Catatan Diskusi Kondisi Masyarakat Paniai - WENAS KOBOGAU

WENAS KOBOGAU

Percikan Bunga Api Untuk West Papua

Header Ads

test banner

Breaking

Home Top Ad

Responsive Ads Here

Post Top Ad

Responsive Ads Here

Senin, 05 Juni 2017

Catatan Diskusi Kondisi Masyarakat Paniai

Kondisi pusat kota Kabupaten Paniai, lingkungan Pasar Enarotali. sumber foto: Tabloidjubi

*Diskusi dengan Beberapa Mahasiswa Asal Paniai. Beberapa teman yang sempat kami duduk bercerita, adalah ada mahasiswa yang sudah lama di Jawa, dan ada mahasiswa yang baru mau mendaftarkan diri di Universitas.

* Kondisi paniai sendiri, Bupati, atasnama pemerintah telah banyak membentuk kelompok-kelompok desa, distrik berdasarkan golongan darah/famili. Juga penempatan tugas dinas, kepala staf dan perkantoran, juga terlihat mengutamakan keluarga, famili, marga, dll, tanpa melihat profesi dan kemampuan induvidu.

* Pada intinya, keberadaan sosial masyakarat Paniai sangat memprihatinkan. Mengapa? Karena kehadiran sistim pemerintah dijadikan alat kekuasaan marga atau keluarga untuk, juga untuk kepentingan pribadi, sehingga sangat memprihatikan itu adalah masalah pendidikan, kesehatan, ketergantungan (ekonomis), adat istiadat dan kebudayaan, dan, hasil pengamatan kawan, kondisi paniai telah mencermikan masyarakat yang telah hilang jatih diri, reruntuhan budaya, transposisi budaya lama ke baru, sehingga hal itu juga yang mengakibatkan keprihatinan.

* Kondisi sistim pemerintahannya, para PNS pun tak pernah aktif dalam aktivitas perkantoran.

* Kondisi kaun terpelajar, kaum terdidik, juga sangat berbuntuh ide. Ketika pulang dari sekolahaan, mereka semakin diam di tanah air, diatas kondisi masyarakat yang seperti itu.

* Kemudian keberadaan militer sendiri dapat banyak ditemukan dimana-mana. Justru jumlah penduduk orang asli paniai labih sedikit daripada jumlah TNI yang semakin bertambah pasukan dalam jumlah yang bersar.

* Praktek militeristik sangat terlihat jelas dapat dirasahkan oleh masyarakat. Hal tersebut, amati dari keberadaan masyarkat yang sangat terjajah psikologi, mentalitas, juga keresahan keberadaan masyarakat. Mereka sangat pandai menciptakan konflik.

* Paniai belum berkembang karena, setelah kebiasan lama, tradisi-tradisi lama dihancurkan dan telah hilang arah, justru para birokrat pun tak menjalankannya dengan baik; dan malah memanfaatkan posisinya di Pemerintahan untuk kepentingan Pribadi; tanpa melihat, memahami kondisi masyarakat paniai.

* Tingkat perkembangan generasi muda papua dan jumlah kelahiran semakin buruk. Juga semakin meningkat Penyakit HIV/AIDS.

* Persoalan perekonomian juga dapat dikendalikan oleh pedagang non Papua. Misalnya Pasar yang didominasi barang dagang dari luar, dan monopoli tempat penjualan yang layak. Mama-mama pasar Papua hanya mendapatkan tempat di emperan warung dan kios; berjejeran diatas aspal jalan, dll.

* Permainan togel juga dapat memusatkan peratihan kerja-kerja masyarakat beralih semakin ketergantungan.

*Perkotaan yang telah tersediah hal-hal baru, modern, budaya modern, semakin menarik peratihan masyarkat ke kota. Dan, ternyata, lebih banyak masyarakat yang beredar di perkotaan tanpa tujuan yang jelas dan mengabiskan waktu yang cukup lama. (Jhe, 04 Juni 2017)
@Kayu_Bakar

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Post Bottom Ad

Responsive Ads Here

Laman