Tujuh Bintang - WENAS KOBOGAU

WENAS KOBOGAU

Percikan Bunga Api Untuk West Papua

Header Ads

test banner

Breaking

Home Top Ad

Responsive Ads Here

Post Top Ad

Responsive Ads Here

Selasa, 26 Juli 2016

Tujuh Bintang

AMP (Foto/SD)
Puisi untuk mu kawan tujuh Bintang! Selamat menjadi dewasa dalam 18 Tahun ini, 27 Juli 1998 - 27 Juli 2016.
------------------------------------------------------------
TUJUH BINTANG

Kala itu, tangisan anak negri
Wasior Berdarah,
Kala itu, teriakan tangis anak negri
Biak Berdarah,
Kala itu, tetesan tangis anak negri
Wamena Berdarah,
D A R A H...
Sejarah duka dan identitas menjadi nadi langkah,
P A P U A berdarah...
Darah flora, fauna, marga satwa,
Darah ekosistem bumi Papua,
Sirnah, musnah diterpa badai,
Badai penjajahan, badai imperialisme,
Musnah sudah, dibawa arus limbah,
Pemilik dijadikan hewan perburuan,
Laras hitam dan amunisi emas, P A P U A duka,
Oh sahabat alam, sang pencipta,
Hari ini, Mama memanggil mu,
Wahai pemilik negri,
Tanah pertanian hilang, laut menjadi asing,
Perahu diterpa badai laut ganas,
Suara hati hilang dalam gelapnya kursi empukh,
Maha dari Siswa, mana kepalan tangan mu,
Aroma kepunahan selalu menjadi nafas kami,
Sudah saatnya kami hentikan,
Jangan ada lagi melahirkan untuk dibunuh,
Penjahat itu penguasa pengendali sistem yang menindas,
Mereka penjajah,
Penjahat itu kaum asing perampok bumi Papua,
Dan gacok penjahat pemakai laras,
Pemakai amunisi emas, memandikan darah pemilik negri.
Sudah saatnya kita akhiri,
Hari ini, di sini dan kita lah yang harus akhiri kawan,
Satu komando, satu tujuan, satu untuk semua,
Hanya ada satu, kita satu kawan,
Mari! Bersama kita katakan,
Hanya ada satu kata untuk para penjahat,
L A W A N.
Kibarkan tujuh bintang mu, kawan
Sudah dewasa dalam 18 tahun ini, mari! Akhiri.


Tanah Air, 27 Juli 2016.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Post Bottom Ad

Responsive Ads Here

Laman