya menjumpai orang asli Papua yang tertidur lelap dalam keadaan mabuk di jalan raya, emper toko, pasar, dan serambi rumah.

Ada apa dengan orang asli Papua berkaitan dengan minuman keras? Sejumlah orang mengatakan bahwa hal itu akibat “pengaruh luar”. Ada sejumlah orang mengatakan bahwa hal itu merupakan ekspresi “sakit hati” orang asli Papua terhadap kondisi hidupnya yang memprihatinkan. Ada sejumlah orang mengatakan hal itu merupakan “bentuk penjajahan” secara sengaja terhadap orang asli Papua. Ada sejumlah orang mengatakan bahwa hal itu merupakan “kesalahan” orang asli Papua sendiri. Dan tentu saja masih banyak alasan lainnya. Tetapi satu hal yang pasti adalah “Pemabukan telah menjadi budaya orang asli Papua”, “Alkoholisme telah menjadi ideologi bangsa Papua”, karena hal itu dipraktekkan terus-menerus secara sadar dan hal itu telah menjadi impian hampir semua orang asli Papua. Barangkali istilah ini membuat orang asli Papua tersinggung dan marah, tetapi kenyatannya memang seperti itu.

Kalau orang asli Papua hendak menyalah orang lain berkaitan dengan “budaya pemabukan” dan “ideologi alkoholisme” ini, maka beberapa pertanyaannya adalah: siapa suruh mabuk? siapa yang membiayai mabuk? apakah orang lain yang disalahkan itulah yang mabuk? Tidak ada orang lain yang menyuruh, memohon dan memaksa orang asli Papua untuk mabuk. Orang asli Papua mabuk dengan kesadarannya sendiri. Tidak ada orang lain yang membiayai mabuk. Orang asli Papua mabuk dengan biayanya sendiri. Bukan orang lain yang disalahkan itulah yang mabuk. Orang asli Papua yang mengalahkan orang lain itulah yang mabuk.

Tentu saja benar bahwa minuman keras kebanyakan disediakan di Papua untuk kepentingan ekonomi dan bermotif politik. Tetapi penyediaan minuman keras tersebut tidak mungkin dilakukan jika tidak ada konsumennya. Dari segi bisnis, orang asli Papua yang “rakus” dan “mengimpikan” minuman keras adalah pasar yang sangat potensial. Peluang itulah yang dimanfaatkan oleh para pedadang (pemasok) minuman keras. Sudah seperti itu, dari segi politik tentu saja orang asli Papua sangat gampang untuk dihancurkan dan/atau dimusnahkan dengan “senjata” minuman keras. Maka lengkaplah sudah penderitaan orang asli Papua. Lengkaplah sudah kebodohan orang asli Papua.

Apakah orang asli Papua akan menyadari kebodohannya ini? Saya sangat ragu, karena orang asli Papua yang berprofesi sebagai pendeta saja mabuk, orang asli Papua yang berpendidikan tinggi (sarjana, magister, dan doktor) saja mabuk, orang asli Papua yang guru dan dosen saja mabuk, orang asli Papua yang masih kanak-kanak dan remaja saja mabuk, dan kaum perempuan saja mabuk. Padahal kelompok yang saya sebutkan ini seharusnya menjadi “teladan kebaikan”. Jika mereka saja justru menjadi “teladan keburukan”, lalu siapa yang akan mendidikan dan menyadarkan orang asli Papua dari kebodohan “budaya pemabukan” dan “ideologi alkololisme” ini? Orang asli Papua sudah hancur. Bangsa Papua sudah hancur.

Penulis Dumupa Odiyaipai 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Post Bottom Ad

Responsive Ads Here

Laman