Membedakan Komunisme dan Marxisme - WENAS KOBOGAU

WENAS KOBOGAU

Percikan Bunga Api Untuk West Papua

test banner

Breaking

Post Top Ad

Responsive Ads Here

Post Top Ad

Responsive Ads Here

Rabu, 10 Januari 2018

Membedakan Komunisme dan Marxisme

Karl Marx & Vladimir Lenin
Yang dimaksud dengan era politis Marxisme adalah saat-saat pemikiran Karl Marx ditafsirkan dan diejawantahkan dalam kehidupan politik. Setidaknya, penafsiran atas pemikiran-pemikiran Marx tersebut dapat dibagi ke dalam dua bentuk: pertama, penafsiran harafiah; kedua, penafsiran yang tidak harafiah.
Penafsiran model pertama mengacu pada tokoh Lenin. Olehnya, cita-cita pemikiran Karl Marx ditempuh melalui jalan revolusioner. Dalam kerangka itu, penggunaan berbagai macam cara, termasuk kekerasan, dihalalkan. Penafsiran model tersebut banyak dijumpai di Eropa belahan timur.
Sedangkan penafsiran model kedua lebih dikenal dengan istilah “Sosial Demokrat”. Istilah tersebut bermaksud menggapai cita-cita pemikiran Karl Marx dengan jalan demokratis, bukan revolusioner. Penafsiran model tersebut banyak dijumpai di Eropa belahan barat.
Di bawah ini penjelasan singkat mengenai penafsiran model pertama, yakni penafsiran harafiah atas Marxisme (Marxisme Revolusioner). Mengapa penafsiran itu perlu untuk dibahas? Jawabannya jelas. Penafsiran inilah yang membantu kita untuk memisahkan antara Marxisme dengan Komunisme.
Marxisme-Leninisme
Teori Marxisme mendapat realisasinya di dalam Revolusi Oktober yang dilancarkan oleh Lenin dengan Partai Bolshevik. Marxisme disesuaikan dengan kebutuhan revolusi, dikawinsilangkan dengan ajaran Lenin mengenai revolusi dan sosialisme, sehingga melahirkan ajaran Marxisme-Leninisme atau yang lebih dikenal dengan Komunisme.
Revolusi ala Lenin tidak dapat kita samakan begitu saja dengan revolusi menurut Marx. Lenin adalah pewaris tradisi revolusioner aktifis radikal kaum Nechajev dan Tkachov. Komunisme merupakan suatu sistem yang ketat dan memiliki tujuan politik tertentu, yaitu perebutan kekuasaan dan penghapusan ekonomi swasta. Untuk merebut kekuasaan itu, komunisme mensyaratkan dua hal, yaitu gerakan massal dan aksi revolusioner bersenjata.
Gerakan massal dan aksi revolusioner bersenjata tersebut diwadahi dalam sebuah partai garis depan. Dengan partai garis depan ini, Lenin tidak hanya bermaksud merebut kekuasaan, tetapi juga mengenyahkan sistem kapitalisme. Partai ini beranggotakan para profesional dan intelektual yang selalu mengedepankan ideologi partai lebih daripada kebahagiaan individual.
Sistem Partai Bolshevik adalah Sentralisme-Demokratis, yaitu partai yang terorganisasi dengan ketat, sentralis, dan terdiri dari para ahli revolusi. Bersifat demokratis sejauh para anggota partailah yang memilih wakil-wakilnya untuk kongres partai, dan kongres partai inilah yang memilih pimpinan partai (komite sentral). Bersifat sentralis sejauh komite sentral ini memiliki hak memerintah yang mutlak dan keputusannya mengikat.
Ketika pada tahun 1917 Partai Bolshevik meraih kekuasaan di Rusia, partai itu segera menjadi partai garis depan, memimpin pergerakan kelas proletariat sebagai Diktator Proletariat. Pada tahun 1918, Partai Bolshevik berubah nama menjadi Partai Komunis.
Diktator Proletariat sendiri terwujud di dalam soviet-soviet. Namun, setelah segala kekuatan anti-Bolshevik ditumbangkan, Lenin meniadakan otonomi soviet-soviet itu. Itulah sebabnya Uni Soviet sesudah revolusi Oktober berkembang menjadi negara yang tidak demokratis.
Perkembangan Marxisme-Leninisme
Setelah kegagalan Marx dalam mengusung mimpi-mimpinya untuk membentuk komunisme dunia dengan kesetaraan kelas, komunisme tidak mati, melainkan bertransformasi menjadi sebuah ideologi (yang oleh Marx sendiri dimusuhi) yang lebih bersifat teritoris dan kenegaraan, yang lebih dikenal dengan istilah Komunisme Ortodoks.
Salah seorang tokoh yang sangat berperan aktif dalam transformasi ini adalah V.I. Lenin dan Joseph Stalin. Mereka berhasil mengubah wajah Komunisme Marx dengan mimpi-mimpi mereka dan menanamkan ideologi tersebut di wilayah pemerintahan mereka di Uni-Soviet.
Henry J. Schmandt, seorang profesor ilmu politik di Universitas Wisconsin, Milwaukee, membagi penerus Marx menjadi tiga kelompok: revisionis, ortodoks, dan revolusioner. Dalam penjelasannya lebih lanjut mengenai pembagian ini,
Schmandt menemukan bahwa kelompok revisionis “melihat pertentangan kelas sebagai faktor perkembangan sejarah, tetapi berpendapat bahwa pertentangan tersebut telah berkurang intensitasnya. Kelompok ini juga menyangkal keyakinan akan "perubahan membawa bencana" dan berusaha membawa marxisme ke arah yang lebih demokratis” (Sosial Demokrat).
Kelompok yang kedua adalah kelompok ortodoks. Para marxis ortodoks menerima hampir secara penuh premis-premis ekonomi dan politik Marx. Para kaum marxis ortodoks, lanjut Schmandt, tidak bersifat revolusioner dalam praktek sekalipun teori-teori mereka sangat memberikan nuansa untuk itu.
Kelompok yang paling radikal adalah kelompok yang ketiga, yakni kelompok revolusioner. Kelompok ini menekankan pentingnya melihat pertentangan kelas dari segi politik dan penting menggunakan kekerasan untuk mencapai tujuan sosialisme .
Tampaknya para kaum revolusioner dan ortodoks semakin kehilangan pengaruh sejak abad 19 dan awal abad 20 mengingat ada banyak kegagalan Marx yang perlu direvisi seiring perkembangan zaman. Setidaknya, ada dua hal dari doktrin Marx yang nyata-nyata keliru.
Pertama, ramalan tentang kehidupan para proletariat yang akan semakin ditenggelamkan oleh para kaum kapitalis. Fakta menunjukkan bahwa kehidupan para buruh semakin membaik sejak saat meninggalnya Marx. Bahkan hubungan kekerabatan antara kapitalisme dengan sosialisme semakin hari semakin terasa.
Hal ini terbukti, misalnya, dari kenyataan bahwa seorang sosialis modern pertama adalah seorang kapitalis muda yang sangat kaya. Robert Owen (1771-1858) yang dianggap sebagai pendiri sosialisme di Inggris . Dia adalah penguasa kapital yang dicintai oleh para proletar.
Kedua, keyakinan bahwa suatu saat kaum proletar akan mengambil alih pengaruh dari kelas menengah. Rupanya doktrin ini juga tidak menunjukkan kenyataan yang sama. Justru kini kita melihat kelas menengah semakin kuat .
Ketidaksesuaian doktrin ini dengan kenyataan semakin memberikan kesadaran akan pentingnya suatu perubahan dalam Marxisme sendiri. Ada banyak sekali dinamika dalam tubuh Marxisme. Di Jerman misalnya, terhitung sejak lahirnya Evolutionary Socialism pada tahun 1899, seorang politikus Jerman, Eduard Bernstein, mengkritik habis para marxis ortodoks dan revolusioner karena menafsirkan ide-ide Marx secara terlalu harafiah.
Bernstein dengan sangat jeli melihat peluang partai Sosial Demokrat untuk melakukan pendekatan kepada kaum kapitalis demi mengusung harapan-harapan para proletar. Dengan kata lain, Bernstein menyerukan agar kaum kapitalis dijadikan sekutu dan bukan musuh.
Usaha Bernstein sempat menunjukkan hasil yang cukup memuaskan karena setelah perang dunia I, Partai Sosial Demokrat bekerja sama dengan Partai Katolik Pusat mendirikan Republik Weimar (1919 – 1933). Namun karena Bernstein terlalu bersemangat dengan misi revisionisnya, sebagian besar anggota partai yang keras memilih hengkang dan membentuk partai Komunis Jerman.
Pada perkembangan selanjutnya, Sosial Demokrat terjebak di persimpangan antara ekstrem kanan (Nazi) dan ekstrem kiri (Komunis) . Krisis politik ini berdampak langsung terhadap demokrasi di Republik Weimar dan menghantarkan Republik itu menuju fasisme yang kian mengkhawatirkan.
Seperti yang kita ketahui, Bernstein tidak berhasil membawa sosialisme ke arah demokrasi – setidaknya pada masa itu. Justru ketika Bernstein sedang gencar-gencarnya mengkampanyekan Partai Sosial Demokrat di Jerman, Rusia pecah dalam revolusi yang dipimpin oleh aliran Marxisme, Bolshevik. Kemenangan revolusi ini secara otomatis membekukan pemikiran Marx selama sekian abad dan menjadikan partai komunis Rusia sebagai satu-satunya doktrin resmi Marxisme.
Menurut Karl Kautsky, seorang marxis beraliran ortodoks yang sebagian opininya sejalan dengan Bernstein, Revolusi Rusia adalah penyimpangan dari Marxisme karena telah melakukan tindakan perampasan kekuasaan oleh minoritas. Kautsky meyakini bahwa revolusi tidak boleh dilakukan sebelum para pekerja mewakili mayoritas dan mampu memegang tanggung jawab politik.
Semua prasyarat ini diabaikan oleh Bolshevik sehingga Revolusi Rusia justru menelurkan tirani yang menakutkan. Lenin adalah contoh yang cukup meyakinkan dalam sistem ini. Lenin (1870 – 1924) menjungkirbalikkan penindasan dari diktator kapitalis menjadi diktator proletariat dengan dalih melakukan transisi politik dari masyarakat kapitalis menuju masyarakat komunis.
Namun, ternyata perubahan wajah dari komunisme Marx ke Marxisme-Leninisme di Uni-Soviet tidak berdampak positif terhadap perkembangan dunia dalam banyak bidang. Dibutuhkan sebuah perubahan yang lebih kompleks dan applicable agar lebih dapat diterima. Persoalannya, sejak meninggalnya Lenin pada tahun 1924, tidak banyak perubahan dalam paham Marxisme-Leninisme.
Para penganut Marxisme yang lebih modern berkembang dengan mulai mengambil jarak dari Leninisme dan kembali mengarahkan mukanya pada akar komunisme yang sejak awal sangat banyak mempengaruhi pemikiran Karl Marx, yakni ide-ide Hegelian.
Secara garis besar, Marx ingin mengatakan bahwa manusia adalah pembuat sejarahnya sendiri. Manusia adalah mahluk independen dan tidak terikat, apalagi dikendalikan oleh mahluk-mahluk spiritual. Marxisme dikembalikan sebagai sebuah teori filsafat yang melancarkan kritik-kritik kepada kaum kapitalis yang melakukan hegemoni: tidak hanya di bidang ekonomi, tetapi juga mencakup ranah politik dan kultural.
Catatan Akhir
Pemicu tulisan ini adalah status yang ditulis Tere Liye. Menyebut Sosialis, Marxis, dan Komunis, tanpa bekal sejarah yang cukup dapat membentuk persepsi bahwa ketiganya adalah hal yang sama.
Sosialisme muncul karena Kapitalisme. Marxisme merupakan salah satu cabang dari Sosialisme. Dan tanda kutip dalam "Komunisme" menunjuk pemikiran dan cita-cita Marx yang telah ditafsirkan, dimasukkan ke dalam konteks politik tertentu, dan dijadikan ideologi.
Perbedaan ketiganya saya rasa perlu diketahui supaya kita tidak mudah antipati tanpa sikap kritis, apalagi sampai membenci tanpa daya reflektif. Siapa yang bisa menjamin, misalnya, sila kelima dalam Pancasila kita tidak ada sangkut pautnya dengan pemikiran dan cita-cita Karl Marx?
Sumber : www.qureta.com

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Post Top Ad

Responsive Ads Here