Transmigrasi Indonesia Menguasai Tanah Papua Barat - WENAS KOBOGAU

WENAS KOBOGAU

Percikan Bunga Api Untuk West Papua

Header Ads

test banner

Breaking

Home Top Ad

Responsive Ads Here

Post Top Ad

Responsive Ads Here

Rabu, 03 Agustus 2016

Transmigrasi Indonesia Menguasai Tanah Papua Barat

Ilustrasi Transmigrasi Ke Papua Dari Indonesia (Foto/Google/WK)
VICTOR YEIMO.

Setiap kapal putih masuk Papua bagian utara memuntahkan 2.000 an pendatang dr Jawa, Bali, Sulawesi, Sumatera, Kalimantan, Ambon, Maluku. 3 kali seminggu kapal yang masuk berarti 6000 an. Kalau pesawat udara rata-rata 300 an penumpang pendatang sekali mendarat, dikali 10 (bahkan lebih) pendaratan berarti 3000 sehari, dan 21.000 seminggu. Artinya, dalam seminggi saja, migrasi penduduk luar ke Papua berkisar 27.000 (21.000+6000). Itu estimasi kasar, belum termasuk yang datang dengan kapal veri atau yang lewat laut selatan.

Angka kematian orang Papua, di Wilayah adat Tabi saja berkisar 10 orang perhari (terbunuh atau mati karena peyakit), dikali tujuh wilayah adat berarti 70 orang sehari, seminggu 490 atau rata-rata 500 orang Papua mati. Angka kelahiran justru lambat, juga karena m angka kematian ibu dan anak yang paling tinggi di Papua.

Legitimasi publik di Papua ada di tangan orang pendatang saat ini. Artinya setelah "otsus pincang" berakhir 2025, jabatan publik (gubernur, bupati, camat atau dprp/dprd) akan diambil alih para pendatang. Artinya, riwayat orang Papua yang hari ini malas tahu dengan perjuangan Papua Merdeka, dan tunduk jadi budak penjajah akan berakhir dengan cerita nostalgia semu. Artinya, apa pun usaha kita menjadi pelayan kolonial, sama sekali tidak berguna bagi masa depan Papua dan orang Papua kalau hari ini tidak pikir, apalagi berkontribusi bagi perjuangan Papua Merdeka.

Artinya, keselamatan orang Papua saat ini bukan berada pada seberapa banyak kekayaan yang harus dikumpulkan, atau seberapa tinggi pengetahuan yang dicari. Keselamatan orang Papua berada pada keputusan orang Papua untuk sadar, bersatu dan berjuang untuk Papua Merdeka, yakni berdaulat sebagai sebuah bangsa dan negara. Bukan nanti, karena kalau nanti kita sudah habis. Waktunya sekarang! Bergerak bersatu dan lawan!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Post Bottom Ad

Responsive Ads Here

Laman