Hot!

Kronologi Kekerasan Polisi Terhadap Mahasiswa Papua di Yogyakarta

Terlihat luka di wajah bagian bibir dalam, foto saat korban di RS. Hidayatula, Yogyakarta, 03/08/2016.
Selasa, (03/08), Naomi Aim (17), perempuan asal Merauke, Papua, yang berencana menghadiri acara pertemuan Gubernur Papua dengan pelajar Papua di asrama Kamasan I, Yogyakarta, menerima perlakuan kasar dari polisi. Dari Naomi, berikut kronologi kejadiannya yang dapat dihimpun oleh EKSPRESI.
Pukul 10.30 dari Stadion Maguwoharjo, Naomi menuju asrama Kamasan I. Sesampainya di sekitar Kebun Binatang Gembira Loka, ia dihadang polisi yang sedang melakukan razia. Polisi menghadang Naomi secara mendadak. “Saya ngerem tiba-tiba, saya jatuh, helm saya lepas dan saya terguling,” kata Naomi.
Dikatakan oleh Naomi, bukannya menolong, polisi malah menendang muka dan menginjak tangannya. “Ada yang menendang saya tepat di bibir,” katanya. Alhasil, bibir bagian atas Naomi robek dan tangan kirinya luka. Selain itu, Naomi juga dituduh tidak menggunakan helm saat mengendarai motor. Padahal, helmnya terjatuh ketika Naomi dihadang secara tiba-tiba oleh polisi. Menurut Naomi, ada lima anggota kepolisian yang telah melakukan kekerasan kepadanya saat melakukan razia, salah satunya bernama Anto.
Pukul 11.00 Polisi dan Naomi saling beradu pendapat. Polisi menjambak Naomi dan memakinya sebagai wanita “banyak tingkah”. Naomi mengatakan bahwa motornya ditahan sebab tak ada kelengkapan surat bermotor. “Surat-surat motor, saya tinggal di kost, biar aman,” tuturnya. Naomi sempat meminta pihak polisi mengantarnya ke asrama Kamasan I. Namun, polisi menolak dan mengatakan agar Naomi naik kendaraan umum.
Pukul 11.30 Naomi terpaksa berjalan kaki menuju Kamasan karena sedang tidak membawa uang. Tak berselang lama, Naomi menumpang pada mobil pick-up dan berhenti di lampu merah, lalu berjalan kaki sampai asrama Kamasan I.
Pukul 12.00 Naomi sudah sampai di Kamasan. Mendapati Naomi terluka, teman-teman Naomi segera melarikannya ke rumah sakit untuk mengobati lukanya.
Sampai kronologi ini dimuat, EKSPRESI telah menghubungi Polda DIY terkait tindakan kekerasan anggota kepolisian tersebut. AKBP (Ajun Komsaris Besar Polisi) Anny Pudjiastuti selaku Kabid Humas Polda DIY, saat kali pertama dihubungi, mengaku belum mengetahui kejadian tersebut. Ketika dihubungi untuk kali kedua, Anny menyatakan itu tidak benar.
Terkait pernyataan Anny, Biro Politik AMP (Aliansi Mahasiswa Papua), Roy Karoba, mengatakan, apa yang dikatakan Kabid Humas Polda DIY itu merupakan bentuk pembelaan diri atas perbuatan mereka. “Di lapangan jelas-jelas mereka bertindak secara brutal.” Roy menambahkan, Kabid Humas Polda DIY jangan asal mengeluarkan pernyataan tanpa melihat kondisi di lapangan. “Institusi kepolisian semestinya melindungi dan mengayomi, bukan justru bertindak diskriminatif dan rasis terhadap mahasiswa Papua,” tegasnya.

0 komentar:

Posting Komentar

Diberdayakan oleh Blogger.