Coding II : Mati Misterius di Papua - WENAS KOBOGAU

WENAS KOBOGAU

Percikan Bunga Api Untuk West Papua

test banner

Breaking

Post Top Ad

Responsive Ads Here

Post Top Ad

Responsive Ads Here

Rabu, 18 Oktober 2017

Coding II : Mati Misterius di Papua

Oleh : Jhon Gobai

Mati misterius adalah penggabungan dua kata yang non predikat atau frasa. Mati Misterius dijelaskan secara harfiah yakni mati tanpa sebab-akibat. Atau sulit dijelaskan. Atau sangat rahasia. Nah, Mati Misterius yang sering terjadi di Papua, sangat sulit diidentifikasi oleh siapa pun di Papua. Mau Polda Papua, Dewan Perwakilan (Pemerintahan Kolonial) Rakyat Papua, Rumah sakit, serta lembaga apa pun. Sepanjang ini saya belum baca data hasil teliti atau indentikasi kasus “Mati Misterius” dari lembaga mana pun. Artinya, benar kata Solemat Itlay (dalam artikelnya yang dipubliskan di situs thepapuan.blogspot.com) bahwa orang papua punya struktur pola kematian, yakni mati misterius. Hanya Tuhan yang tahu. Orang Papua dikagetkan dengan tabrak lari, penemuan tubu manusia dalam keadaan mati dimana-mana. Meraka yang memakai kacamata “bim salabim” sajalah mampu melihat.
“Mati Misterius” menurut Soleman Itlay (baca di thepapuan.blogspot.com) adalah kematian bagi orang Papua yang diakibatkan karena, pertama, persitiwa tabrak lari. Tabrak lari sering terjdi di Papua. Peristiwa ini bisa terjadi siang dan malam. Metodenya, entah sengaja atau tak sengaja, ada penabrak dan ada pula tertabrak. Ceritanya pelaku, bisa saja, datang dari depan dan dari belakang. Kemudian disenggol atau ditabrak, kemudian pelaku melarikan diri. Rata-rata, dari setiap peristiwa, informasi yang beredar di Media social (fesbuk, tweeter, instagram, dll.), gambar/foto menujukan bahwa orang Papua selalu menjadi korba. Sepanjang ini belum pernah ada non Papua atau elit Papua Papua yang menjadi korban.
Pelaku tabrak lari tak mampu di ungkapkan oleh pihak yang berwajib, dalam hal ini Polisi—walau pos-pos penjagaan (TNI maupun Polisi jaraknya berdekatan)—hanya menjadi tangisan dan duka keluarga korban dan kesaksian hati bagi makluk pemilik tanah West Papua, Rakyat Bangsa Papua Barat.
Kedua adalah Mati karena dibunuh. Berita di fesbuk, pada 15 Oktober 2017 (oh, iya, setelah semua media sirkulasi informasi tentang papua dihekc oleh Kemenkominfo RI, satu-satunya media sumber berita/info tentang Papua adalah Fesbuk. Maka, Negara Kolonial Indonesia mau bilang HOX tentang sumber coding saya, juga trapapa. Itu Versi Anda) ramai berbagai, berkomenter soal seorang Pemuda, Alexs Sambon, yang ditemukan dalam kondisi tak bernyata di Perumnas 3, Waena, Jayapura Papua. Foto/gambar yang bererdar, Alex terlentang dalam keadaan tak berpakaian. Kemudian, ada luka memar di bagian telinga (masih terlihat sisah-sisah darah) dan tanda kemerahan di bagian dada dan bahu (sepertinya tubuhnya bersentuhan dengan benda lain. Benda tersebut memiliki kecepatan dan tekanan lebih dari rata-rata.) Alexs dibawa ke Rs. Bayangkara (entah untuk otopsi atau mau diapakan. Karena sampai detik ini belum ada informasi hasil otopsi dari media tentang kematian Alex).
Kasus serupa itu sering terjadi. Sudah menjadi biasa saja bagi orang Papua. Namanya juga mati misterius. Biasa mati. Mati tanpa sebab-akibat. Polisi pun tak mampu menangani kasus-kasus seperti ini. Walau pun, setiap tahun ada penambahan Militer (TNI/Polri) ke Papua. Kalau Inteling aktivitas pejuang keadilan manusia Papua, aktivis, kerjanya 24 jam (siang dan malam). Bikin pos penjagaan Polisi sangat berdekatan. Struktur Barisan Inteligen berlapis-lapis sampai didalam selimut rumah. Tapi untuk selidiki kasus “mati Misterius”, sulitnya minta ampun bagi mereka. Namanya juga Mati Misterius.
Beda halnya dengan Lembaga kehatan, mulai dari Mentri sampai dengan Dinas Kesehatan yang beraktivitas dilapangan melayani masyarakat yang sakitnya penuh misterius. Hal ketiga adalah kematian misterius karena sakit misterius. Misalnya Kematian 48 Orang di Yahukimo; Kematian 27 Bayi dan Anak di Kabupaten Nduga karena diserang virus mematikan. Atau kematian 56 anak di Deiyai karena diserang serampa. Atau 74 anak yang meninggal di Nduga pada tahun 2015.
Pihak Lembaga kesehatan hanya mampu mengungkapkan bahwa kematian karena virus mematikan, atau serampa, atau karena pengaruh pola hidup, dan sebagainya. Berhenti sampai disitu. Tak pernah ada upaya penanganan untuk mencegah agar Manusia Papua selamat/tak mati diatas lumbung emas.
Hal lain, misalnya, kasus kematian karena penyakit HIV/AIDS. Setiap tahun dinas kesehatan dan lembaga atau DINAS terkait hanya mampu menunjukan data statistic jumlah penderita di Papua. Tapi sampai hari ini belum pernah menjelaskan penyakit itu darimana? Bila dari Africa, bagaimana ceritanya bisa sampai di Indonesia; dan dalam data statistic, Papua rengking pertama dari banyaknya penderita. Penyebarannya lebih cepat.
Diatas ini adalah realita “Mati Misterius di Papua. Mengapa itu bisa terjadi, sekali lagi hanya Tuhan yang tahu, dan mungkin orang yang menggunakan cata mata “Bim salabim” sajalah yang mampu melihat dan mengungkapkan dalam katamatanya.
Kok, bisa? Lalu, bagimana orang Papua bisa membuktikan hal tersebut adalah bagian dari Penjajahan (Genosida)? Bersambung di coretan Dinding ( Coretan dinding) III.@06/10/2017

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Post Top Ad

Responsive Ads Here