September Hitam! - WENAS KOBOGAU

WENAS KOBOGAU

Percikan Bunga Api Untuk West Papua

test banner

Breaking

Post Top Ad

Responsive Ads Here

Post Top Ad

Responsive Ads Here

Minggu, 11 September 2016

September Hitam!


Oleh : Malik Feri Kusuma

"September Hitam!"

Hakikat hukum adalah penghormatan terhadap HAM. Pemerintah mengakui dan mengkampanyekan slogan penegakan hukum, the rule of law, tapi melupakan esensi dan substansi penegakkan hukum itu sendiri, yaitu penghormatan kepada HAM. Sehingga hukum tidak memberikan perlindungan kepada rakyat dan hanya memberikan pengayoman kepada kelompok elite kekuasaan dan para kroninya, serta kelas sosial yang berpunya, yang bisa membeli hukum.

Pelanggaran HAM lazim terjadi, baik dalam dimensi hak sipil politik maupun ekonomi sosial budaya. Dan pelanggaran HAM bukan hanya terjadi pada peristiwa demi peristiwa, tetapi juga absennya negara dalam penyelesaiannnya atau pemenuhan hak-hak para korban.

September! Dikenang oleh korban dan aktivis HAM sebagai "September Hitam". Saya ingin membuka memori. Memori yang diselimuti dengan sejumlah peristiwa, dan semua peristiwa itu masih "gelap".‎

Pada 7 September (7 Sept 2004), Munir, sosok yang kenal sangat vokal dan berani membongkar kejahatan pejabat negara, dibunuh dengan cara diracun dalam pesawat. Pembunuhan Munir adalah konspirasi tingkat tinggi. Tapi hanya Pollycarpus yang ditangkap dan diproses hukum, itu pun akhirnya dibebaskan. Sementara para terduga yang lain tidak tersentuh hukum. TPF (Tim Pencari Fakta) menemukan indikasi keterlibatan pelaku yang lain. ‎Tapi Presiden tidak pernah mengumumkan temuan TPF, sehingga misteris ini belum terkuak.

Di Aceh! Kita tahu terjadi berbagai pelanggaran HAM sepanjang konflik berlangsung disana. Pada 11 September 1999 terjadi penembakan terhadap warga didepan Mapolres Aceh Selatan. Sampai sekarang kasus ini masih "gelap".

‎Di Jakarta Utara, tidak jauh dari pelabuhan Tanjung Priok. Pada 12 September 1984, penyerangan terhadap warga di Tanjung Priok. Ratusan orang menjadi korban. Pengadilan HAM adhoc, pernah digelar-tetapi para pelaku banyak yang dibebaskan.

Di pusat kota Jakarta, pada 24 September 1999, terjadi peristiwa Semanggi II. Sampai sekarang kasus ini tidak sampai ke Pengadilan HAM adhoc. Laporan penyelidikan Komnas HAM dibiarkan begitu saja oleh Kejaksaan Agung.

Jika dihitung pakai angka, maka peristiwa 30 September 1965, merupakan peristiwa dengan jumlah korban terbanyak. Ribuan atau bahkan jutaan orang menjadi korban dalam peristiwa ini. Hingga saat ini mereka masih diperlakukan secara kejam dengan berbagai macam larangan dan stigma.

Sebuah pesan bijak mengatakan "masa lalu tidak boleh dilupakan, kendati boleh dimaafkan." Kita harus belajar dari sejarah masa lalu, termasuk berbagai peristiwa yang merupakan tragedy kemanusiaan untuk dijadikan sebagai guru terbaik guna menyelamatkan bangsa di masa depan.

September Hitam untuk merawat ingatan, mengutuk kezaliman, mencintai kemanusiaan dan mengawal masa depan yang lebih manusiawi. Semoga habis gelap, terbitlah terang, cahaya bintang, bulan purnama.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Post Top Ad

Responsive Ads Here