Uang Sebagai Pengendali Orang Papua - WENAS KOBOGAU

WENAS KOBOGAU

Percikan Bunga Api Untuk West Papua

test banner

Breaking

Post Top Ad

Responsive Ads Here

Post Top Ad

Responsive Ads Here

Minggu, 19 November 2017

Uang Sebagai Pengendali Orang Papua

Ilustrasi (Foto,News | Metrotvnews.com - Metro TV)
Oleh: Arnold Ev. Meaga 

GAMBARAN UMUM TENTANG UANG
Uang dalam ilmu ekonomi tradisional didefinisikan sebagai setiap alat tukar yang dapat diterima secara umum. Alat tukar itu dapat berupa benda apapun yang dapat diterima oleh setiap orang di masyarakat dalam proses pertukaran barang dan jasa. Dalam ilmu ekonomi modern, uang didefinisikan sebagai sesuatu yang tersedia dan secara umum diterima sebagai alat pembayaran bagi pembelian barang-barang dan jasa-jasa serta kekayaan berharga lainnya serta untuk pembayaran hutang. Beberapa ahli juga menyebutkan fungsi uang sebagai alat penunda pembayaran. Secara kesimpulan, uang adalah suatu benda yang diterima secara umum oleh masyarakat untuk mengukur nilai, menukar, dan melakukan pembayaran atas pembelian barang dan jasa, dan pada waktu yang bersamaan bertindak sebagai alat penimbun kekayaan.
 
Keberadaan uang menyediakan alternatif transaksi yang lebih mudah daripada barter yang lebih kompleks, tidak efisien, dan kurang cocok digunakan dalam sistem ekonomi modern karena membutuhkan orang yang memiliki keinginan yang sama untuk melakukan pertukaran dan juga kesulitan dalam penentuan nilai. Efisiensi yang didapatkan dengan menggunakan uang pada akhirnya akan mendorong perdagangan dan pembagian tenaga kerja yang kemudian akan meningkatkan produktifitas dan kemakmuran.

Pada awalnya di Indonesia, uang —dalam hal ini uang kartal— diterbitkan oleh pemerintah Republik Indonesia. Namun sejak dikeluarkannya UU No. 13 tahun 1968 pasal 26 ayat 1, hak pemerintah untuk mencetak uang dicabut. Pemerintah kemudian menetapkan Bank Sentral, Bank Indonesia, sebagai satu-satunya lembaga yang berhak menciptakan uang kartal. Hak untuk menciptakan uang itu disebut dengan hak oktroi.

UANG MENGATUR ORANG PAPUA
Orang-orang Papua pada hakikatnya bisa dan gampang untuk di atur oleh siapapun dengan menggunakan alat yang satu ini “Uang”,  karena uang dapat memenuhi kebutuhan umat manusia dari kekurangan-kekurangan manusia itu sendiri. Dalam hal ini sejak wilayah Indonesia bagian timur itu (Papua), di berikan otonomi khusus (Desentralisasi) dan mulai berjalannya otonomi khusus tersebut atas semua rakyat Papua, pada saat itu pula sikap orang-orang Papua berubah secara absolut. Beruba dalam hal politik, ekonomi, Sosial Budaya dan lain-lainnya, sebab setelah mulai berjalannya otonomi khusus tersebut pergolakan politik, ekonomi, sosial budaya berubah pulah atas semua rakyat bangsa  Papua. 

Dalam berpolitik, pada khususnya untuk proses pemilihan Gubernur, Bupati, dan lain-lain untuk wilayah Indonesia bagian timur itu berjalan tidak berbeda pula dengan system politik oportunisme. Jika ingin menang bersaing dalam hal politik untuk wilayah Papua dalam rangka memenangkan suatu jabatan strategis, maka yang harus di lakukan ialah dengan menggunakan metode politik oportunisme. Dan hal itu nyata dan sudah berlangsung bahkan sudah menjadi kebiasaan untuk merai kemenangan dalam berpolitik itu sendiri.

Dalam ekonomi, untuk wilayah Papua yang merasakan kemakmuran dalam ekonomi, keadilan dalam ekonomi dan damai dalam ekonomi, berjalan secara horizontal hanya bagi kaum oligarki semata yang sedang berdomosili di wilayah Indonesia bagian timur itu (Papua). Sebab dalam hal ekonomi atas masyarakat Papua, hampir sebagian besar masyarakat akar rumput hidup tergantung pada pemerintah tidak lagi pada usaha-usaha mereka sendiri. Oleh karena hal ketergantungan tersebut lah yang memaksa seluruh masyarakat Papua untuk menjadi manusia yang muda untuk di atur dan di kendalikan. Sebab masyarakat Papua gampang dalam melakukan hal-hal destruktif demi tercapainya kebutuhan ekonomi keluarga, kelompok, golongan dan sebagainya. Hal tersebut di sebabkan oleh dampak ketergantungan dalam hal ekonomi itu sendiri.

Dalam sosial budaya, kehidupan masyarakat Papua dalam ekonomi, politk, sosial budaya, kesatuan dan persatuan etnis yang heterogen dan lain-lain, dalam hal ini seluruh masyarakat Papua dalam menjalankan kehidupan sehari-hari dalam aspek kehidupan apapun itu, berjalan secara baik-baik saja adapun hal-hal yang tidak baik-baik saja kerap terjadi dalam sosial budaya masyarakat Papua seluruhnya, namun hal tersebut tidak terjadi dalam jangka waktu yang panjang (lama). Sebab dalam kehidupan masyarakat Papua secara turun-temurun, generasi ke generasi dalam sosial dan budaya berjalan secara natural. Oleh karenanya hal-hal yang mengarah pada sifat destruktif pada sosial budaya masyarakat Papua jarang untuk di temui bahkan tidak dapat terjadi atas semua rakyat Papua. Tetapi ketika kedatangan kolonialisme (Indonesia) atas bumi Papua pada 1962 barulah terjadi vegetasi dalam sosial budaya rakyat Papua yang dulunya berjalan secara natural menjadi tidak natural lagi. Dan pada akhirnya banyak terjadi kecemburuan sosial budaya antara rakyat pribumi denagan non-pribumi dalam jangka waktu yang panjang pula. Dan persoalan tersebut jika saja akan di konservasikan oleh pemerinta, namun tindakan konservasi tersebut tidak dapat bertahan dalam jangka waktu yang lama. Sebab dalam sosial budaya tersebut telah tervegetasi budaya sosial dari dua bangsa yang pada hakikatnya beda Ras dan beda pula dalam menjalankan kebiasaan-kebiasaan sosiala budayanya.

UANG MENDATANGKAN KEMATIAN BAGI ORANG PAPUA
Uang tidak menciptakan manusia Papua, uang menciptakan ketidak adilan atas orang Papua, uang menciptakan pertikaian antara sesama orang Papua, uang menciptakan kecemburuan sosial orang-orang Papua dengan orang-orang pendatang, uang menciptakan perang antara orang Papua dengan orang Papua, uang menciptakan penyakit pemusna masal/pemusna etnis Melanesia (Papua), singkat cerita uang menciptakan destruktifitas atas seluruh manusia Papua. Oleh karenanya secara empiris, sadar tidak sadar uang tersebutlah yang akan membunuh orang-orang Papua. Sebab pada hakikatnya kebanyakan pergolakan yang kerap terjadi atas Papua di sebabkan oleh uang, karena uang lah yang berkuasa di dunia ini setelah Tuhan sang pencipta alam semesta.

UANG SEBAGAI TUHAN BAGI BORJUASI LOKAL PAPUA
Borjuis (kata sifat: borju) dalam sosiologi dan ilmu politik menggambarkan berbagai kelompok di seluruh sejarah. Dalam dunia Barat, di antara akhir abad pertengahan dan saat sekarang, kaum borjuis adalah sebuah kelas sosial dari orang-orang yang dicirikan oleh kepemilikan modal dan kelakuan yang terkait dengan kepemilikan tersebut. Mereka adalah bagian dari kelas menengah atau kelas pedagang, dan mendapatkan kekuatan ekonomi dan sosial dari pekerjaan, pendidikan, dan kekayaan. Hal ini dibedakan dari kelas sosial yang kekuasaannya didapat dari lahir di dalam sebuah keluarga aristokrat pemilik tanah yang bergelar, yang diberikan hak feodal istimewa oleh raja/monarki. Kaum Borjuis muncul di kota-kota yang ada di akhir zaman feodal dan awal zaman modern, melalui kontrol perdagangan jarak jauh dan manufaktur kecil. Kata borjuis dan borju berasal dari bahasa Perancis, yang berarti "penghuni-kota" (dari Bourg, bdk. Bahasa Jerman Burg).

Dengan mengacu pada indikator tentang borjuasi itu sendiri, asumsi kaum borjuasi local di Papua yang berasal dari orang-orang Papua dan orang-orang pendatang bahwa uang adalah hal yang sangat fundamental. Oleh karena uang, apapun yang mereka inginkan akan dengan mudah di rai olehnya. Oleh sebab itu betapa pentingnya uang di mata mereka di bandingkan Tuhan. Terkadang mereka kelompok/ kaum borjuasi berasumsi bahwa uang lah yang harus di utamakan dan bagaimana caranya mendatangkan uang tersebut atas mereka, barulah nanti mereka berpikir masalah Tuhan. Sebab kaum borjuasi tidak akan pernah memikirkan hal-hal yang beraroma dokma, karena mereka memiliki apa yang tidak di miliki oleh orang lain dalam hal kekayaan. Terkecuali kaum borjuasi tersebut bangrut dari kesemua yang di miliki olehnya sendiri, barulah mereka akan bersandar dan memikirkan masalah Tuhan, singkatnya menyerakan kehidupan mereka kepada Tuhan alias bertobat. Oleh kerena uang itulah kaum borjuasi local di Papua dapat menciptakan kekuasaan atas dirinya sendiri, oleh karena itu, uang adalah TuhanNya kaum borjuasi, oleh karena uang itulah yang akan memenuhi keperluan dan kebutuhan mereka dalam hal apapun yang mereka butuhkan dan inginkan.

UANG MENCIPTAKAN REVOLUSI DALAM PERJUANGAN KEMERDEKAAN BANGSA PAPUA BARAT
Revolusi adalah perubahan sosial dan kebudayaan yang berlangsung secara cepat dan menyangkut dasar atau pokok-pokok kehidupan masyarakat. Di dalam revolusi, perubahan yang terjadi dapat direncanakan atau tanpa direncanakan terlebih dahulu dan dapat dijalankan tanpa kekerasan atau melalui kekerasan. Ukuran kecepatan suatu perubahan sebenarnya relatif karena revolusi pun dapat memakan waktu lama. Misalnya revolusi industri di Inggris yang memakan waktu puluhan tahun, namun dianggap 'cepat' karena mampu mengubah sendi-sendi pokok kehidupan masyarakat —seperti sistem kekeluargaan dan hubungan antara buruh dan majikan— yang telah berlangsung selama ratusan tahun. Revolusi menghendaki suatu upaya untuk merobohkan, menjebol, dan membangun dari sistem lama kepada suatu sistem yang sama sekali baru. Revolusi senantiasa berkaitan dengan dialektika, logika, romantika, menjebol dan membangun. 

Oleh kerena itu untuk rakyat Bangsa Papua juga dapat melakukan revolusi dengan metode-metode agresif dan tidak pula, dalam mengimplementasikan perjuangan sejati yang sedang di perjuangkan oleh rakyat Bangsa Papua itu sendiri, yaitu tidak lain tidak bukan ialah merdeka, dan bebas sepenuh-penuhnya dari cengraman bangsa penjajah kolonialisme Indonesia, imperialisme dan kapitalisme biadap alias si lintah darat. Dalam hal ini perjuangan tanpa danah (uang) perjuangan pun tak dapat terlaksana dengan baik, sebab uang dapat melengkapi dan memenuhi kebutuhan-kebutuhan akan perjuangan itu sendiri dari ketiadaan menjadi ada. Oleh sebab itu uang sangat penting dalam perjuangan kemerdekaan bangsa Papua menuju ideal yang di harapkan (Merdeka) oleh bangsa Papua itu sendiri. Namun dalam hal perjuangan, kontribusi kaum borjuasi local, masyarakat, gereja-gereja ataupun rakyat akar rumput dalam memberikan bantuan dalam bentuk uang, guna untuk mengimplementasikan perjuangan kemerdekaan sangat kurang di perhatikan oleh semua rakyat bangsa Papua. Sebab factor uang (danah) juga dapat mempengaruhi kerja-kerja perjuangan, dan uang itu adalah problem yang dapat pula menghambat perjuangan. Agar ada bantuan uang (Dana) dari semua rakyat akar rumput maka, stratak yang di butuhkan ialah dengan cara membangun revolusi mental terkait perjuangan itu sendiri, melalui agitasi dan propaganda secara lisan, umum dan konkrit terhadap semua rakyat bangsa Papua yang ada.

Sumber Reverensi:
https://id.wikipedia.org/wiki/Borjuis,
https://id.wikipedia.org/wiki/Revolusi.

Sumber : Klik Disini

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Post Top Ad

Responsive Ads Here