Hot!

Serenada Langit Merah

Langit merah di atas Timika. Selestinus, perjaka tugur dengan bahu rata; bangun dari makam suku dan pergi dari sunyi hutan sagu. Bundanya hamparan tanah; beri ia perawan molek, hitam tanpa beha. Engkaukah, Selestinus itu? Puing beteng di timur matahari dengan tombak dekat ke bahu dan kapak pahat dari batu
Ya, o ya, aku Tinus dari makam suku, karah bulan dan renjana biru Dengan mata kejora hilirkan kali, terdampar di bumi Jawa ini.
langit merah di atas Timika. Memayung perawan molek bumi Papua bertahun-tahun Ia diperkosa. Mulut susunya dihisap, mulut matanya dihisap; dihisap pula mulut-mulut lainnya. Selestinus, mulutnya sakit, memerah saga warna matanya, memerah pula kulit tifanya. Maka dicambukinya dengan dendam patah-patah
Ya, o ya, aku Tinus Separatus. Bapakku mati sebab dikebiri Dikuliti hitamnya di zona tambang Tembagapura.
langit merah di atas Timika. Selestinus hilang masuk barisan dengar genderang makin bertalu. Ia datang mengepung kota pelan-pelan mulutnya bertahun membisu dan Jakarta yang buram terpeta di benakmu. Selestinus Separatus hitam kulitnya menembus malam dengan tombak dekat bahu dan menghitam kapak pahat dari batu.
- Semarang, 2000.

0 komentar:

Posting Komentar

Diberdayakan oleh Blogger.