Hot!

Uskup Oscar Romero, Santo Pelindung Kaum Miskin

Tak lama  lagi, umat Kristiani  akan merayakan hari kelahiran Yesus Kristus (Natal). Yesus Krsitus adalah figur yang diyakini oleh umat Kristen sebagai juru selamat dunia dan pembebas manusia dari kuasa ‘dosa’. Kristus datang ke dunia ini untuk membebaskan manusia dari dosa melalui sebuah proses penebusan yang perih, yakni siksaan dan penyaliban, untuk kemudian bangkit dari maut dan berseru pada jagad agar mengimani Sang Anak (Kristus) demi memperoleh jalan menuju Allah  Bapa.
Namun, bagi sebagian umat Kristiani, Kristus datang ke dunia ini bukanlah semata berdimensi spiritual, namun juga memiliki misi yang lebih luas lagi. Menurut mereka,  ketika hidup di dunia, Kristus melakukan praksis pembebasan manusia dari belenggu sistem sosial, politik dan ekonomi yang menindas. Demikianlah makna kedatangan Kristus bagi sebagian pemuka agama Kristiani (Katolik) di Amerika Latin, yang kemudian menggagas konsepsi “Teologi Pembebasan” pada dekade 1970-an.
Teologi Pembebasan merupakan ajaran sosial gereja yang diusung para rohaniwan progresif  Katolik di Amerika Latin untuk menginterpretasikan situasi obyektif masyarakat yang saat itu dikuasai oleh rezim otoriter dan junta militer yang disokong oleh kekuatan imperialis Amerika Serikat (AS) dan kapital Internasional. Dari interpretasi tersebut, maka didapatlah suatu konklusi agar gereja Katolik harus berpihak pada kepentingan rakyat miskin yang tertindas oleh sistem ekonomi dan politik yang berlaku. Konsukuensi dari keberpihakan ini ialah terbukanya arena konfrontasi antara pihak gereja dan rezim berkuasa. Pada titik inilah, seorang Uskup  Agung San Salvador, Mgr Oscar Arnulfo Romero, memposisikan dirinya.  Posisi itulah yang akhirnya mendatangkan konsekuensi  serupa dengan yang dialami Kristus: kematian akibat kebrutalan rezim berkuasa.
Menjadi Martir
El Salvador  merupakan sebuah negara yang berbasiskan pada sistem produksi pertanian dengan komoditi utamanya adalah kopi. Sejak abad 16, negeri ini menjadi wilayah koloni Spanyol. Setelah abad 19, secara berturut-turut El Salvador menjadi koloni Guatemala dan Meksiko, hingga akhirnya memperoleh kemerdekaan penuh pada tahun 1839.
Seperti Indonesia, kemerdekaan yang diperoleh El Salvador tidak membuat sistem ekonomi kolonial terlikuidasi. Bahkan, memasuki dekade 1970-an, Elsalvador dicengkram oleh kekuasaan pemerintahan kanan yang militeristik dan berperan sebagai ‘centeng’ tuan tanah dan pemilik modal. Negeri setengah feodal dan setengah kapitalis ini  dikendalikan oleh pemerintahan militer yang berfungsi mengunci sistem yang timpang nan menindas tersebut. Salah satu bukti ketimpangan tersebut adalah dikuasainya 95% dari pendapatan negara (terutama dari perdagangan kopi)  oleh  hanya 2% dari populasi. Sementara 5% nya diperebutkan oleh mayoritas rakyat miskin Elsalvador:  buruh dan tani. Tidak  berbeda jauh dengan kondisi bangsa Indonesia kini.
Situasi ini menimbulkan kemarahan kaum tani yang kemudian berhimpun dalam wadah organisasi gerilya Farabundo Marti Front Pembebasan Nasional  atau FMLN yang bertendensi Marxis. Keberhasilan revolusi Kuba dan Sandinista di Nikaragua menambah militansi bagi para gerilyawan FMLN untuk meletuskan Revolusi di El Salvador. Namun, rezim militer merespon gejolak ini dengan brutal. Ratusan rakyat tak berdosa dibantai oleh militer dan pasuka para-militer (mirip pam-swakarsa perusahaan dalam konflik agraria Indonesia). Pater Grande adalah rohaniwan Katolik yang menjadi salah satu korban kekejian para-militer yang disewa tuan tanah. Represi rezim membuahkan perang saudara di negeri Amerika Tengah itu yang berlangsung selama 12 tahun (1980-1992).
Kebrutalan rezim sayap kanan El Salvador ketika perang saudara mendapat sokongan keuangan dan militer dari imperialis AS. Film Innocent Voices mengilustrasikan kebencian warga El Salvador terhadap tentara AS, yang ditempatkan di negeri itu guna memerangi ‘komunisme’. Dukungan AS terhadap rezim militer Ekuador ini semakin massif di era Presiden Ronald Reagen. Selain untuk melindungi kepentingan ekonominya, dukungan ini diberikan Washington dengan tujuan membendung pengaruh kekuatan kiri di Amerika Latin pasca kemenangan revolusi Kuba dan Sandinista. Sebuah sumber menyatakan bahwa AS mengirimkan bantuan 1,5 juta dolar per hari bagi pemerintah dan militer El Salvador selama perang saudara. Mirip seperti yang terjadi di Indonesia pada masa rezim Orde Baru.
Dalam situasi seperti inilah Mgr Óscar Romero y Arnulfo Galdámez (15 Agustus 1917 – 24 Maret 1980) diangkat menjadi uskup keempat dari Gereja Katolik El Salvador. Keberpihakannya pada rakyat miskin El Salvador yang tertindas muncul setelah pembunuhan sahabatnya,  Pater Rutilio Grande, yang tewas ditangan para-militer. Rezim sayap kanan,  partai ARENA (Aliansi Nasionalis Republikan), yang didirikan oleh seorang militer bernama mayor tentara Roberto D’Aubuisson,  menuding Pater Grande membela kaum komunis. Namun Uskup Oscar Romero meyakini bila perjuangan yang dilakukan oleh Pater Grande  berbasiskan  ajaran dan praksis pembebasan yang berakar dari iman kepada  Yesus Kristus.
Uskup Romero pun mengikuti jejak sahabatnya untuk mengambil posisi berseberangan dengan pemerintahan ARENA. Sebuah pilihan yang sangat beresiko!  Melalui berbagai pidato maupun homilinya ketika misa (ibadat Katolik), sang uskup mengeluarkan kritikan-kritikan pedas pada rezim militer yang brutal pada rakyatnya sendiri, terutama kepada kaum tani,  tetapi sangat ramah terhadap tuan tanah, pemilik modal dan kapitalis asing. Oscar Romero pernah berkata: “Kristus sedang ‘tersalib’ bersama-sama rakyat El Savador yang menderita dan tertindas. Maka bagi siapapun yang mengimani Kristus, seharusnya merasa terpanggil untuk  membasuh peluh dan darah yang mengucur dari  luka rakyat El Salvador, bagaikan usapan seorang wanita Yerusalem terhadap wajah Yesus yang penuh dengan luka ketika memanggul salib menuju Golgota.”
Dan usapan  yang dilakukan Uskup Oscar Romero terhadap luka rakyat El Salvador  dimanifestasikannya melalui keberpihakan  yang nyata bagi rakyat miskin. Selanjutnya, Uskup Oscar Romero malah mengikuti jejak Kristus yang tersalib. Ia pun menjadi martir kebenaran dan kemerdekaan ketika ditembak oleh aparat militer saat memimpin misa di gerejanya.
Pasca kematiannya, pemberontakan rakyat makin keras, namun rezim berkuasa pun semakin brutal. Kalangan advokat HAM mencatat 75.000 orang tewas selama perang saudara El Salvador,  dan sebagian besar diantara mereka adalah rakyat sipil pedesaan yang dimusnahkan bersama desanya oleh militer dan pasukan algojo tuan tanah.
Kini, uskup Oscar Romero dianggap oleh umat Katolik dan warga El Salvador sebagai santo pelindung  kaum miskin Amerika Latin dan El Salvador, atau sering disebut juga “San Romero”. Secara politis, pengakuan akan perjuangan uskup Romero pun semakin kuat tatkala Mauricio Funes, seorang anggota FMLN, terpilih sebagai Presiden El Salvador pada tahun 2009 lalu.
“Martir kita Uskup Romero telah mengatakan bahwa Gereja di El Salvador hanya mempunyai satu pilihan, yaitu keberpihakan kepada kaum miskin. Selama masa pemerintahan saya, orang-orang yang menderita dan terbuang akan menjadi prioritas”, demikian dikatakan sang Presiden dalam peringatan 29 tahun kematian uskup Oscar Romero pada tahun 2009 lalu. Terpilihnya Mauricio Funes sebagai Presiden El Salvador mengakhiri puluhan tahun pemerintahan ARENA yang berhaluan kanan serta memperpanjang deretan nama pemimpin berhaluan kiri di Amerika Latin pada abad 21.
Saksi Kristus Sejati
Di kalangan rohaniwan Katolik Indonesia, kita mengenal nama-nama seperti  alm.Romo Mangunwijaya, Romo Sandyawan, dan Romo Yohanes Gani. Mereka konsisten menjadi pembela kaum Marhaen yang dikebiri hak-hak ekonomi dan politiknya. Mereka adalah para rohaniwan yang lebih memilih posisi ‘berbahaya’ daripada posisi ‘nyaman’ sebagai pemberi justifikasi bagi kekuasaan  yang menindas.
Perjuangan dan kemartiran uskup Oscar Romero sudah selayaknya menjadi inspirasi bagi umat Katolik dan Kristiani pada umumnya di Indonesia untuk bahu membahu mewujudkan iman kepada Kristus dalam dunia nyata. Yang dimaksud dengan dunia nyata ini adalah kondisi obyektif masyarakat Indonesia yang kini dibelit problem hampir mirip dengan apa yang dihadapi masyarakat El Salvador. Tunduknya aparatur negara dan militer terhadap kepentingan pemilik modal asing maupun nasional serta brutalitas yang dilakukan terhadap petani dan buruh seperti yang tampak dalam kasus Freeport serta ratusan konflik agraria di negeri ini, merupakan ladang subur bagi mereka yang mengklaim diri sebagai pengikut Kristus untuk memanifestasikan iman mereka melalui praksis pembelaan kaum miskin. Seperti Uskup Oscar Romero yang telah memilih jalan hidup sebagai saksi Kristus yang sejati.
Demikianlah seharusnya perayaan Natal kini dimaknai. Natal sebagai refleksi hadirnya Kristus Sang Pembebas, yang mematahkan belenggu penindasan bagi kaum miskin.
HISKI DARMAYANA
Penulis adalah kader Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia Cabang Sumedang dan alumni Antropologi Universitas Padjajaran

0 komentar:

Posting Komentar

Diberdayakan oleh Blogger.